TIGA GAYA KETUK TILU DI TATAR SUNDA

Authors

  • Eti Mulyati
  • Mas Nanu Munajar

DOI:

https://doi.org/10.26742/pib.v0i0.3132

Abstract

Ketuk Tilu di Bandung Barat tepatnya di Kampung Pasir Haur Desa Bojong Koneng, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, sejak tahun 1985 sudah jarang manggung lagi karena tidak ada yang mengundang di tempat hajatan atau selamatan pernikahan, khitanan anak maupun hiburan hajatan lainnya. Vakumnya panjak Ketuk Tilu tidak manggung atau dipertunjukan oleh karena pada saat itu munculnya tari jaipongan, sehingga kesenian tersebut tergeser popularitasnya, bahkan tersisihkan karena dianggap tidak menarik bagi kalangan kaum generasi muda. Ketuk Tilu dianggap sudah ketinggalan zaman, maka para panjak maupun ronggeng akhirnya mencari aktivitas lain untuk menyambung sumber penghasilan hidupnya di kesenian lain yang masih digemari oleh masyarakat, sehingga para pelaku kesenian Ketuk Tilu vakum dengan sendirinya. Salah satu upaya untuk mencoba menghidupkan kembali tari Ketuk Tilu yaitu melalui revitalisasi dengan cara menampilkan kembali gerak tari Ketuk Tilu beserta lagu-lagunya, serta memodifikasi penampilan secara keseluruhan seperti koreografi, karawitan, dan kostumnya. Tujuan penelitian ini untuk menghidupkan kembali Tari Ketuk tilu dengan cara merevitalisasi agar kembali hidup dan disenangi oleh masyarakat serta dapat menjadi mata pencaharian bagi para seniman pendukungnya. Sudut pandang yang digunakan dalam penelitian ini yaitu revitalisasi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis, dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menjadi insfirasi dan memotivasi masyarakat untuk berkreasi secara langsung menata tari ketuk tilu secara utuh. Kata Kunci: revitalisasi, tari ketuk tilu

Downloads

Published

2024-01-18