KAJIAN RELASI TOPONIMI DAN EKOLOGI KAWASAN CIKAMUNING DESA BOJONGKONENG KECAMATAN NGAMPRAH KABUPATEN BANDUNG BARAT
Abstract
Dalam ilmu linguistik, terdapat istilah onomastika, sebagai pisau bedah dalam menyelidiki asal usul,
bentuk, dan makna nama diri, terutama nama orang dan tempat. Onomastika sendiri memiliki cabang
ilmu yang disebut toponimi, khusus untuk menyelidiki nama tempat. Pola penamaan tempat
di wilayah kebudayaan Sunda, khususnya dalam administrasi Jawa Barat, memiliki pola keterikaitan
yang erat antara nama tempat dengan konsep ekologi atau lingkungan. Keterpengaruhan manusia oleh
lingkungannya ini bersifat dalam pandangan deterministik, satu arah dan pasti. Pengaruh atau secara
umum korelasi antara ekologi dan toponimi dalam kebudayaan Sunda memiliki kecenderungan yang
kuat di mana nama tempat selalu memiliki tautan makna/definisi dengan konsep alam dan lingkungan
hidup. Demikian pula di wilayah wilayah Bandung Barat, khususnya di Kecamatan Ngamprah, desa
Bojongkoneng, di mana ditemui sebuah kawasan bernama Cikamuning yang memiliki hubungan erat
dengan penamaan secara ekologis. Kajian relasi toponimi ekologi ini, memfokuskan diri pada persoalan
tersebut, dengan menggunakan pendekatan tafsir nama secara paradigmatik –hubungannya dengan
nama-nama lain dalam level makna yang sama—, dalam rentang waktu interaktif (sinkroni – diakroni),
dengan menekankan pendapat ahli dan peneliti (etik) dan pendapat masyarakat yang diteliti (emik; native
point of view). Dalam batasan lokus dan sudut pandang tersebut di atas, penelitian ini mendalami
penamaan tersebut sehubungannya dengan keadaan ekologi di kawasan desa Bojongkoneng.





