UPACARA ADAT NGALAKSA DALAM PERSPEKTIF SEMIOTIKA SEJARAH KEBUDAYAAN

Authors

  • Dida Ibrahim A.
  • Gandara Permana

Abstract

Upacara adat merupakan manifestasi
kultural yang merepresentasikan hubungan
manusia dengan alam, sejarah, dan
komunitasnya melalui sistem simbolik yang
kompleks. Sebagai bagian dari sistem
kebudayaan, upacara adat tidak hanya
berfungsi sebagai bentuk ekspresi spiritual
dan sosial, tetapi juga sebagai sarana
komunikasi simbolik yang memediasi nilai,
ingatan kolektif, dan ideologi yang hidup
dalam suatu masyarakat (Geertz, 1973;
Lotman, 1990). Dalam konteks masyarakat
agraris Sunda, salah satu praktik budaya
yang bertahan dan tetap dijalankan hingga
kini adalah upacara adat Ngalaksa, yang
diselenggarakan di Kecamatan
Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa
Barat. Secara etimologis, “Ngalaksa”
berasal dari kata “laksa”—sejenis bubur
beras—yang diproduksi dan dibagikan
selama acara berlangsung, sebagai simbol
kesuburan dan keberlimpahan panen saat
itu, serta wujud penghormatan kepada Dewi
Sri (Nyi Pohaci Sanghyang Sri) dan leluhur
(Yulaeliah, 2006; Kesuma, 2016). Secara
harfiah, ngalaksa berarti “membuat laksa”—
bubur dari tepung beras—yang dipercayai
menggambarkan harapan akan hasil panen
yang melimpah.

Downloads

Published

2025-12-01