ESTETIKA TEKNIK LUKIS SUNGGING PADA TOKOH BIMA WAYANG GOLEK SUNDA KLASIK DAN MODERN

Authors

  • Hilman Cahya Kusdiana
  • Lauda Al Fiqri
  • Nira Janifa Aulia

Abstract

Wayang golek Sunda merupakan warisan budaya yang memiliki kekayaan estetika, salah satunya
melalui teknik sungging pada dekorasi kepala. Perkembangan dari gaya klasik menuju modern
menampilkan perbedaan yang signifikan dalam penerapan sungging, baik dari sisi visual maupun
nilai estetikanya. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan penerapan teknik sungging pada
wayang golek klasik dan modern menggunakan teori estetika Monroe Beardsley, yang menekankan
tiga aspek utama yaitu kesatuan, kompleksitas, dan intensitas. Metode penelitian menggunakan
pendekatan kualitatif dengan studi komparatif melalui observasi langsung pada koleksi wayang golek
klasik di Museum Wayang Jakarta dan wayang golek modern di sentra produksi Jelekong, dilengkapi
dokumentasi dan wawancara dengan pengrajin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek
kesatuan, wayang golek klasik lebih konsisten dalam pemilihan warna dengan dominasi emas yang
serasi dengan bentuk mahkota, sedangkan wayang golek modern memperlihatkan kesatuan yang
lebih longgar akibat eksplorasi warna yang beragam. Pada aspek kompleksitas, wayang golek klasik
menampilkan kesederhanaan visual dengan gradasi terbatas, sementara wayang golek modern
menonjolkan kerumitan detail melalui kombinasi warna yang padat dan bervariasi. Pada aspek
intensitas, wayang golek klasik menghadirkan kesungguhan ekspresi simbolik tradisi, sedangkan
wayang golek modern menunjukkan intensitas pada daya tarik dekoratif untuk memperkuat performa
pertunjukan. Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran fungsi teknik sungging dari pewarisan
nilai simbolik ke arah inovasi estetika visual. Penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam upaya
pelestarian sekaligus pengembangan seni rupa tradisi di era modern.
Kata kunci : teknik sungging, wayang golek, klasik, modern, estetika, Monroe Beardsley

Downloads

Published

2025-12-01