PENGELOLAAN TEKNOLOGI DIGITAL DI MUSEUM KOTA BANDUNG (STUDI KOMPARATIF ANTARA MUSEUM SRI BADUGA, MUSEUM GEDUNG SATE, DAN MUSEUM GEOLOGI)
Abstract
Museum memiliki peran strategis dalam melestarikan warisan budaya terutama dalam upaya penguatan
identitas bangsa. Akan tetapi, beberapa museum di Kota Bandung masih menghadapi tantangan sepi
pengunjung. Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi alternatif untuk memperkuat daya tarik
museum sekaligus mengoptimalkan fungsi edukasi dan pariwisata budaya. Penelitian ini dilakukan
untuk menganalisis pengelolaan teknologi digital melalui pendekatan deskriptif komparatif berbasis
kerangka 4A dan paradigma New Museology pada tiga museum di Kota Bandung: Museum Sri Baduga,
Museum Gedung Sate, dan Museum Geologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya
menerapkan strategi pengelolaan teknologi digital yang variatif. Museum Gedung Sate memanfaatkan
inovasi interaktif berupa augmented reality (AR), touchable displays, dan ruang audio visual.
Selanjutnya Museum Geologi hadir dengan ruang immersive, multi-touch table, hologram, ruang
simulasi bencana, dan adanya program Day and Night at The Museum yang menjaga kesinambungan
minat pengunjung. Lalu Museum Sri Baduga yang memanfaatkan penggunaan videotron non-interaktif
dan touchable displays pada beberapa koleksi unggulannya. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi
pemanfaatan teknologi digital yang relevan menjadi salah satu upaya konkret yang dapat dilakukan
pihak museum dalam menjaga minat masyarakat untuk mengunjungi museum. Pengelolaan teknologi
digital yang efektif menjadi poin penting dalam meningkatkan citra museum sebagai destinasi wisata
budaya bagi masyarakat masa kini.
Kata Kunci: Museum, Museologi Baru, Wisata Minat Khusus, Strategi Pengelolaan, Teknologi Digital,
Pariwisata Budaya





