https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/issue/feed Prosiding ISBI Bandung 2026-01-09T14:51:40+07:00 Redaksi Jurnal Panggung redaksi.panggung@gmail.com Open Journal Systems <p style="font-weight: 400;">E-Prosiding Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung merupakan kumpulan tulisan ilmiah yang disajikan dalam sebuah konferensi, seminar, atau simposium. Tulisan-tulisan ini berisi hasil penelitian terbaru, gagasan inovatif, atau tinjauan mendalam terhadap topik Seni dan Budaya dan prosiding ini diterbitkan dalam 1 tahun sekali melalui media cetak maupun digital oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.<br /><br /></p> https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4728 PENERAPAN AI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DESAIN INTERIOR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN 2026-01-07T09:29:50+07:00 Adinda Safrina adindasafrina@isbi.ac.id Salma Nur Afifah salmanur@isbi.ac.id <p>Artificial Intelligence (AI) saat ini banyak digunakan dalam berbagai bidang, tidak terkecuali dalam<br>bidang pendidikan. Dalam konteks Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kemampuan siswa untuk<br>aktif dalam menggunakan teknologi menjadi semakin relevan, karena lulusan SMK dituntut untuk<br>langsung terjun ke dunia kerja yang dinamis dan kompetitif. Tulisan ini berfokus pada literatur<br>mengenai penerapan AI dalam bidang pendidikan, serta media pembelajaran desain interior<br>berbasis digital yang adaptif pada sekolah kejuruan. Selain itu, tulisan ini juga membahas peran<br>pelatihan desain berbasis AI di SMK sebagai bagian dari upaya menyiapkan siswa dengan<br>keterampilan praktik. Berdasarkan Pengalaman pelatihan yang telah dilakukan, penggunaan aplikasi<br>digital cohoom berbasis AI sebagai media pembelajaran di SMK, dapat diterima dengan baik.<br>Kata kunci: Artificial Intelligence, aplikasi desain, 3D modelling, Coohom, Pelatihan</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4729 INOVASI SENI LUKIS KALIGRAFI ISLAM DI SENTRA LUKIS DESA JELEKONG MELALUI ADAPTASI TEKNIK SENI GRAFIS 2026-01-07T09:32:57+07:00 Agus Cahyana aguscahyana@isbi.ac.id Joko D. Avianto jokoavianto@isbi.ac.id Muhammad Fauzi Dwitama mfauzidwitama@isbi.ac.id <p>Artikel ini membahas inovasi seni lukis kaligrafi Islam di Sentra Lukis Desa Jelekong, Kabupaten<br>Bandung, melalui adaptasi teknik seni grafis sebagai upaya memperkaya khazanah visual dan<br>memperluas peluang pasar seni. Integrasi kaligrafi Islam dipilih karena memiliki nilai spiritual<br>sekaligus potensi visual yang kuat, sementara teknik seni grafis menghadirkan alternatif eksplorasi<br>berupa tekstur, ritme, repetisi, dan permainan warna yang tidak ditemukan dalam teknik lukis<br>konvensional. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif<br>dengan menelaah konteks perkembangan seni lukis Jelekong, potensi kaligrafi Islam, serta<br>kemungkinan adaptasi teknik grafis dalam karya lukis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa<br>inovasi ini memberi dampak signifikan, baik secara estetik, sosial, maupun ekonomi. Dari sisi estetik,<br>karya menjadi lebih variatif dan modern; dari sisi sosial, memperkuat identitas religius masyarakat;<br>sedangkan dari sisi ekonomi, membuka peluang pasar baru di kalangan Muslim urban dan kolektor<br>seni kontemporer. Artikel ini menegaskan bahwa adaptasi teknik seni grafis dalam seni lukis kaligrafi<br>Islam dapat menjadi strategi efektif bagi komunitas pelukis Jelekong untuk keluar dari homogenitas<br>tema sekaligus memperluas jaringan pasar. Inovasi ini berpotensi menempatkan Jelekong tidak<br>hanya sebagai sentra lukis panorama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan seni kaligrafi<br>kontemporer di Indonesia.</p> <p><br>Kata kunci: inovasi seni, kaligrafi Islam, seni grafis, seni lukis Jelekong, seni kontemporer.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4730 PELATIHAN TARI SUNDA PADA MASYARAKAT CINA DIASPORA: STUDI KASUS KERJASAMA BUDAYA ANTARNEGARA 2026-01-07T09:37:47+07:00 Ai Mulyani aimulyani61066@gmail.com Maharani Haes Kaeksi maharanihaes@isbi.ac.id Dhendi Firmansyah dhendifirmansyah@isbi.ac.id Karlina Wati karlinawati@isbi.ac.id <p>Kebudayaan adalah salah satu aspek penting dalam kedudukan suatu negara. Kebudayaan<br>memegang peranan krusial dalam memperkuat identitas sebuah negara melalui kemahiran<br>diplomasi budaya yang dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan misi kesenian atau misi<br>kebudayaan yang sering dilakukan melalui tampilan seni pertunjukan. Hal tersebut dapat<br>dilaksanakan dengan menampilkan tarian yang dapat mewakili keberagama kesenian yang dimiliki<br>oleh negara Indonesia. Sebagai penunjang program tersebut, program tridharma yang ada di<br>Perguruan Tinggi dapat memberikan peluang dalam menampilkan misi kesenian, khususnya di<br>lingkungan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Namun, kegiatan misi kesenian tersebut<br>hanya dapat dilakukan sekali waktu. Pada tulisan ini akan mengkaji tentang pelatihan Tari Sunda<br>bagi masyarakat Tionghoa sebagai bentuk keberlanjutan dari misi kesenian, dengan menggunakan<br>metode hibrid (daring dan luring). Program ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan<br>seni, melainkan juga sebagai strategi diplomasi budaya yang lebih efisien dan berkelanjutan. Metode<br>pelatihan hibrid ini memungkinkan masyarakat diaspora untuk menjadi “perpanjangan tangan” dalam<br>mempromosikan budaya Indonesia, sehingga dapat meningkatkan membantu efektivitas ekonomi<br>negara asal diaspora. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kerja<br>sama dengan warga negara asal diaspora dapat menjadi cara baru dalam ketercapaian diplomasi<br>budaya antarnegara.</p> <p><br>Kata kunci: diaspora, diplomasi budaya, pelatihan tari, tari Sunda</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4731 ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) SEBAGAI MITRA BELAJAR: MENDORONG INOVASI MENULIS PADA ERA DIGITAL 2026-01-07T10:21:16+07:00 Ai Siti Zenab ai.siti@isbi.ac.id Shinta Anggraeni shinta.anggraeni@isbi.ac.id Raisya Putti raisyaputti@isbi.ac.id <p>Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan,<br>khususnya dalam bidang kepenulisan. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak<br>hanya berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi juga sebagai mitra belajar yang mampu mendorong<br>kreativitas dan inovasi menulis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran dan fungsi<br>berbagai teknologi AI yang dapat dimanfaatkan dalam proses menulis, baik karya ilmiah maupun<br>kreatif, di era digital. Metode kajian dilakukan melalui studi pustaka terhadap berbagai sumber<br>literatur terkait pemanfaatan AI dalam bidang pendidikan dan literasi. Hasil kajian menunjukkan<br>bahwa beragam platform berbasis AI seperti ChatGPT, Grammarly, Sipebi, QuillBot, Summarizer,<br>Turnitin, Canva, Google Translate, Mendeley, Google Scholar, Scite.ai, dan Gemini memiliki<br>kontribusi signifikan dalam mendukung proses menulis. Alat-alat tersebut berperan dalam<br>membantu penyusunan ide, perbaikan tata bahasa, penerjemahan, pengelolaan referensi, hingga<br>penyusunan desain visual yang memperkaya hasil karya tulis. Dengan demikian, AI dapat menjadi<br>mitra strategis yang mempercepat, mempermudah, dan memperkaya proses kreatif menulis, selama<br>penggunaannya dilakukan secara kritis dan etis agar tidak mengurangi orisinalitas serta nilai-nilai<br>akademik karya.<br>Kata kunci: Artificial Intelegency, Literasi Digital, Inovasi Pembelajaran</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4732 REPETISI DAN METRUM SEBAGAI DASAR PENCIPTAAN KARYA TARI GANJIL 2026-01-07T10:40:36+07:00 Alfiyanto alfiyanto@isbi.ac.id <p>Karya tari “Ganjil” merupakan eksperimen koreografi berbasis tradisi Pencak Silat yang<br>dikembangkan melalui pendekatan tari kontemporer. Pencak Silat, sebagai warisan budaya<br>takbenda yang telah diakui UNESCO, tidak hanya berfungsi sebagai bela diri, tetapi juga sebagai<br>ekspresi artistik dan medium pewarisan nilai budaya. Karya ini mengolah jurus-jurus Pencak Silat<br>Sunda dan Minangkabau dengan menerapkan konsep repetisi serta metrum ganjil (3/4, 7/4, 9/4)<br>untuk menciptakan struktur gerak yang dinamis, ekspresif, sekaligus eksperimental. Repetisi<br>diposisikan bukan sekadar pengulangan mekanis, melainkan strategi estetik untuk memperkuat<br>intensitas dramatik, ritme internal, dan pengalaman emosional penonton. Sementara itu,<br>penggunaan birama ganjil menghadirkan ketegangan musikal, kejutan ritmis, serta memperkaya<br>komposisi koreografi. Proses kreatif ini dilandasi metode Literasi Tubuh Wajiwa dan Relasi Artistik<br>yang mengedepankan eksplorasi tubuh, penelitian berbasis praktik, serta keterlibatan komunitas<br>pesilat lokal. Dengan demikian, karya ini menawarkan kebaruan dalam pengembangan tari<br>kontemporer berbasis tradisi, sekaligus menghadirkan refleksi kritis atas nilai-nilai budaya yang<br>diwariskan.<br>Kata kunci: Pencak Silat, tari kontemporer, repetisi, metrum ganjil</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4733 KARAKTERISTIK ELEMEN MUSIKAL DALAM ARANSEMEN TOKECANG VERSI INDRA RIDWAN 2026-01-07T10:42:24+07:00 Aloisia Yuliana Y. Widyaningsih oceethnic@gmail.com Yudhistira Rejki Firdaus yudhistirarejki@isbi.ac.id Azhaar Launia Deandra azhaarlaunia@isbi.ac.id <p>“Tokecang” sebagai karya etnis Indonesia diaransemen menggunakan pendekatan musik Barat<br>dalam bentuk paduan suara, yang mencerminkan perpaduan dua budaya dengan karakteristik yang<br>berbeda. Musik dalam konteks ini adalah susunan bunyi yang memiliki kesatuan nada, irama, serta<br>keharmonisan yang dirancang sedemikian rupa oleh arranger Indra Ridwan seorang etnomusikolog<br>lulusan University of Pittsburgh, Amerika Serikat, yang dikenal dengan keahliannya dalam<br>mengaransemen lagu-lagu pop Sunda dan lagu daerah Jawa Barat. Indra Ridwan juga aktif sebagai<br>akademisi, penyanyi, juri, dan arranger dalam dunia paduan suara. Elemen-elemen musikal dalam<br>aransemen tokecang versi Indra Ridwan dianalisis melalui pendekatan musikologi, yakni kajian atas<br>struktur musikal seperti kontur melodi, jalur akor, harmoni, ritme dan bentuk musik. Aransemen lagu<br>“Tokecang” oleh Indra Ridwan yang dibawakan Gita Suara Choir memiliki kekhasan yang dapat<br>memengaruhi pengembangan musik paduan suara di Indonesia, khususnya dalam aransemen dan<br>interpretasi lagu daerah. Aransemen ini selalu menorehkan nomor Gold Medal pada setiap kompetisi<br>Choir dengan playlist folklore. Dengan metode deskriptif analisis penulis dapat memaparkan<br>bahasan aransemen Indra Ridwan melalui paparan struktur-elemen musikal pada lagu Tokecang.<br>Kata kunci: lagu tokecang; elemen musikal; lagu Folklore; aransemen; Indra Ridwan</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4734 EKSPLORASI METODE EXPERIENTIAL LEARNING DALAM MENUMBUHKAN LITERASI BUDAYA PADA ANAK 2026-01-07T10:46:35+07:00 Annisa Arum Mayang annisasulaeman0718@gmail.com Citra Meidyna Budhipradipta citrameidyna@gmail.com Sita Diani Puspa sitadianip@gmail.com <p>Pengenalan budaya lokal kepada anak merupakan langkah penting dalam membentuk identitas dan<br>karakter kebangsaan sejak dini. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi konten<br>digital asing, minat anak-anak terhadap budaya Indonesia cenderung menurun. Upaya<br>menumbuhkan literasi budaya memerlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya bersifat<br>kognitif, tetapi juga melibatkan pengalaman langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi<br>penerapan metode experiential learning dalam kegiatan literasi budaya pada anak-anak di<br>komunitas Rumah Baca Eureka Bandung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif<br>dengan desain studi kasus, melibatkan observasi partisipatif, wawancara dengan fasilitator, serta<br>dokumentasi kegiatan. Data dianalisis secara tematik untuk menggali pola pengalaman belajar anak.<br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan experiential learning malalui aktivitas berbasis lima<br>indera, pengenalan makanan tradisional, alat musik tradisional dan tenun tradisional, dan praktik<br>langsung seni budaya berhasil meningkatkan minat serta pemahaman anak terhadap nilai budaya.<br>Anak-anak tidak hanya mengenal simbol budaya, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan<br>pengalaman pribadi, sehingga terbentuk keterikatan emosional. Selain itu, pendekatan ini<br>mendorong rasa ingin tahu serta mendorong sifat reflektif dalam proses belajar. Dari hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa metode experiential learning efektif dalam menumbuhkan literasi budaya anak,<br>karena mengintegrasikan aspek pengetahuan, keterampilan, dan afeksi secara menyeluruh.<br>Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan model pembelajaran alternatif di<br>komunitas pendidikan nonformal, serta memperlihatkan potensi rumah baca sebagai ruang strategis<br>untuk melestarikan dan menstransmisikan budaya kepada generasi muda.<br>Kata kunci : Literasi budaya, Experiential Learning, Pendidikan Anak, Pendidikan Parsipatori</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4735 KESENIAN TEREBANG BUHUN SANGKAN HURIP SEBAGAI IDENTITAS CULTURAL MASYARAKAT DUSUN ANTARA DESA TAMAN SARI KECAMATAN CIBUGEL KABUPATEN SUMEDANG 2026-01-07T10:50:29+07:00 Asep Ganjar Wiresna asepganjar@isbi.ac.id Meiga Fristya Lara Sakti meigafristya@isbi.ac.id <p>Kesenian terebang buhun Sangkan Hurip bukan hanya sekadar jenis kesenian yang terlahir dari sebuah<br>nama instrument, melainkan simbol expresi identitas masyarakat Sunda. Seni Terebang Buhun memiliki<br>makna yang mendalam, dan akar tradisi kuat yang diwariskan oleh system dan struktur masyarakat Sunda<br>berdasarkan fungsinya. Seni Terebang Buhun Sangkan Hurip didirikan tahun 1920 yang sampai saat ini<br>sudah mengalami 3 generasi kepengurusan, buhun mengandung arti tua, kuno, atau purba,<br>merepresentasikan kajian sejarah terhadap fungsi kesenian dalam peradaban kebudayaan masyarakat<br>sunda di Kabupaten Sumedang Khususnya Cibugel dari era 1920 sampai dengan era saat ini 2025.<br>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan diakronik dan fenomenologi, metode<br>pendekatan tersebut mengupas kajian seni pertunjukan berdasarkan fungsi serta bentuk sajian kesenian<br>Terebang Buhun Sangkan Hurip dalam 3 periode kepemimpinan, dari mulai era Abah Warta, era Abah<br>Tahya, sampai dengan era bapak acang. Hasil penelitian ini menghasilakan bentuk pemahaman sejarah<br>terebang Buhun yang merupakan cerminan sebuah perjalanan sejarah melalui dinamika seni pertunjukan<br>tradisional Indonesia melalui exsitensi Kesenian Terebang Buhun Sangkan Hurip Sumedang.<br>Kata Kunci: Instrument Terebang, Dusun Antara Desa Taman Sari Cibugel Sumedang, Kesenian<br>Terebang Buhun Sangkan Hurip.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4736 IBING TAYUB GAYA BARU KARAKTER LENYEP DALAM UPAYA REVITALISASI TARI KLASIK KASUMEDANGAN 2026-01-07T10:53:06+07:00 Asep Jatnika asepjatnika390@gmail.com Sopian Hadi hadihadud@gmail.com Raffie Chandra Wijaya raffiechandra@isbi.ac.id <p>Ibing Tayub Gaya Baru Character Lenyep created by Rd. Ono Lesmana Kartadikoesoemah is currently<br>almost extinct. This can be caused by several factors, one of which is the lack of interest of the younger<br>generation to learn this dance. In fact, if we look at the form of presentation, there are cultural philosophical<br>values of the community as a representative of the life of the nobility in the past. Therefore, in this study as<br>an effort to preserve local culture, a study of dance tapping was carried out as part of the initial steps in an<br>effort to revitalize the classical dance of Kasumedangan. The purpose of this study is to stimulate the<br>community, especially the younger generation, and help preserve and develop Ibing Tayub Character<br>Lenyep and produce a concept of new dance works originating from Ibing Tayub Character Lenyep. This<br>research was conducted in Sumedang Regency, more precisely at Sanggar Dangiang Kutamaya and<br>Padepokan Sekar Pusaka. The research method uses qualitative methods by conducting observations,<br>interviews, documentation and dance tapping studies. The results of this study provide data on the<br>structural aspects of the dance presentation and cultural issues that, if not addressed immediately, risk<br>extinction of the Ibing Tayub Gaya Baru with a vanishing character.<br>Keywords: Ibing Tayub Character Lenyep, Dance Revitalization, Rd. Ono Lesmana Kartadikoesoemah</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4737 METODE PEWARISAN SENI TRADISI LUKIS KACA GEGESIK CIREBON 2026-01-07T11:15:18+07:00 Asep Miftahul Falah asepmiftahulfalah@gmail.com Zaenudin Ramli zaenudinramli@isbi.ac.id Nafisa Jilan Aqilah nafisajilan@isbi.ac.id Alifah Siti Nurhasna alifahsiti@isbi.ac.id <p>Lukis kaca Gegesik di Cirebon merupakan salah satu seni tradisi yang memiliki nilai historis, estetis,<br>dan spiritual, namun keberlanjutannya menghadapi tantangan akibat perubahan sosial, budaya, dan<br>minat generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metode pewarisan seni tradisi lukis<br>kaca yang dikembangkan oleh pelukis dan sanggar seni di Gegesik sebagai upaya menjaga<br>keberlangsungan seni tradisi lukis kaca. Metode kualitatif dengan pendekatan etnografi digunakan<br>melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menggali pola pembelajaran, interaksi sosial<br>masyarakat, serta praktik pewarisan yang berlangsung di lingkungan masyarakat. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa metode pewarisan dilakukan melalui model cantrik atau magang, pembelajaran<br>langsung di lingkungan masyarakat, serta melalui adaptasi pendidikan formal dan nonformal. Proses<br>pewarisan berfokus pada keterampilan teknis melukis kaca melalui transfer nilai filosofis, simbolis,<br>dan spiritual yang melekat dalam karya. Kesimpulannya, metode pewarisan seni tradisi lukis kaca<br>Gegesik menekankan kesinambungan antara teknik, nilai tradisi masyarakat lokal, dan konteks<br>spiritual, sehingga dapat menjadi model pengembangan pendidikan seni berbasis tradisi di era<br>modern.<br>Kata kunci: metode pewarisan, lukis kaca, gegesik, pendidikan seni, seni tradisi</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4738 JELAJAH KULINER KASUMEDANGAN BERBASIS TRADISI KELOKALAN DALAM BINGKAI SENI FOTOGRAFI DOKU 2026-01-07T11:19:30+07:00 Cahya cahya@isbi.ac.id Yuli Adam Panji Purnama yuliadampanji@isbi.ac.id Jundi Ali Alghifari Syamsidik jundiali@isbi.ac.id Salma Agisna Maulidziani salmaagisna@isbi.ac.id <p>Tulisan ini merupakan deskripsi dari hasil penelusuran momen-momen kreatif dari<br>sejumlah jenis makanan tradisional yang khas dan unik di tatar budaya Sumedang<br>(Kasumedangan) dalam bentuk riset dan dokumentasi fotografi. Penelitian dan<br>kekaryaan ini mengangkat lima kuliner khas Kasumedangan yaitu Tahu Sumedang,<br>Hui Cilembu, Oncom Pasir Reungit, Sampeu Wedang dan Keremes Rancakalong.<br>Deskripsi ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan mengangkat isu<br>budaya yang hadir dalam bentuk sajian karya fotografi. Penyajian karya fotografi<br>doaumenter tersebut, tidak hanya sekedar menyuguhkan tampilan garmbar hasil<br>karya fotografi, melainkan menyajikan pula deskripsi kekaryaan yang memuat<br>aspek nilai, sejarah, fungsi dan maknanya. Melalui sajian bentuk-bnetuk kuliner<br>tersebut pada dasarnya merepresentasikan kekayaan ragam kearifan lokal<br>berkaitan dengan aktivitas sosial dan ekonomi, sekaligus sebagai upaya<br>melestarikan tradisi budaya masyarakat Sunda. Setiap kuliner menunjukkan<br>adaptasi ekologis, kreativitas dalam pengolahan pangan, dan makna sosial yang<br>berakar pada filosofi Sunda. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kuliner<br>Kasumedangan tidak hanya terkait cita rasa kekhasanya saja, melainkan sebagai<br>bentuk harmoni nilai budaya dengan nilai estetik sehingga berdampak terhadap nilai<br>ekonomis berbasis tradisi setempat. Dengan dan tampilan estetiknya, tetapi juga<br>berfungsi sebagai identitas budaya suatu mayarakat.<br>Kata Kunci: Kuliner Kasumedangan, fotografi documenter, Representasi Estetik<br>kearifan lokal.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4739 REKONSTRUKSI SENI TRADISI DALAM KOREOGRAFI KARYA INDRAWATI LUKMAN 2026-01-07T11:23:38+07:00 Citra Julian Lestari citra.julian@isbi.ac.id Nur Fitriyani Padjriah nur.fitriyani@isbi.ac.id Sindy Febriyanti sindyfebriyanti@isbi.a.id <p>Penelitian ini berangkat dari latar belakang kebijakan nasional mengenai Pemajuan Kebudayaan<br>sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Pasal 1 Ayat 3 mengatur<br>pemajuan kebudayaan sebagai upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya<br>Indonesia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Fokus<br>penelitian ini adalah mengkaji implementasi pasal tersebut pada praktik rekonstruksi seni tradisi,<br>khususnya pada karya Indrawati Lukman berjudul Sasikirana, hasil rekonstruksi dari Tari Pamindo.<br>Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi,<br>wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori rekonstruksi budaya<br>yang memandang rekonstruksi sebagai tafsir baru atas warisan budaya. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa Sasikirana mengimplementasikan empat pilar kebudayaan: melindungi struktur<br>dasar tari tradisi, mengembangkan dengan inovasi gerak, memanfaatkan sebagai karya<br>pertunjukan, dan membina generasi penerus melalui pewarisan nilai. Namun, kesadaran seniman<br>terhadap keterkaitan karya dengan regulasi formal masih rendah. Penelitian ini berkontribusi dalam<br>menjelaskan hubungan antara kebijakan kebudayaan dan praktik seni, serta memberikan<br>rekomendasi untuk memperkuat sinergi seniman dan regulasi kebudayaan.<br>Kata kunci: pemajuan kebudayaan, rekonstruksi seni, tari Sasikirana, kebijakan budaya, teori<br>rekonstruksi</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4740 PERAN MODAL SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MEMINIMALKAN KEKERASAN SIMBOLIK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KABUPATEN BANDUNG 2026-01-07T11:33:23+07:00 Dadi Suhanda dadisuhanda@isbi.ac.id Tukuh Takdir Sembada tukuhtakdir@isbi.ac.id Manda Firtza Rahman mandafirtza@isbi.ac.id <p>Kekerasan simbolik masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan khususnya di Sekolah<br>Menengah Pertama. Kekerasan ini beroperasi di bawah ambang kesadaran (nirsadar) dan bersifat<br>laten, menjadikannya tidak kasat mata dan jarang muncul sebagai wacana publik, serta sebagai<br>fakta yang diperbincangkan secara terbuka. Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari<br>kekerasan simbolik adalah kecenderungannya untuk dinormalisasi. Kekerasan simbolik seringkali<br>diterima oleh pihak yang menjadi sasaran sebagai bentuk hal yang wajar. Tujuan utama penelitian<br>ini adalah untuk menganalisis peran modal sosial dan budaya sebagai upaya meminimalisir<br>kekerasan simbolik pada Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bandung dan mengidentifikasi<br>praktik-praktik transformatif yang mengubah modal sosial dan budaya dari alat dominasi menjadi<br>sumber kesetaraan. Dengan pendekatan kualitatif serta desain etnografi, data dikumpulkan melalui<br>observasi partisipan, FGD (Focus Group Discussion) dan wawancara mendalam di sekolah-sekolah<br>untuk mengungkap praktik kekerasan simbolik dalam konteks sosial-budaya spesifik pada Sekolah<br>Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian mengungkap tiga manifestasi<br>utama, yaitu: ejekan berbasis penampilan dan pemberian label negatif antarsiswa, perbedaan<br>perlakuan guru berdasarkan latar belakang sosio-ekonomi siswa, dan bias kelas dominan dalam<br>kurikulum tersembunyi (hidden curriculum). Temuan kunci menunjukkan pemanfaatan transformatif<br>kedua modal ini mampu menciptakan lingkungan sekolah yang egaliter. Implikasi kebijakan<br>menekankan perlunya: kurikulum berbasis komunitas yang mengakomodasi keragaman siswa,<br>pelatihan kesadaran bagi guru, dan institusionalisasi program antibullying berbasis modal sosial dan<br>budaya.<br>Kata kunci: Kekerasan Simbolik, Modal Sosial, Modal Budaya.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4741 PELATIHAN PEMBUATAN MOTIF BATIK DENGAN TEKNIK MALAM DINGIN UNTUK DESAIN PRODUK FASHION MODEST DI ISLAMIC FASHION INSTITUTE 2026-01-07T11:38:53+07:00 Dede Ananta K. Perangin-angin dedeananta@isbi.ac.id Martien Roos Nagara martien_roos@yahoo.com Dwi Audry Viandra Puteri dwiaudry@isbi.ac.id <p>Batik sebagai warisan budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dalam industri<br>fashion modest yang tengah berkembang pesat di zaman ini. Namun, pembuatan batik tradisional<br>dengan teknik malam panas menghadapi sejumlah keterbatasan, seperti proses yang memakan<br>waktu, membutuhkan keterampilan tinggi, serta kurang ramah lingkungan. Kesenjangan penelitian<br>ini terletak pada minimnya pemanfaatan teknik malam dingin yang lebih praktis, efisien, dan adaptif<br>dalam konteks desain produk fashion modest. Kebaruan program ini ada pada penerapan teknik<br>malam dingin sebagai sarana eksplorasi motif batik yang aplikatif untuk busana muslim di Islamic<br>Fashion Institute (IFI). Dengan penggunaan teknik ini tidak hanya lebih cepat dan ramah lingkungan,<br>tetapi juga membuka peluang lahirnya komposisi visual yang baru sesuai dengan tren kontemporer.<br>Dengan demikian, pelatihan ini menjadi model inovasi yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan<br>kebutuhan industri kreatif global. Metode yang digunakan adalah Design Thinking dengan lima<br>tahap: empathize, define, ideate, prototype, dan test melalui pendekatan partisipatif, peserta dilatih<br>untuk mengidentifikasi kebutuhan, mengeksplorasi motif, dan menghasilkan konsep desain busana<br>muslim secara digital dengan penerapan motif batik malam dingin. Hasil yang diharapkan mencakup<br>peningkatan keterampilan teknis 20 mahasiswa IFI, lahirnya konsep desain produk fashion modest<br>berbasis batik, serta kontribusi nyata terhadap pelestarian budaya dan penguatan daya saing industri<br>kreatif Indonesia.<br>Kata kunci: batik malam dingin, Design Thinking, eksplorasi motif, fashion modest, Islamic Fashion<br>Institute</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4742 EKSISTENSI SANGGAR TARI BALI ASMARANDANA DALAM PELATIHAN TARI BALI DI KOTA BANDUNG 2026-01-07T11:41:46+07:00 Desya Noviansya Suherman desyanoviansya@isbi.ac.id Devi Supriyatna devisupriyatna@isbi.ac.id Elena Purnama Sari elenepurnamasari@isbi.ac.id <p>Perkembangan zaman yang semakin meningkat, secara tidak langsung akan mempengaruhi<br>eksistensi Sanggar Tari Bali (STB) di kota Bandung. Sanggar tari Bali adalah suatu wadah organisasi<br>nonformal yang menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan pementasan tari Bali di Bandung dan<br>sekitarnya. Adapun beberapa Sanggar tari Bali yang hidup dan berkembang yaitu diantaranya :<br>Keluarga Kesenian Bali (KKB) Gita Saraswati, STB Sekar Tampaksiring, STB Gelanggang Taruna,<br>STB PT. Telkom Bandung, STB Purantara Cimahi, STB Asmarandana, dan STB Dewi Anggraeni.<br>Kehidupan sanggar-sanggar tari Bali di Bandung terlihat memiliki fungsi atau peranan yang sangat<br>majemuk. Di samping sebagai sarana pendidikan para generasi muda dalam hal kesenian Bali,<br>sanggar-sanggar yang berkembang di Bandung dan sekitarnya juga berperan untuk kegiatan upcara<br>keagamaan (Agama Hindu). Seperti kita ketahui, hampir tidak ada suatu upacara keagaam (Agama<br>Hindu) yang tidak menghadirkan kesenian baik tari maupun karawitan. Maka demikian, fungsi serta<br>peranan sanggar tari Bali yang ada di Bandung masih marginal. Upaya pengembangan pelestarian<br>sanggar tari Bali di Bandung bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan eksistensi sebuah<br>sanggar minoritas yang berkembang dalam ruang lingkup daerah Kota Bandung. Dalam menjaga<br>eksistensinya STB Asmarandana membuat agenda kegiatan yang dilakukan agar keberadaanya<br>tetap terjaga. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan<br>teori eksistensi yakni, eksistensi estetis, etis, dan religius dari Soren Kierkegard.<br>Kata kunci: Eksistensi, Tari Bali, Sanggar Tari, STB Asmarandana</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4743 UPACARA ADAT NGALAKSA DALAM PERSPEKTIF SEMIOTIKA SEJARAH KEBUDAYAAN 2026-01-07T11:54:07+07:00 Dida Ibrahim A. dida@isbi.ac.id Gandara Permana gandarapermana@isbi.ac.id <p>Upacara adat merupakan manifestasi<br>kultural yang merepresentasikan hubungan<br>manusia dengan alam, sejarah, dan<br>komunitasnya melalui sistem simbolik yang<br>kompleks. Sebagai bagian dari sistem<br>kebudayaan, upacara adat tidak hanya<br>berfungsi sebagai bentuk ekspresi spiritual<br>dan sosial, tetapi juga sebagai sarana<br>komunikasi simbolik yang memediasi nilai,<br>ingatan kolektif, dan ideologi yang hidup<br>dalam suatu masyarakat (Geertz, 1973;<br>Lotman, 1990). Dalam konteks masyarakat<br>agraris Sunda, salah satu praktik budaya<br>yang bertahan dan tetap dijalankan hingga<br>kini adalah upacara adat Ngalaksa, yang<br>diselenggarakan di Kecamatan<br>Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa<br>Barat. Secara etimologis, “Ngalaksa”<br>berasal dari kata “laksa”—sejenis bubur<br>beras—yang diproduksi dan dibagikan<br>selama acara berlangsung, sebagai simbol<br>kesuburan dan keberlimpahan panen saat<br>itu, serta wujud penghormatan kepada Dewi<br>Sri (Nyi Pohaci Sanghyang Sri) dan leluhur<br>(Yulaeliah, 2006; Kesuma, 2016). Secara<br>harfiah, ngalaksa berarti “membuat laksa”—<br>bubur dari tepung beras—yang dipercayai<br>menggambarkan harapan akan hasil panen<br>yang melimpah.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4749 PROBLEMATIKA ASET KULTURAL SENI PERTUNJUKAN WARISAN KARATON SUMEDANG LARANG: PROSPEK DAN ALTERNATIF PENGEMBANGANNYA 2026-01-09T13:53:31+07:00 Dinda Satya Upaja Budi dindasatya@gmail.com Ismet Ruchimat ismetruchimat@isbi.ac.id Hinhin Agung Daryana hinhin_agung@isbi.ac.id Siska N. Azahra siskaazahra@isbi.ac.id <p>Kabupaten Sumedang merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang telah mendeklarasikan<br>wilayahnya sebagai Puseur Budaya Sunda, karena dinilai memiliki 1aset kultural Sunda yang cukup<br>beragam, termasuk di antaranya memiliki khasanah seni pertunjukan tradisional, seperti tari, musik<br>bambu, gamelan, dan wayang. Bagi masyarakat Sumedang, 1aset budaya tersebut telah menjadi<br>bagian integral dari kehidupan 1sosial dan budaya masyarakatnya. Namun, kondisi 1aset kultural<br>tradisional yang dapat dijadikan ikon khas Sumedang ini menghadapi tantangan besar. Selain<br>kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari seni tradisional, juga disinyalir telah telah<br>“tertutup” keorisinalitasan identitas seni pertunjukannya, karena disinyalir sudah mengalami<br>akulturasi kuat dengan budaya Mataram. Pengaruh budaya Mataram seolah telah menutupi<br>orisinalitas seni pertunjukan identitas budaya lokalnya. Tanpa upaya pelestarian, seni pertunjukan<br>khas Sumedang Larang berisiko hilang, terlupakan, mengikis identitas budaya asli, dan mengurangi<br>keberagaman khasanah seninya yang sarat akan nilai luhur budaya Sunda. Penelitian ini bertujuan<br>untuk mengidentifikasi potensi kekhasan 1aset kultural seni pertunjukan Keraton Sumedang Larang<br>dengan mengeksplorasi peran Museum Geusan Ulun yang pengelolanya merupakan pewaris<br>kerajaan Sumedang Larang. Penelitian ini juga mencoba merumuskan strategi untuk melestarikan<br>serta mengembangkan seni pertunjukan kekhasannya agar tetap relevan di era modern. Penelitian<br>ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-interpretatif, yang meliputi studi<br>literatur, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam dengan para narasumber yang<br>berkompeten. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa meskipun terdapat berbagai tantangan, terdapat<br>peluang besar untuk melestarikan dan mengembangkan potensi seni pertunjukannya melalui<br>berbagai 1upaya, di antaranya merekonstruksi karya seni berdasarkan terminologi penamaan<br>1gerak-gerak tari, gending-gending yang masih disajikan, serta dengan memberdayakan komunitas<br>lokal yang dapat membantu melestarikan dan mempopulerkannya di kalangan generasi muda.</p> <p><br>Kata Kunci: Sumedang Larang, Aset kultural, Warisan Budaya, Seni Pertunjukan, Sunda</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4750 PENCIPTAAN READY TO WEAR INSPIRASI BUSANA ADAT KERATON KESEPUHAN CIREBON 2026-01-09T14:00:56+07:00 Djuniwarti djuniwarti@isbi.ac.id Hadi Kurniawan Hadi.kurniawan@isbi.ac.id Astia Minda Sari astiamindasari@isbi.ac.id <p>Keraton Kesepuhan Cirebon merupakan warisan cagar budaya agung dari leluhur Nusantara yang<br>harus diupayakan selalu kelestariannya agar tidak punah ditelan perkembangan zaman. Keraton<br>tersebut telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Curaweda untuk memajukan industri<br>pariwisata guna mendukung peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah<br>kerajaan ini. Mereka membutuhkan busana ready to wear yang memiliki ciri khas Keraton<br>Kesepuhan Cirebon sebagai komoditi produk bisnis. Berbagai hal tersebut menjadi urgensi studi<br>yang dapat meningkatkan kemajuan seni budaya dan pariwisata di Indonesia. Penelitian ini<br>bertujuan mewujudkan karya busana ready to wear sebagai komoditi produk bisnis guna mendukung<br>kebutuhan dan peningkatan industri pariwisata di Keraton Kesepuhan Cirebon. Penciptaan ini<br>menggunakan metode kreasi artistik dari Dharsono yang terdiri dari eksperimen, perenungan, dan<br>pembentukan melalui pendekatan konsep konservasi reinterpretasi. Luaran dari penelitian ini yaitu<br>koleksi busana berjudul Ratnasari Caruban Nagari yang terdiri dari empat baju ready to wear. Koleksi<br>busana ini telah digunakan oleh mitra pada acara grand launching Meseum Lotus Great Asia Afrika<br>saat sesi fashion show tanggal 7 September 2025. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi upaya<br>pelestarian kearifan lokal Nusantara khususnya bidang busana.<br>Kata kunci : Keraton Kesepuhan Cirebon, Ready To Wear, Busana Adat</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4751 STRATEGI PEMBELAJARAN PENULISAN KARYA SENI UNTUK MENDUKUNG TUGAS AKHIR MAHASISWA DI PRODI ANGKLUNG DAN MUSIK BAMBU 2026-01-09T14:03:34+07:00 Ega Fausta ega.fausta@isbi.ac.id Dyah Murwaningrum dyahmurwaningrum@gmail.com Galih Nadhrata Ryandaputra galihnadharata@isbi.ac.id <p>Mata kuliah Penulisan Karya Seni memiliki peran penting dalam mendukung penyusunan Tugas<br>Akhir mahasiswa Program Studi Angklung dan Musik Bambu. Penelitian ini menggunakan studi<br>pustaka, survei skala Likert, dan wawancara dengan pengajar seni. Hasil penelitian menunjukkan<br>relevansi mata kuliah dengan Tugas Akhir sangat tinggi (4,6), namun pemahaman konsep<br>mahasiswa masih sedang (3,8) dan integrasi lintas mata kuliah memperoleh skor tertinggi (4,7).<br>Kendala utama terletak pada literasi akademik dan kesulitan menghubungkan teori dengan praktik.<br>Oleh karena itu, strategi yang direkomendasikan adalah penerapan Project-Based Learning dengan<br>pendekatan Outcome-Based Education (OBE) serta penguatan integrasi lintas mata kuliah melalui<br>perbaikan kurikulum. Dengan demikian, mata kuliah ini dapat menjadi pilar utama peningkatan<br>kualitas akademik dan artistik Tugas Akhir mahasiswa.<br>Kata kunci: Penulisan Karya Seni, Angklung dan Musik Bambu, Tugas Akhir, PjBL, OBE</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4752 STRUKTUR TARI TOPENG KLANA GANDRUNG GAYA PEKANDANGAN: HASIL MODIFIKASI AERLI RASINAH 2026-01-09T14:07:10+07:00 Farah Nurul Azizah farah90azizah@gmail.com Nanan Supriyatna nanansupriyatna@isbi.ac.id Reza Aulia rezaaulia@isbi.ac.id <p>Tari Klana Gandrung, merupakan repertoar dalam penyajian Tari Topeng Indramayu, salah satunya<br>pada Gaya Pekandangan. Secara historis, Tari Topeng Klana Gandrung di Pekandangan telah<br>diwariskan secara turun-temurun oleh dalang topeng Mimi Rasinah kepada cucunya, Aerli. Tarian<br>ini mengalami dinamika perkembangan signifikan, terutama melalui interpretasi dan modifikasi oleh<br>Aerli sebagai generasi penerus dalang topeng Pekandangan. Modifikasi yang dilakukan oleh Aerli<br>tidak hanya sebatas pada aspek kinestetik, tetapi juga mencakup elemen musikal dan inovasi<br>artistik, tanpa mengeliminasi identitas asli tarian tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis<br>secara mendalam mengenai struktur tari Topeng Klana Gandrung gaya Pekandangan yang telah<br>dimodifikasi oleh Aerli. Metode kualitatif digunakan pada penelitian ini, dengan menggunakan Teori<br>Struktur Iyus Rusliana sebagai acuan pemecahan masalahnya. Struktur tari Topeng Klana Gandrung<br>akan digali secara isi dan bentuknya. Hasil yang diperoleh yaitu isi dari tarian tersebut tidak<br>mengalami modifikasi secara utuh dikarenakan sebagai pijakan inovasi terhadap bentuknya.<br>Modifikasi bentuk tari dapat dilihat dari durasi penyajian tari, struktur koreografi tari yang terdiri dari<br>bagian unggah tengah dan deder, struktur iringan musik yaitu dubiang dan gonjing, serta modifikasi<br>pada busana tarinya yang disesuaikan dengan perkembangan masa kini. Paparan artikel ini<br>diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai kontribusi Aerli Rasinah dalam<br>melestarikan sekaligus memperkaya warisan seni tari Topeng Klana Gandrung Gaya Pekandangan.<br>Kata kunci: struktur, tari Topeng Klana Gandrung, gaya Pekandangan, modifikasi, Aerli Rasinah.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4753 INDUNG BRAGA BERJAGA: PRAKTIK KOREOGRAFI PARTISIPATORIS DALAM RUANG PUBLIK URBAN 2026-01-09T14:11:06+07:00 Ferry Cahyo Nugroho ferrycahyo@isbi.ac.id Nurudin nurudin@isbi.ac.id Nur Yasni nuryasni@isbi.ac.id <p>Penelitian ini mengkaji Indung Braga Berjaga, sebuah koreografi partisipatoris yang dipresentasikan<br>pada Terap Festival 2024 di Bandung sebagai respons artistik terhadap banjir bandang Sungai<br>Cikapundung. Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan<br>trauma psikologis yang mendalam bagi warga, khususnya perempuan di Kampung Braga. Dengan<br>pendekatan kualitatif berbasis praktik, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara<br>mendalam dengan fasilitator dan warga, serta analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa proses kreatif tidak menempatkan warga sebagai aktor pasif, melainkan subjek aktif yang<br>terlibat dalam merekonstruksi ingatan banjir melalui praktik tubuh dan lokakarya kolaboratif. Dengan<br>menghubungkan prosedur penanganan bencana yang sudah dikenal warga dengan eksplorasi<br>artistik, karya ini memfasilitasi penyembuhan berbasis tubuh, memperkuat resiliensi sosial, dan<br>menegosiasikan kembali makna ruang publik sebagai situs memori dan pemulihan. Penelitian ini<br>menegaskan bahwa koreografi partisipatoris melampaui fungsi estetika dan dapat berperan sebagai<br>strategi sosial-ekologis dalam pemulihan pascabencana. Hal ini menunjukkan potensi seni<br>pertunjukan kontemporer untuk memberdayakan komunitas, mentransformasikan trauma menjadi<br>narasi bersama, serta menegaskan kembali peran seni publik dalam membangun kota yang inklusif<br>dan tangguh.<br>Kata Kunci: koreografi partisipatoris, trauma ekologis, ruang publik, seni pertunjukan kontemporer,<br>pemulihan pasca-bencana, Indung Braga Berjaga</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4754 EDUKASI, IDENTITAS, DAN ESTETIK: PATUNG FIGURATIF DALAM DINAMIKA RUANG PUBLIK KOTA BANDUNG 2026-01-09T14:18:02+07:00 Gustiyan Rachmadi gustiyanrachmadi68@gmail.com Asep Miftahul Falah asepmiftahulfalah@gmail.com Sugiantoro sugiantoro@isbi.ac.id Didik Desanto didikdesanto@isbi.ac.id <p>Penelitian ini mengkaji peran patung figuratif di ruang publik Kota Bandung sebagai media edukasi,<br>representasi identitas, dan ekspresi estetik yang membentuk dinamika masyarakat perkotaan. Kota<br>Bandung memiliki sejumlah patung figuratif yang ditempatkan di titik strategis, namun pemahaman<br>masyarakat terhadap fungsi simbolis dan nilai edukatifnya masih terbatas. Melalui studi kasus tiga<br>patung, yaitu Patung Jenderal Ahmad Yani, Patung Pastor H. C. Verbraak, dan Patung Bola (ikon<br>Persib Bandung), penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan melalui<br>observasi, wawancara, serta analisis pendekatan semiotika visual. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa setiap patung memiliki dimensi makna yang berlapis: semangat patriotisme, nilai<br>kemanusiaan lintas budaya, serta identitas kolektif yang berhubungan erat dengan memori sosial<br>masyarakat kota Bandung. Namun, keberadaannya belum sepenuhnya berfungsi sebagai sarana<br>pendidikan publik karena minimnya media informasi pendukung (sign system), seperti papan narasi<br>dan penjelasan kontekstualnya. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa penguatan fungsi<br>edukatif patung figuratif melalui kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat sangat<br>diperlukan untuk menciptakan ruang publik yang memiliki nilai estetis, makna historis dan identitas<br>sosial masyarakat kota Bandung.<br>Kata kunci : patung figuratif, ruang publik, pendidikan seni, kota Bandung, masyarakat urba</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4755 ESTETIKA TEKNIK LUKIS SUNGGING PADA TOKOH BIMA WAYANG GOLEK SUNDA KLASIK DAN MODERN 2026-01-09T14:22:42+07:00 Hilman Cahya Kusdiana cahya.hilmank@gmail.com Lauda Al Fiqri laudaalfiqri@isbi.ac.id Nira Janifa Aulia nirajanifa@isbi.ac.id <p>Wayang golek Sunda merupakan warisan budaya yang memiliki kekayaan estetika, salah satunya<br>melalui teknik sungging pada dekorasi kepala. Perkembangan dari gaya klasik menuju modern<br>menampilkan perbedaan yang signifikan dalam penerapan sungging, baik dari sisi visual maupun<br>nilai estetikanya. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan penerapan teknik sungging pada<br>wayang golek klasik dan modern menggunakan teori estetika Monroe Beardsley, yang menekankan<br>tiga aspek utama yaitu kesatuan, kompleksitas, dan intensitas. Metode penelitian menggunakan<br>pendekatan kualitatif dengan studi komparatif melalui observasi langsung pada koleksi wayang golek<br>klasik di Museum Wayang Jakarta dan wayang golek modern di sentra produksi Jelekong, dilengkapi<br>dokumentasi dan wawancara dengan pengrajin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek<br>kesatuan, wayang golek klasik lebih konsisten dalam pemilihan warna dengan dominasi emas yang<br>serasi dengan bentuk mahkota, sedangkan wayang golek modern memperlihatkan kesatuan yang<br>lebih longgar akibat eksplorasi warna yang beragam. Pada aspek kompleksitas, wayang golek klasik<br>menampilkan kesederhanaan visual dengan gradasi terbatas, sementara wayang golek modern<br>menonjolkan kerumitan detail melalui kombinasi warna yang padat dan bervariasi. Pada aspek<br>intensitas, wayang golek klasik menghadirkan kesungguhan ekspresi simbolik tradisi, sedangkan<br>wayang golek modern menunjukkan intensitas pada daya tarik dekoratif untuk memperkuat performa<br>pertunjukan. Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran fungsi teknik sungging dari pewarisan<br>nilai simbolik ke arah inovasi estetika visual. Penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam upaya<br>pelestarian sekaligus pengembangan seni rupa tradisi di era modern.<br>Kata kunci : teknik sungging, wayang golek, klasik, modern, estetika, Monroe Beardsley</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4756 PAPALINGPANG: PENCIPTAAN MUSIK ARUMBA SEBAGAI GAGASAN MENGGUGAT OTENTISITAS MUSIK TRADISI 2026-01-09T14:28:06+07:00 Hinhin Agung Daryana hinhin_agung@isbi.ac.id Satria Mulya satriasatriamulya@gmail.com Rindia Dwi Putri rindiadwi@isbi.ac.id <p>Karya musik Papalingpang hadir untuk mengeksplorasi potensi hibriditas dalam musik Arumba,<br>dengan memadukan ciri khas musik bambu bersama elemen-elemen musikal lintas budaya.<br>Komposisi yang berdurasi enam menit ini disusun dengan pendekatan eksploratif, dengan<br>mengintegrasikan teknik permainan tradisional dengan pengolahan struktur, pola ritmis, harmoni,<br>dan unsur melodis dari tradisi musik budaya lain. Metode yang digunakan adalah penelitian berbasis<br>praktik (practice-based research) di mana penelitian dan praktik beroperasi sebagai proses yang<br>saling bergantung dan saling melengkapi. Secara teknis proses penelitian ini melibatkan observasi<br>lapangan, analisis repertoar arumba, serta praktik penciptaan yang eksploratif. Penelitian karya ini<br>menyoroti isu otentisitas dan hibriditas sebagai wacana kritis dalam penciptaan musik tradisi di Jawa<br>Barat. Eksplorasi ini berpijak pada pemahaman bahwa musik arumba memiliki perjalanan cukup<br>panjang sebagai medium kreativitas masyarakat Sunda, sekaligus terbuka terhadap inovasi. Hasil<br>karya menunjukkan bahwa hibriditas mampu menghadirkan gagasan baru tanpa menghilangkan<br>identitas musik Arumba. Perpaduan elemen musik bambu dengan instrumen non-bambu<br>menghasilkan timbre dan tekstur yang membuka ruang negosiasi dan apresiasi lintas budaya.<br>Kontribusi penelitian ini diharapkan dapat memperluas perspektif tentang kemungkinan<br>perkembangan musik tradisi di ruang kontemporer, sekaligus mengusulkan wacana baru bagi studi<br>musik bambu dan praktik komposisi berbasis lintas budaya.<br>Kata Kunci: Papalingpang, Arumba, Hibriditas, Otentisitas, Musik Tradisi, Sunda</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4757 INOVASI BENTUK PERTUNJUKAN KESENIAN KOROMONG BADUY SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT BADUY LUAR 2026-01-09T14:30:49+07:00 Hudaepah hudaepah.hudaepah@gmail.com Agustika Harini Sukma isemar.arthouse@gmail.com Dewi Haryaningsih dewiharyaningsih1@gmail.com <p>Salah satu kesenian tradisonal yang ada di Baduy adalah kesenian Koromong. Pada zaman dahulu<br>Kesenian Koromong Baduy ini merupakan salah satu kesenian yang digunakan untuk upacara<br>panen padi. Saat ini kesenian Koromong bentuk pertunjukannya mengalami pergeseran fungsi, dari<br>pertunjukan ritual ke dalam pertunjukan hiburan. Dalam perkembangannya di temukan dan di<br>identifikasi bahwa kesenian koromong mulai melakukan inovasi pada bentuk pertunjukannya. Dalam<br>proses inovasinya tidak banyak masyarakat mengetahuinya, bahkan di media pun tertutup,<br>seharusnya adanya media digital merupakan salah satu alat yang bisa digunakan untuk<br>memperkenalkan kesenian koromong terhadap masyarakat. Inovasi kesenain Koromong ini juga<br>berfungsi sebagai bahan pembelajaran bagi kesenian tradisional dalam berinovasi tanpa<br>menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya. Bentuk inovasi kesenian koromong Baduy sebagai penguat<br>identtitas budaya bagi masyarakatnya. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengkaji bentuk inovasi<br>kesenian Koromong Baduy dan melihat kontribusi inovasi terhadap penguat identitas budaya lokal<br>bagi masyarakat Baduy. Metode Penelitian ini menggunakan Etnografi dengan perspektif etnografi<br>digital, dengan mengumpulkan data-data terkait penelitian melalui media digital. Selain itu teknik<br>pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan<br>bahwa inovasi dalam aspek penyajian dan integrasi unsur-unsur modern seperti penambahan penari<br>dan penyanyi dalam pertunjukannya, lirik lagunya, dan alat musiknya telah berhasil meningkatkan<br>daya tarik pertunjukan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional. Dengan demikian, inovasi<br>pertunjukan Koromong tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai penguat<br>identitas budaya yang mampu memperkokoh keberlangsungan tradisi masyarakat Baduy luar di era<br>modern. Inovasi ini tidak hanya berperan sebagai media pelestarian budaya, tetapi juga sebagai<br>penguat identitas masyarakat baduy terhadap warisan budayanya.<br>Kata kunci : Inovasi, Bentuk pertunjukan, koromong Baduy, Penguat Identitas</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4758 JAYALAH NEGERIKU: TRANSFORMASI NARASI PERTUNJUKAN DALAM TARI DAN LAGU 2026-01-09T14:33:51+07:00 Ign. Herry Subiantoro ignherrysubiantoro@gmail.com Esa Akbar esaakbar@isbi.ac.id Shintia Putri Afrian shintiaputri@isbi.ac.id <p>JAYALAH NEGERIKU: Transformasi Narasi Pertunjukan dalam Tari dan Lagu adalah sebuah<br>transformasi naratif yang merayakan kecintaan pada tanah air dengan memadukan keragaman<br>budaya dan seni. Karya ini mempresentasikan nilai-nilai positif seperti keramahan, kepedulian, dan<br>penghormatan terhadap perbedaan untuk menginspirasi rasa kebersamaan dan nasionalisme.<br>Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara kreativitas artistik dan filosofi, dengan berfokus pada<br>peran keindahan untuk mengekspresikan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air dalam<br>mengantisipasi kesatuan antara kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Karya seni "Jayalah<br>Negeriku" bertujuan untuk memperkuat seni tradisional, membangkitkan rasa memiliki budaya, dan<br>mempromosikan keindahan Indonesia melalui pertunjukan tari dan musik. Bentuk koreografi<br>kinestetik tari etnik disajikan dalam format video dokumentasi. Metodologi penelitian menggunakan<br>pendekatan kualitatif dengan tahapan eksplorasi budaya lokal, improvisasi kreatif, dan komposisi<br>artistik. Proses penciptaan dipresentasikan melalui ekspresi gerak kinestetik etnis dan rangkaian<br>kata-kata positif yang mengelu-elukan keindahan budaya dan alam Indonesia. Hasil penelitian<br>menunjukkan terciptanya satu komposisi lagu dan koreografi tari yang mengintegrasikan beberapa<br>motif gerak tradisional Nusantara dengan lirik berbahasa Indonesia yang menggugah semangat<br>nasionalisme. Karya ini berhasil menciptakan media edukasi budaya yang efektif untuk memperkuat<br>identitas nasional dan melestarikan warisan budaya Indonesia bagi generasi muda melalui<br>pendekatan seni kontemporer yang mudah dipahami. Karya ini diharapkan dapat menggugah rasa<br>nasionalisme di Indonesia.<br>Kata kunci: Transformatif Naratif, Tari Tradisional, Nasionalisme Indonesia, Tari dan lagu.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4759 ANALISIS KESALAHAN MENULIS DALAM BAHASA INDONESIA PADA MAHASISWA DI ISBI BANDUNG 2026-01-09T14:38:55+07:00 Imam Akhmad imam.akhmad0507@gmail.com Badru Salam badruadcaster@gmail.com Annisa Hanif annisahanif161@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis keterampilan menulis dalam Bahasa Indonesia pada<br>mahasiswa di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Fokus penganalisisan dilakukan pada<br>empat aspek, yaitu 1) penggunaan kata baku dan tidak baku, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa<br>Indonesia dan Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan edisi V; 2) penggunaan kalimat efektif; 3)<br>pengembangan paragraf (kesatuan dan koherensi); serta 4) logika paragraf (alur, penalaran, dan<br>keterkaitan antargagasan). Metode penelitian yang dipakai yaitu metode deskriptif kualitatif dengan<br>analisis hasil penulisan 72 teks akademik yang ditulis oleh mahasiswa Prodi TV dan Film, Institut<br>Seni Budaya Indonesia (ISBI Bandung). Hasil penelitian menunjukkan terdapat kesalahankesalahan<br>dalam berbahasa yaitu kesalahan dalam kata baku sebesar 35%, kalimat tidak efektif<br>sebesar 28,42%, paragraf tidak padu sebesar 20,77%, serta kesalahan logika paragraf sebesar<br>15,78%. Kesalahan penulisan kata baku didominasi oleh penggunaan kata sehari-hari yang lazim<br>digunakan di media sosial, padahal sebenarnya tidak baku seperti “Ijasah”, “resiko”, “kwalitas”, dan<br>“antri”, penulisan “di” sebagai imbuhan atau preposisi masih sering tertukar. Kesalahan dalam<br>kalimat efektif, terdapat kalimat-kalimat pleonasme, pengulangan subjek, struktur S-P yang tidak<br>jelas, serta pemakaian konjungsi yang salah. Kesalahan dalam tataran paragraf, terdapat kesalahan<br>yang dilakukan banyak mahasiswa yaitu ketiadaan kalimat topik secara eksplisit, uraian dengan<br>logika yang melompat dengan perbedaan topik. Terakhir, kesalahan dalam logika paragraf<br>ditemukan pula yaitu adanya generalisasi yang tergesa-gesa dan sebab-akibat yang terbalik. Pada<br>penelitian ini dihasilkan temuan-temuan kesalahan berbahasa tersebut yang dapat menjadi data<br>awal dalam penyusunan materi-materi dalam pembelajaran.<br>Kata kunci: berbahasa, efektif, kalimat, kata-baku, keterampilan-menulis, logika, paragraf</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4760 BIOGRAFI INTELEKTUAL SUYATNA ANIRUN; JEJAK DAN PENGARUHNYA DALAM PERKEMBANGAN TEATER DI KOTA BANDUNG 2026-01-09T14:42:47+07:00 Irwan Jamaludin irwanjamal777@gmail.com <p>Penelitian ini merupakan studi biografi intelektual Suyatna Anirun, seorang tokoh sentral yang<br>memiliki pengaruh yang signifikan dalam perintisan dan perkembangan teater di Kota Bandung.<br>Urgensi penelitian ini didasarkan pada minimnya kajian spesifik yang mendokumentasikan<br>pemikiran, konsep, dan metodologi teater yang ia kembangkan, meskipun kontribusinya sangat<br>besar. Pemahaman utuh terhadap warisan intelektualnya penting untuk mengidentifikasi akar tradisi<br>keilmuan teater di Bandung, sekaligus menjadi pijakan bagi pengembangan studi teater di masa<br>depan. Dengan menggunakan pendekatan biografi-intelektual, penelitian ini bertujuan untuk<br>menemukan konsep-konsep dan merumuskan metode teater Suyatna Anirun. Untuk mencapai<br>tujuan tersebut, penelitian ini akan merekonstruksi dan menganalisis jejak keilmuan Suyatna Anirun<br>dengan mengumpulkan data tentang minat, kecenderungan, dan perkembangan pemikirannya sejak<br>masa kecil hingga dewasa dan kemudian menjadi seorang maestro teater terkemuka. Secara lebih<br>spesifik, penelitian ini berupaya: (1) mengidentifikasi dan mendeskripsikan gagasan kunci, karya<br>tulis, dan metodologi teater yang dikembangkan oleh Suyatna Anirun; (2) menganalisis bagaimana<br>pemikiran dan konsepnya memengaruhi praktik dan wacana teater di Bandung; dan (3) mengkaji<br>dinamika dan interaksi internal dalam lingkaran teaternya untuk memahami bagaimana hubungan<br>personal membentuk proses kreatif dan metodologinya. Luaran yang ditargetkan dari penelitian ini<br>adalah artikel ilmiah yang terpublikasi dalam jurnal nasional terakreditasi, monograf yang<br>mendokumentasikan biografi intelektualnya, serta diseminasi hasil penelitian melalui diskusi publik.<br>Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap studi sejarah teater<br>Indonesia, khususnya di Bandung, dan memperkaya khazanah pemikiran teater secara umum.<br>Kata Kunci: Suyatna Anirun, Biografi Intelektual, Teater Bandung</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4761 ORNAMENTASI SEBAGAI IDENTITAS RUANG GEDUNG KESENIAN SUNAN AMBU DALAM PERSPEKTIF GENIUS LOCI 2026-01-09T14:44:18+07:00 Khairul Mustaqin Khairulmust@gmail.com Carina Sarasati carinasarasati@gmail.com Bilal Ramadhan ramabill34@gmail.com <p>Identitas ruang dalam arsitektur tidak hanya terkait dengan aspek fungsional, tetapi juga berkaitan<br>dengan makna, simbol, dan pengalaman yang dirasakan pengguna. Dalam kerangka genius loci,<br>identitas ruang dipahami sebagai karakter khas yang lahir dari kebudayaan lokal dan diwujudkan<br>melalui elemen arsitektur, termasuk ornamentasi. Gedung Kesenian Sunan Ambu sebagai salah<br>satu pusat kegiatan seni di ISBI Bandung dipilih sebagai objek penelitian karena perannya sebagai<br>ruang pertunjukan sekaligus simbol budaya Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji<br>bagaimana ornamentasi membentuk identitas ruang Gedung Kesenian Sunan Ambu melalui<br>pendekatan konsep genius loci. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif<br>dengan tahapan penelitian melalui studi literatur, observasi lapangan, serta pengumpulan data<br>melalui kuesioner. Analisis dilakukan terhadap aspek visual ornamentasi yang terletak pada<br>beberapa elemen identitas ruang dengan pembahasan dari sudut pandang genius loci. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa ornamentasi pada Gedung Kesenian Sunan Ambu dapat<br>meperlihatkan identitasnya sebagai ruang kesenian dan pertunjukan. Namun dari perspektif genius<br>loci, ornamentasi yang ada belum sepenuhnya menampilkan nuansa budaya lokal (dalam konsteks<br>ini adalah budaya Sunda) yang seharusnya menjadi roh ataupun jiwa dari Gedung Kesenian Sunan<br>Ambu. Dengan demikian diperlukan penguatan elemen ornamentasi berbasis budaya lokal agar<br>identitas ruang yang terbentuk selaras dengan makna dan nilai budaya Gedung Kesenian Sunan<br>Ambu.<br>Kata kunci: ornamentasi, identitas ruang, genius loci, gedung kesenian Sunan Ambu</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4762 HARMONI DALAM ESTETIKA KOLABORATIF 2026-01-09T14:48:09+07:00 Lalan Ramlan lalanramlanisbi@gmail.com Jaja najawi2006@gmail.com Deri Al Badri deri.albadri93@gmail.com <p>Permasalahan harmoni dalam garap kolaborasi tari Jaipongan masih menjadi kendala yang cukup<br>signifikan, sebab berakibat pada terganggunya keutuhan sajian struktur koreografi, karena seringkali<br>terjadi jeda di luar irama tari. Substansi permasalahannya adalah penguasaan teknik akrobatik yang<br>tidak sempurna, terutama kasus ini terjadi pada tari Jaipongan kelompok putri dan tidak pernah<br>terjadi pada tari Jaipongan ‘jalu’. Berdasarkan pencermatan terhadap permasalah tersebut, sebagai<br>solusinya adalah memproduksi karya tari Jaipongan putra (jalu) melalui kegiatan penelitian terapan<br>dan sekaligus mensosialisasikannya kepada masyarakat. Terkait dengan upaya tersebut, penulis<br>melakukan kolaborasi dengan Sanggar Way Talatah Jawara Squad yang memfokuskan pada dance<br>sport yang mengandalkan dan mengembangkan kekuatan teknik akrobatik. Tujuan penelitian ini<br>menawarkan model tari Jaipongan jalu kolaboratif antara estetika tari jaipongan ‘jalu’ dan teknik<br>akrobatik dengan tetap menjaga harmoni yang menghasilkan satu bentuk repertoar tari Jaipongan<br>yang lebih atraktif, enerjik, maskulin, dan memiliki daya pesona tersendiri di luar karakteristik tari<br>Jaipongan pada umumnya..Penelitian terapan ini merupakan jawaban konkrit bagi upaya pelestarian<br>dan pengembangan jenis tarian putra (jalu). Karya tari Jaipongan ini dirancang dalam bentuk garap<br>kelompok, dengan menampilkan 5 orang penari putra. Untuk mewujudkan tujauan dan<br>permasalahan ini, digunakan metode participation action reseach (PAR) yang menyajikan prinsip<br>kesinambungan (siklus) antara partisipasi, riset, dan aksi. Sejalan dengan metode tersebut, dalam<br>penelitian ini digunakan teori estetika instrumental sebagai pisau bedah dalam mengeksplanasi hasil<br>(produk). Adapun Hasilnya adalah dicapai harmoni pada keutuhan dan keselarasan struktur<br>koreografi dengan unsur iringan (pirigan) tari dan re-desain busana tari, menjadi satu kesatuan<br>integral dalam membangun entitas dan identitas struktur tari Dharmaning Narpati.<br>Kata kunci: harmoni, estetika kolaborasi, jaipongan.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/Prosiding/article/view/4763 MANIFESTASI TRADISI LISAN BUDAYA SUMEDANG DALAM LAKON PALAGAN DI KUTAMAYA 2026-01-09T14:51:40+07:00 Lilis Sumiati lilissumiati1411@yahoo.com Eti Mulyati eti.mulyati31@gmail.com Pradasta Asyari prdstasyr@gmail.com <p>Di tengah tantangan pelestarian tradisi lisan, Wayang Orang Priangan Palagan di Kutamaya hadir<br>sebagai model revitalisasi inovatif dengan mengangkat narasi Babad Sumedang. Penelitian ini<br>membedah proses transformasi tradisi lisan tersebut menjadi pertunjukan yang relevan bagi audiens<br>kontemporer melalui pendekatan mixed-methods dan kerangka semiotika tripartisi Nattiez (poietic,<br>immanent, esthesic). Hasilnya menunjukkan bahwa strategi kreatif (poietic) mengangkat babad lokal<br>diterima sebagai pembaruan signifikan, koherensi struktur pertunjukan (immanent) berhasil<br>memadukan kaidah tradisi dengan elemen visual baru, sementara resepsi audiens (esthesic)<br>memperlihatkan keterlibatan emosional sekaligus apresiasi terhadap inovasi. Temuan ini<br>menggarisbawahi bahwa revitalisasi tradisi tidak ditentukan oleh konservasi puritan maupun inovasi<br>radikal, melainkan keseimbangan dinamis antara otentisitas dan relevansi kontekstual, di mana<br>makna pertunjukan senantiasa dinegosiasikan dalam interaksi antara panggung dan penonton.<br>Kata Kunci: Wayang Orang Priangan, Tradisi Lisan, Babad Sumedang, Revitalisasi Budaya,<br>Semiotika Pertunjukan, Resepsi Audiens.</p> 2025-12-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026