PENGEMBANGAN WISATA ALAM DAN PERTUNJUKAN KAULINAN BARUDAK DI SITUS GUNUNG HAWU PABEASAN

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Lilis Sumiati

Abstract

Situs Gunung Hawu Pabeasan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa
Barat, adalah salah satu daerah dengan potensi besar yang belum
sepenuhnya dikembangkan. Gunung Hawu dikenal karena keindahan
alamnya yang luar biasa, termasuk formasi batu kapur yang unik dan
fenomena alam yang menakjubkan. Namun, potensi wisata di kawasan
ini masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Dalam konteks pengembangan pariwisata, terutama yang
berkelanjutan, penting untuk menemukan cara-cara inovatif untuk
memanfaatkan potensi alam dan budaya lokal. Salah satu pendekatan
yang diusulkan dalam kajian ini adalah pengembangan wisata alam
yang dikombinasikan dengan pertunjukan panggung keliling tentang
Kaulinan Barudak dengan tema Imah Kuring, Lembur Kuring. Kaulinan
barudak adalah istilah dalam bahasa Sunda yang berarti “permainan
anak-anak.” Kata “kaulinan” berasal dari kata dasar “ulin,” yang
berarti bermain atau melakukan aktivitas yang menghibur, sementara
“barudak” berarti anak-anak. Jadi, kaulinan barudak merujuk pada
berbagai jenis permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anakanak
di masyarakat Sunda. Permainan ini biasanya dilakukan di luar
ruangan dan sering kali melibatkan unsur fisik, sosial, dan kreatif,
seperti berlari, melompat, atau bernyanyi bersama. Kaulinan barudak
juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan sosial yang mengajarkan anakanak
tentang kerja sama, sportivitas, dan kearifan lokal. Sementara
“Imah Kuring” dan “Lembur Kuring” adalah dua ungkapan dalam
bahasa Sunda yang mengandung makna mendalam tentang identitas,
kebersamaan, dan keterikatan dengan tempat tinggal serta kampung
halaman.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##