DAUR ULANG BARANG BEKAS SEBAGAI MEDIUM PERKUSI DI KOTA BANDUNG

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

M. Rudiana
Komarudin
Surya Fahrizal

Abstract

Dengan perubahan zaman yang terus berkembang, segala aspek kehidupan juga ikut terpengaruh. Kehidupan individu maupun kelompok tercermin dalam berbagai hal, mulai dari kebiasaan, perilaku, pola pikir, hingga etika kerja. Semua ini secara tidak langsung memengaruhi cara kita menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun demikian, dampak dari perubahan ini tidak selalu positif. Salah satu konsekuensi logis yang sering muncul adalah sikap ‘pembenaran diri’. Seseorang mungkin cenderung mempertahankan identitas pribadinya dengan keras, bahkan hingga pada tingkat egoisme. Mereka mungkin merasa perlu untuk menonjolkan diri mereka sendiri demi merasa diakui atau dihargai dalam lingkungan yang terus berubah.
Tidak jarang, fenomena ini memicu berbagai konflik dan ketegangan, baik dalam skala individu maupun kelompok. Ketika setiap orang atau kelompok hanya fokus pada kepentingan pribadinya, kerjasama dan solidaritas dapat tergerus. Hal ini dapat menghambat proses aktualisasi potensi masyarakat secara keseluruhan. Tatkala seseorang sudah tersentuh perasaan dan tergerak hatinya pada apa yang dilihat dan dirasakan pada saat itu, maka secara tidak langsung hal itu akan menjadi pemicu (rangsangan) dalam melakukan suatu aktivitas. Suatu kondisi yang secara faktual sulit untuk dienyahkan dan lekat dengan setiap individu sehingga hal ini akan menjadi identitas dan yang melekat pada dirinya pula. Setiap tindakan yang dilakukan seseorang, baik sengaja atau tidak sengaja senantiasa dipengaruhi oleh suasana hatinya dan hal ini akan nampak dari karya yang dibuatnya. Inilah yang lantas menjadikan bahwa karya tesebut benar-benar refleksi kejiwaan dari penciptanya.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##