FESTIVAL SENI, IDENTITAS BUDAYA, DAN CITY BRANDING: UPAYA PENINGKATAN EKONOMI DAN PARIWISATA BERBASIS BUDAYA LOKAL DI KOTA BANDUNG

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Neneng Yanti K. Lahpan
Bagas Dwipantara Putra
Iip Sarip Hidayana

Abstract

Bandung mempunyai posisi penting sebagai ibu kota Jawa Barat dan sebagai kota penyangga Jakarta sebagai ibu kota Indonesia. Didominasi oleh budaya urban, Bandung mempunyai ciri khas sebagai kota kreatif. Modernitas dan tradisi telah terjalin secara intensif di kota ini sehingga menjadikannya tempat yang menarik untuk menegosiasikan identitas budaya. Bandung mempunyai sejarah panjang sebagai pusat kreativitas dan seni. Kota ini memiliki ekspresi seni modern yang kaya dan sekaligus budaya tradisional yang masih terjaga. Sebagai kota seni dan budaya, Bandung telah lama dikenal dengan artis dan musisi ternama, mulai dari musik indie hingga outlet fashion independen yang berkembang sejak tahun 1970-an. Pada tahun 2008, Ridwan Kamil saat menjabat Walikota Bandung membentuk Bandung Creative City Forum untuk mendukung industri kreatif. Upayanya untuk mewujudkan Bandung sebagai “kota kreatif” dilakukan melalui beberapa festival kreatif. Selain itu, sejak tahun 2015, Bandung juga telah menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (Kim, 2017).
Kegiatan seni budaya di Bandung tercatat sejak R.A.A. Wiranatakusumah V pada tahun 1920-an saat menjabat sebagai Walikota Bandung, disusul oleh Koko Koswara (Mang Koko), Daeng Sutigna, Udjo Ngalagena, dan generasi berikutnya adalah Keluarga Bimbo yang terdiri dari Sam, Jaka, Acil dan Iin Parlina, Hary Roesli, Dwiki Darmawan, Elfa's, Purwacaraka, Indra Lesmana, Gilang Ramadan, dan lain sebagainya yang sebagian besar mengawali karir bermusiknya di Bandung. Tak hanya di bidang musik, beberapa seniman ternama pun lahir dan tinggal di kota ini, antara lain Rahman Sabur (Teater Payung Hitam), Iman Soleh (Celah-celah Langit), dari seni rupa ada Sunaryo bersama Selasar Sunaryonya, Tisna Sanjaya, dan Nyoman Nuarta juga membuka bengkel instalasi patungnya di kota tersebut. Sedangkan untuk tari, Raden Tjetje Soemantri, Enoch Atmadibrata, Tati Saleh, Gugum Gumbira, Irawati Durban Ardjo, Indrawati Lukman, serta generasi sekarang Mas Nanu Muda, Alfiyanto, Lena Guslina, Mira Tedjaningrum, Oos Koswara dan masih banyak lagi (Wawancara Deden Buleng, 2023).

##plugins.themes.academic_pro.article.details##