BUDAYA BERBAHASA: KONTAK BAHASA, BILINGUALISME, DIGLOSIA, ALIH KODE, CAMPUR KODE, INTERFERENSI, DAN INTEGRASI
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan. Koentjaraningrat yang dikutip Abdul Chaer dan Leonie (1990) dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, dimana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan (MA, 2021). Budaya adalah bagian integral dari interaksi antara bahasa dan pikiran (MA, 2021). Rina Devianty (2017) menyebutkan jika bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, bahkan bahasa sering juga disebutkan sebagai faktor dominan dari kebudayaan. Lebih lanjut dia menjelakan jika kebudayaandilihat dari sudut pandang ilmu bahasa adalah: 1) pengatur dan pengikat masyarakat penutur bahasa itu, 2) butir- butir dan satuan-satuan yang diperoleh manusia pemakai bahasa melalui jalur belajar atau pendidikan, 3) pola kebiasaan dan perilaku manusia, dan 4) suatu sistem komunikasi dalam masyarakat yang berperan dalam membentuk dan memelihara kesatuan, kerja sama, dan kehidupan. Dengan dasar-dasar di atas, maka, Revianty menyebutkan jika dalam kebudayaan bahasa berfungsi sebagai: 1) Sarana pengembangan kebudayaan; 2) Sarana pembinaan kebudayaan; 3) Jalur pemeliharaan dan penerus kebudayaan; 4) Jalur dan sarana inventarisasi kebudayaan. Jadi, bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan budaya manusia karena antara bahasa dan budaya ada semacam hubungan timbal-balik atau kausalitas. Bahasa merupakan salah satu hasil budaya, sedangkan budaya manusia banyak pula dipengaruhi oleh bahasa.