RELASI SINKRONIK TERBENTUKNYA EKOSISTEM KEBUDAYAAN DI KAWASAN MUAROJAMBI MELALUI PEMANFAATAN POTENSI HUTAN DAN SUNGAI

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Suhendi Afryanto

Abstract

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarojambi merupakan salah satu kawasan yang telah ditetapkan sebagai super prioritas destinasi wisata nasional dari pemerintah Indonesia. Penetapan yang sudah diberlakukan mengakibatkan dua sektor kementerian, yakni; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selama dua tahun berturut-turut (2023 – 2024) terus mendorong tumbuhnya ekosistem kebudayaan dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat untuk kesejahteraan dirinya. Kawasan yang di dalamnya ada candi peninggalan agama budha tersebut, sekira abad 7 – 12 Masehi menjadi pusat penyebaran agama budha yang cukup besar se-Asia Tenggara. Bahkan konon katanya, di kawasan tersebut hadir pula pusat pendidikan dan pelatihan bagi yang akan menjadi para pemuka agama budha (Widiatmoko, 2023: 9). Tentu saja dengan kondisi seperti itu, boleh jadi kawasan Muarojambi setiap tahunnya berdasarkan kalender hari besar agama budha akan ramai dari para pengunjung yang hadir dan datang dari berbagai peloksok wilayah Indonesia serta Asia Tenggara. Secara posisi, kawasan Muarojambi yang berdekatan dengan salah satu muara (sungai Batanghari) merupakan salah satu pusat transportasi melalui jalur sungai yang saat itu menjadi primadona. Oleh karena itu, tak dapat disangkal di kawasan yang kini menjelma menjadi salah satu kawasan unggulan untuk sektor kepariwisataan Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Mungkin bukan hanya pemanfaatan keberadaan sungai yang cukup besar dan panjang, namun di kawasan tersebut-pun memiliki sejumlah potensi budaya yang erat bersinggungan dengan alam lingkungannya (hutan).

##plugins.themes.academic_pro.article.details##