MOTIF SAKRALIMA: REPRESENTASI SIMBOL ASIA DALAM DESAIN BUSANA READY TO WEAR DELUXE

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Annisa Fitra
Wuri Handayani
Syafa Hasna Syakira

Abstract

Industri fashion global pada abad ke-21 berkembang dengan
laju yang sangat pesat. Perkembangan ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain kemajuan teknologi digital,
munculnya material baru yang lebih inovatif, serta
meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya identitas
budaya dalam busana. Fashion tidak lagi hanya dipahami
sebagai tren gaya hidup semata, melainkan juga sebagai
medium komunikasi, ekspresi diri, representasi identitas,
sekaligus sarana pelestarian tradisi (Kawamura, 2005; Bi & Yang,
2022; Mackie, 1992). Dalam konteks ini, busana diposisikan
sebagai artefak budaya sekaligus produk industri kreatif yang
terus mengalami transformasi seiring perubahan zaman
(Kawamura, 2005).
Di Indonesia, industri fashion merupakan salah satu
subsektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam
peta industri kreatif nasional. Sektor ini tidak hanya
memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian, tetapi
juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja, serta dalam
mempromosikan identitas bangsa di kancah internasional.
Perkembangan pesat ini tidak dapat dilepaskan dari akar tradisi
dan budaya lokal yang menjadi sumber inspirasi utama para
desainer. Batik, tenun, dan songket misalnya, telah diolah
kembali dalam bentuk busana kontemporer yang diterima di
pasar global. Pendekatan semacam ini menegaskan bahwa motif
tradisional bukan hanya artefak masa lalu, melainkan sumber
daya kultural yang dapat terus digali untuk memperkuat
identitas budaya dalam konteks modern (Sedyawati, 2006;
Rodliyah, 2024; Rismantojo, 2024).

##plugins.themes.academic_pro.article.details##