EKSPLORASI INSTRUMEN MUSIK BAMBU: SEBUAH UPAYA MENELUSURI POTENSI DAN HARAPAN DI TENGAH TERBATASNYA KOMPOSER

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Dinda Satya Upaja Budi
Hinhin Agung Daryana

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya
teknologi informasi telah memberikan dampak yang signifikan
terhadap eksistensi kesenian tradisional. Akibatnya, sebagian
besar kesenian tradisional semakin tersisih, bahkan ada yang
sama sekali tidak mendapat perhatian, baik dari para pelaku
sendiri, pemerintah, maupun dari masyarakat pendukungnya
(Budi, 2017). Fenomena tersebut tampak muncul pada kasus
instrumen suling diungkap Hidayatullah, bahwa Suling sebagai
alat musik, merupakan bagian sebagai pelengkap dari sebuah
kesenian. Namun demikian, saat ini suling belum mendapat
perhatian secara serius dari kalangan seniman khususnya para
praktisi seni atau seniman Sunda (Hidayatulloh, 2024)
Jawa Barat memiliki keberagaman jenis musik, terutama
musik tradisional yang berkembang dan tersebar di wilayah
masyarakat agraris. Sebagian besar di antaranya didominasi
oleh penggunaan instrumen bambu. Instrumen musik bambu
memiliki peran yang sangat penting dalam kesenian dan budaya
Indonesia, dengan contoh terkenal seperti angklung, suling,
celempung, atau Karinding. Namun demikian, meskipun
Angklung telah mendapatkan pengakuan internasional setelah
dimasukkan dalam UNESCO’s Representative List of Intangible
Cultural Heritage of Humanity, instrumen bambu lainnya belum
banyak mendapatkan perhatian yang sepadan.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##