BENTUK TRANSFORMASI SOSIOKULTURAL TEATER TUTUR KENDURI SKO: DARI SAKRAL KE PROFAN DALAM SEBUAH KONDISI ANTARA TRADISI DAN TANTANGAN DI ERA DIGITAL

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Monita Precillia

Abstract

Dalam bentang sejarah kebudayaan manusia tradisi lisan
(oral tradition) bukan sekadar medium penyampai cerita,
melainkan tulang punggung peradaban yang menjadi repositori
pengetahuan, nilai-nilai, dan identitas kolektif suatu masyarakat
(Ong, 1988). Di Nusantara, kekayaan tradisi lisan tersebut
termanifestasi dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah
teater tutur. Sebagai bentuk pertunjukan yang mengandalkan
kekuatan narasi dan vokal dari sang penutur (dalang atau
tukang tutur), teater tutur berfungsi sebagai "institusi budaya"
yang hidup, merekam, sekaligus mereproduksi memori sosial
dan kosmologi masyarakat pendukungnya (Hatley, 2008).
Salah satu praktek teater tutur yang masih bertahan di
Kumun Debai ada dalam Kenduri Sko, yang berasal dari
masyarakat kota Sungai Penuh provinsi Jambi namun telah
menjadi bagian dari dinamika budaya masyarakat Sungai
Penuh. Pada tradisi lisan terdapat nilai-nilai kearifan lokal,
pengetahuan tradisional, dan filosofi hidup masyarakat Kumun
Debai (Precillia, 2024a). Kenduri Sko berperan penting dalam
membentuk identitas budaya masyarakat Kumun Debai,
menyatukan masyarakat melalui tradisi dan nilai-nilai yang
bersama (Precillia, 2024b). Kumun Debai kental akan
kebudayaan, Adat istiadat, dan sistem kemasyarakatan yang
masih terjaga (Precillia & Julisa, 2022). Kesenian tradisi
merupakan bentuk representasi sosiologi kehidupan maupun
karakter masyarakat di Kumun Debai (Precillia, 2023).

##plugins.themes.academic_pro.article.details##