TRANSFORMASI BENTUK TENUN GARUT DAN TANTANGANYA DALAM KONTEKS PREDIKSI INDONESIA TREND FORECASTING 2025-2026
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Tenun merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya tertua
dalam sejarah peradaban manusia. Dalam konteks Indonesia,
khususnya di wilayah Garut, Jawa Barat, tenun tidak sekadar
produk tekstil, melainkan simbol dari identitas budaya dan nilainilai
lokal masyarakat Sunda (Sudarsono, 2021). Tenun tradisional
Garut dikenal melalui teknik anyamannya yang menggunakan Alat
Tenun Bukan Mesin (ATBM) serta motif-motif khas yang sarat
makna, seperti flora lokal, simbol geometris, dan filosofi alam
(Permatasari, 2020). Secara antropologis, produk tenun berperan
sebagai media narasi visual lintas generasi yang mengabadikan nilainilai
komunitas (Geertz, 1973).
Namun demikian, keberadaan tenun sebagai warisan
budaya tak lepas dari tantangan zaman yang semakin dinamis.
Globalisasi, digitalisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat
telah menggeser selera dan pola konsumsi, khususnya dalam
industri mode dan tekstil (Barnes & Lea-Greenwood, 2010). Oleh
karena itu, tenun tradisional seperti tenun Garut memerlukan
inovasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Inovasi dalam konteks ini tidak dimaknai sebagai penghapusan
nilai tradisi, melainkan sebagai proses transformasi bentuk,
fungsi, dan narasi visual agar sesuai dengan selera konsumen
kontemporer (Fletcher & Tham, 2019).