CATATAN KRITIS PADA KOMPOSISI TARI ENVIROMENTAL ART: KARYA TARI RIKSASATO SEBUAH MODEL EDUKASI MASYARAKAT BERBASIS LINGKUNGAN SEBAGAI INSPIRASI KEKARYAAN
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Alam beserta isinya merupakan anugerah Tuhan Yang Maha
Esa yang tidak ternilai harganya. Hutan, sebagai salah satu
bagian vital dari ekosistem bumi, sering disebut sebagai paruparu
dunia karena fungsinya dalam menyerap karbon dioksida,
menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan ekosistem,
sekaligus menjadi habitat jutaan spesies flora dan fauna.
Peranannya tidak hanya terbatas pada ranah ekologi, melainkan
juga menopang kehidupan sosial-ekonomi dan budaya
masyarakat di sekitarnya. Namun, dalam beberapa dekade
terakhir, kondisi hutan mengalami degradasi serius. Fenomena
deforestasi yang ditandai dengan penebangan liar, alih fungsi
lahan untuk perkebunan atau permukiman, serta eksploitasi
sumber daya alam yang berlebihan, telah mengakibatkan
hilangnya jutaan hektar hutan di berbagai wilayah dunia,
termasuk Indonesia.
Kerusakan hutan membawa dampak multidimensi. Dari sisi
ekologi, hutan yang dulunya lebat kini berubah menjadi lahan
gundul, sehingga memicu berkurangnya keanekaragaman
hayati, punahnya spesies, serta munculnya bencana ekologis
seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Dari sisi sosial,
deforestasi menimbulkan konflik antara manusia dan satwa liar
karena berkurangnya habitat serta sumber pangan alami.
Hewan-hewan yang kehilangan ruang hidup terpaksa mendekat
ke pemukiman penduduk untuk mencari makanan, sehingga
meningkatkan potensi interaksi negatif bahkan tragedi.
Sementara dari sisi budaya, hutan yang hilang berarti
terputusnya tradisi dan kearifan lokal yang selama ini berakar
kuat pada relasi harmonis antara manusia dan alam.