Bookchapter ISBI Bandung https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter <p>Kumpulan Naskah hasil penelitian dan Pkm yang disusun kedalam Bookchpater dengan bidang Seni dan Budaya dan di kelola oleh LPPM ISBI Bandung</p> LP2M ISBI Bandung en-US Bookchapter ISBI Bandung AI SEBAGAI MITRA BELAJAR: INOVASI DAN TANTANGAN DALAM MENULIS DI ERA DIGITAL https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4661 <p>Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat,<br>kecerdasan buatan atau artificial intellegece (AI) telah menjadi<br>bagian integral dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di<br>bidang pendidikan. Menurut Healey (Zebua &amp; dkk, 2023) AI<br>adalah teknologi berbasis sistem komputer yang<br>memungkinkan memiliki kemampuan untuk melakukan<br>kegiatan manusia yang membutuhkan intelegensi. Kehadiran AI<br>tidak lagi terbatas pada proses otomatisasi atau analisis data,<br>melainkan telah merambah ke dalam ranah kreatif seperti<br>menulis. Sebagai mitra belajar, AI menawarkan pendekatan baru<br>yang interaktif dan personal, memungkinkan pelajar untuk<br>mengembangkan kemampuan literasi mereka dengan cara yang<br>lebih menarik dan efisien. Kecerdasan buatan sendiri<br>didefinisikan sebagai (Sulistyowati, 2021): 1) Sistem yang<br>berpikir seperti manusia (Acting Humanly); 2) Sistem berpikir<br>layaknya manusia (thinking humanly); 3) Sistem berpikir rasional<br>(think rationally); 4) Sistem bertindak rasional (act rationally).</p> Ai Siti Zenab Shinta Anggraeni Raisya Putti Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 MOTIF SAKRALIMA: REPRESENTASI SIMBOL ASIA DALAM DESAIN BUSANA READY TO WEAR DELUXE https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4662 <p>Industri fashion global pada abad ke-21 berkembang dengan<br>laju yang sangat pesat. Perkembangan ini dipengaruhi oleh<br>berbagai faktor, antara lain kemajuan teknologi digital,<br>munculnya material baru yang lebih inovatif, serta<br>meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya identitas<br>budaya dalam busana. Fashion tidak lagi hanya dipahami<br>sebagai tren gaya hidup semata, melainkan juga sebagai<br>medium komunikasi, ekspresi diri, representasi identitas,<br>sekaligus sarana pelestarian tradisi (Kawamura, 2005; Bi &amp; Yang,<br>2022; Mackie, 1992). Dalam konteks ini, busana diposisikan<br>sebagai artefak budaya sekaligus produk industri kreatif yang<br>terus mengalami transformasi seiring perubahan zaman<br>(Kawamura, 2005).<br>Di Indonesia, industri fashion merupakan salah satu<br>subsektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam<br>peta industri kreatif nasional. Sektor ini tidak hanya<br>memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian, tetapi<br>juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja, serta dalam<br>mempromosikan identitas bangsa di kancah internasional.<br>Perkembangan pesat ini tidak dapat dilepaskan dari akar tradisi<br>dan budaya lokal yang menjadi sumber inspirasi utama para<br>desainer. Batik, tenun, dan songket misalnya, telah diolah<br>kembali dalam bentuk busana kontemporer yang diterima di<br>pasar global. Pendekatan semacam ini menegaskan bahwa motif<br>tradisional bukan hanya artefak masa lalu, melainkan sumber<br>daya kultural yang dapat terus digali untuk memperkuat<br>identitas budaya dalam konteks modern (Sedyawati, 2006;<br>Rodliyah, 2024; Rismantojo, 2024).</p> Annisa Fitra Wuri Handayani Syafa Hasna Syakira Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 MEMAHAMI PERAN MODAL SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MEMINIMALISIR TERJADINYA BENTUK KEKERASAN SIMBOLIK: SEBUAH STUDI KASUS DI SEKOLAH TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KABUPATEN BANDUNG https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4663 <p>Pendidikan telah menjadi pilar fundamental yang tidak<br>hanya membentuk karakter, tetapi juga menjalankan ilmu<br>pengetahuan serta keterampilan. Melalui pendidikan, individu<br>memperoleh nilai-nilai yang dibutuhkan untuk kemajuan diri<br>dan kolektif hingga mampu meningkatkan kualitas hidup<br>masyarakat secara keseluruhan. Namun, lingkungan<br>pendidikan tidak selalu terbebas dari berbagai bentuk<br>kekerasan. Kekerasan dalam pendidikan dapat terjadi dalam<br>berbagai bentuk seperti perundungan, kekerasan fisik,<br>pelecehan seksual, bahkan simbolik (Wibowo &amp; Chasif Ascha,<br>2023, hlm. 358). Dalam perspektif pendidikan, kekerasan<br>merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan karena esensi<br>dari proses pendidikan adalah upaya berkelanjutan untuk<br>memanusiakan manusia (Krisbiyantoro &amp; Lestari, 2008, hlm. 10).<br>Meskipun pendidikan memiliki tujuan mulia untuk<br>memanusiakan manusia, realitas di lapangan sering kali<br>menunjukkan adanya kontradiksi. Ironisnya, lingkungan yang<br>seharusnya menjadi tempat penanaman nilai-nilai kemanusiaan<br>justru dapat menjadi ruang di mana nilai-nilai tersebut<br>terdistorsi oleh praktik-praktik terselubung. Distorsi inilah yang<br>kemudian memunculkan bentuk kekerasan yang lebih sulit<br>dideteksi, namun dampaknya tidak kalah merusak.</p> Dadi Suhanda Tukuh Takdir Sembada Manda Firtza Rahman Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 EKSPLORASI INSTRUMEN MUSIK BAMBU: SEBUAH UPAYA MENELUSURI POTENSI DAN HARAPAN DI TENGAH TERBATASNYA KOMPOSER https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4664 <p>Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya<br>teknologi informasi telah memberikan dampak yang signifikan<br>terhadap eksistensi kesenian tradisional. Akibatnya, sebagian<br>besar kesenian tradisional semakin tersisih, bahkan ada yang<br>sama sekali tidak mendapat perhatian, baik dari para pelaku<br>sendiri, pemerintah, maupun dari masyarakat pendukungnya<br>(Budi, 2017). Fenomena tersebut tampak muncul pada kasus<br>instrumen suling diungkap Hidayatullah, bahwa Suling sebagai<br>alat musik, merupakan bagian sebagai pelengkap dari sebuah<br>kesenian. Namun demikian, saat ini suling belum mendapat<br>perhatian secara serius dari kalangan seniman khususnya para<br>praktisi seni atau seniman Sunda (Hidayatulloh, 2024)<br>Jawa Barat memiliki keberagaman jenis musik, terutama<br>musik tradisional yang berkembang dan tersebar di wilayah<br>masyarakat agraris. Sebagian besar di antaranya didominasi<br>oleh penggunaan instrumen bambu. Instrumen musik bambu<br>memiliki peran yang sangat penting dalam kesenian dan budaya<br>Indonesia, dengan contoh terkenal seperti angklung, suling,<br>celempung, atau Karinding. Namun demikian, meskipun<br>Angklung telah mendapatkan pengakuan internasional setelah<br>dimasukkan dalam UNESCO’s Representative List of Intangible<br>Cultural Heritage of Humanity, instrumen bambu lainnya belum<br>banyak mendapatkan perhatian yang sepadan.</p> Dinda Satya Upaja Budi Hinhin Agung Daryana Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 MAKNA FILOSOFIS DAN FUNGSI SOSIAL KESENIAN TRADISIONAL KOROMONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BADUY LUAR DI KANEKES LEBAK BANTEN https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4665 <p>Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai<br>wilayah. Oleh karena itu, negara ini memiliki beragam suku,<br>budaya, serta tradisi yang berbeda-beda di tiap daerah. Setiap<br>wilayah memiliki keunikan tersendiri dalam aspek budaya dan<br>tradisinya. Salah satunya adalah kehidupan masyarakat Baduy,<br>yang memiliki budaya, aturan, dan tradisi yang berbeda dari<br>daerah lain. Suku Baduy dikenal karena kuatnya mereka dalam<br>memegang adat istiadat dan tradisi yang berlaku di wilayahnya.<br>Mereka juga tidak menggunakan peralatan modern dalam<br>kehidupan sehari-hari, sehingga gaya hidup mereka masih<br>sangat tradisional, termasuk dalam bidang keseniannya (Nicky<br>Nurcahyani, 2023).<br>Masyarakat adat didefinisikan sebagai kelompok etnis atau<br>penduduk asli di suatu wilayah yang berbeda dengan kelompok<br>yang telah menetap dan menduduki, wilayah. Masyarakat adat<br>digambarkan sebagai penduduk asli ketika mereka<br>mempertahankan tradisi atau aspek lain dari budaya awal yang<br>mereka miliki. Masyarakat adat telah mampu menerapkan dan<br>mengadaptasi pengetahuan dan lembaga adat mereka untuk<br>mengatur dan mengelola lingkungan, seringkali bekerja sama<br>dengan aktor lain. Nilai-nilai lingkungan mengacu pada<br>persepsi hubungan seseorang dengan alam yang tercermin<br>dalam mengenali saling ketergantungan antara alam dan diri<br>kita sendiri (Ardiyansah &amp; Robby, 2023).</p> Hudaepah Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 KREATIVITAS WAYANG TAVIP 3D DALAM PROSES PEMBUATAN WAYANG MENGGUNAKAN BAHAN LIMBAH BOTOL PLASTIK DAN KAIN PERCA SEBAGAI BENTUK PERTUNJUKAN SENI BERDAKWAH DI PONPES FATHUL HUDA BOJONGKASO https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4666 <p>Pelatihan Pembuatan Wayang Tavip 3D Bahan Limbah<br>Botol Plastik dan Kain Perca di Pondok Pesantren Fathul Huda<br>Bojongkaso Kabupaten Bandung, merupakan bagian dari<br>program: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada<br>Masyarakat (LPPM) DIPA ISBI Bandung tahun 2025. Kegiatan<br>ini juga merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan<br>Tinggi yang bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata<br>kepada masyarakat, khususnya dalam peningkatan kapasitas<br>kompentensi, ketrampilan guru serta anak didik dalam<br>pengayaan alat peraga wayang tavip 3D untuk pertunjukan seni<br>berdakwah.<br>Wayang sebagai media dakwah dikenal sejak dulu ketika<br>para wali songo menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Kata<br>dakwah pada umumnya selalu identik dengan kegiatan<br>keislaman, khutbah, ceramah, tablik akbar dan yang lainnya.<br>Sedangkan kata dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu da’aa –<br>yad’u – da’watan yang artinya mengajak atau menyeru. Dengan<br>demikian arti “dakwah” tidak selalu berkaitan dengan kegiatan<br>keagamaan. “Mengajak atau menyeru” dapat diaplikasikan<br>dalam dialog antar personal atau kelompok. Sumber mengajak<br>atau menyeru bisa dari legenda, mitos, atau kisah-kisah dalam<br>ajaran agama. yang punya nilai edukasi tentang kebaikan.<br>Dakwah pada dasarnya bisa dilakukan dengan lisan, tulisan,<br>bahkan mungkin dengan mempergunakan perbuatan. Menurut<br>saifudin azhari, dakwah adalah segala aktivitas yang mengubah<br>suatu situasi lain yang lebih baik menurut ajaran islam.</p> M. Tavip Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 BENTUK TRANSFORMASI SOSIOKULTURAL TEATER TUTUR KENDURI SKO: DARI SAKRAL KE PROFAN DALAM SEBUAH KONDISI ANTARA TRADISI DAN TANTANGAN DI ERA DIGITAL https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4667 <p>Dalam bentang sejarah kebudayaan manusia tradisi lisan<br>(oral tradition) bukan sekadar medium penyampai cerita,<br>melainkan tulang punggung peradaban yang menjadi repositori<br>pengetahuan, nilai-nilai, dan identitas kolektif suatu masyarakat<br>(Ong, 1988). Di Nusantara, kekayaan tradisi lisan tersebut<br>termanifestasi dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah<br>teater tutur. Sebagai bentuk pertunjukan yang mengandalkan<br>kekuatan narasi dan vokal dari sang penutur (dalang atau<br>tukang tutur), teater tutur berfungsi sebagai "institusi budaya"<br>yang hidup, merekam, sekaligus mereproduksi memori sosial<br>dan kosmologi masyarakat pendukungnya (Hatley, 2008).<br>Salah satu praktek teater tutur yang masih bertahan di<br>Kumun Debai ada dalam Kenduri Sko, yang berasal dari<br>masyarakat kota Sungai Penuh provinsi Jambi namun telah<br>menjadi bagian dari dinamika budaya masyarakat Sungai<br>Penuh. Pada tradisi lisan terdapat nilai-nilai kearifan lokal,<br>pengetahuan tradisional, dan filosofi hidup masyarakat Kumun<br>Debai (Precillia, 2024a). Kenduri Sko berperan penting dalam<br>membentuk identitas budaya masyarakat Kumun Debai,<br>menyatukan masyarakat melalui tradisi dan nilai-nilai yang<br>bersama (Precillia, 2024b). Kumun Debai kental akan<br>kebudayaan, Adat istiadat, dan sistem kemasyarakatan yang<br>masih terjaga (Precillia &amp; Julisa, 2022). Kesenian tradisi<br>merupakan bentuk representasi sosiologi kehidupan maupun<br>karakter masyarakat di Kumun Debai (Precillia, 2023).</p> Monita Precillia Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 DESAIN MOTIF BATIK IKONIK SEBAGAI PENGUATAN IDENTITAS VISUAL DALAM KONTEKS BRANDING ISBI BANDUNG https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4668 <p>Fenomena persaingan yang semakin intensif dalam sektor<br>pendidikan tinggi telah menggeser posisi pengembangan citra<br>atau merek institusional dari sekadar opsi strategis menjadi<br>suatu imperatif esensial untuk mencapai keunggulan kompetitif<br>dan memastikan keberlanjutan jangka panjang. Dalam lanskap<br>global yang kian kompetitif, branding institusional tidak lagi<br>dapat dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai<br>komponen integral dari strategi manajerial, akademik, dan<br>kultural sebuah perguruan tinggi.<br>Prinsip ini menjadi semakin relevan bagi institusi<br>pendidikan tinggi yang berfokus pada bidang seni dan budaya,<br>seperti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, yang<br>menghadapi tantangan ganda: pertama, mempertahankan dan<br>meningkatkan kualitas akademik; kedua, mengartikulasikan<br>secara konsisten identitas, filosofi, serta kontribusi khas yang<br>membedakan institusi ini dalam khazanah pendidikan tinggi<br>dan kebudayaan nasional. Tantangan tersebut menuntut sebuah<br>strategi identitas visual yang tidak hanya berperan sebagai<br>elemen representatif, melainkan juga sebagai medium<br>komunikasi simbolik yang mampu membangun citra<br>institusional yang otentik, kredibel, dan berdaya saing.</p> Nadia Rachmaya Ningrum Budiono Haidarsyah Dwi Albahi Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 TRANSFORMASI BENTUK TENUN GARUT DAN TANTANGANYA DALAM KONTEKS PREDIKSI INDONESIA TREND FORECASTING 2025-2026 https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4669 <p>Tenun merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya tertua<br>dalam sejarah peradaban manusia. Dalam konteks Indonesia,<br>khususnya di wilayah Garut, Jawa Barat, tenun tidak sekadar<br>produk tekstil, melainkan simbol dari identitas budaya dan nilainilai<br>lokal masyarakat Sunda (Sudarsono, 2021). Tenun tradisional<br>Garut dikenal melalui teknik anyamannya yang menggunakan Alat<br>Tenun Bukan Mesin (ATBM) serta motif-motif khas yang sarat<br>makna, seperti flora lokal, simbol geometris, dan filosofi alam<br>(Permatasari, 2020). Secara antropologis, produk tenun berperan<br>sebagai media narasi visual lintas generasi yang mengabadikan nilainilai<br>komunitas (Geertz, 1973).<br>Namun demikian, keberadaan tenun sebagai warisan<br>budaya tak lepas dari tantangan zaman yang semakin dinamis.<br>Globalisasi, digitalisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat<br>telah menggeser selera dan pola konsumsi, khususnya dalam<br>industri mode dan tekstil (Barnes &amp; Lea-Greenwood, 2010). Oleh<br>karena itu, tenun tradisional seperti tenun Garut memerlukan<br>inovasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.<br>Inovasi dalam konteks ini tidak dimaknai sebagai penghapusan<br>nilai tradisi, melainkan sebagai proses transformasi bentuk,<br>fungsi, dan narasi visual agar sesuai dengan selera konsumen<br>kontemporer (Fletcher &amp; Tham, 2019).</p> Naufal Arafah Mira Marlianti Nibras Mumtaz Rohadatul ‘Aisy Salwa Putri Lingga Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 ALTERNATIF MODEL PEMBELAJAN SELF-REGULATED LEARNING (SRL) SEBAGAI BENTUK UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI DAN MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA PERGGURUAN TINGGI SENI DAN BUDAYA https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4670 <p>Institut Seni Budaya Indonesia Bandung merupakan salah<br>satu perguruan tinggi di Indonesia dengan fokus<br>menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang seni dan<br>budaya, sudah sepatutnya mahasiswa yang berada pada Institut<br>Seni Budaya Indonesia Bandung tersebut menjadi subyek<br>pendidikan tinggi seni dan budaya, serta mengembangkan<br>prestasi akademik dan non akademik di bidang seni dan budaya<br>tersebut. Hal ini sesuai dengan visi Institut Seni Budaya<br>Indonesia Bandung, yaitu: “ISBI Bandung menjadi institusi<br>Pendidikan Tinggi Seni Budaya yang berjati diri, berkualitas,<br>dan berdaya saing dalam skala lokal, nasional, dan global”.<br>Demi terwujudnya visi tersebut, Institut Seni Budaya Indonesia<br>Bandung menyusun misi sebagai berikut: 1) Menyelenggarakan<br>Tridarma Perguruan Tinggi di bidang seni budaya yang<br>memperkokoh karakter budaya bangsa; 2) Memberdayakan seni<br>budaya secara kreatif dan inovatif; 3) Membangun sumber daya<br>manusia unggul dan kompetitif; serta 4) Menjalin kerjasama seni<br>budaya dalam tingkat lokal dan global.</p> Nia Emilda Wanda Listiani Anrilia E.M. Ningdyah Biyan Surya Darma Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 BENTUK INOVASI PEDAGOGIK GURU PAUD MELALUI PEMBELAJARAN SENI TARI https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4671 <p>Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi<br>penting dalam pembentukan karakter, nilai, dan kemampuan<br>dasar manusia. Pada tahap ini, anak berada dalam masa<br>keemasan (golden age) di mana perkembangan kognitif,<br>emosional, sosial, dan fisik berlangsung sangat pesat. Oleh<br>karena itu, pembelajaran di tingkat PAUD tidak hanya<br>berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi lebih<br>menekankan pada pembentukan pengalaman belajar yang<br>menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan<br>perkembangan anak. Dalam konteks inilah, peran guru menjadi<br>sangat krusial, bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi<br>sebagai fasilitator pertumbuhan dan penggerak kreativitas anak.<br>Namun, realitas pendidikan PAUD di Indonesia masih<br>menghadapi sejumlah tantangan. Banyak lembaga pendidikan<br>yang masih berorientasi pada capaian kognitif semata,<br>sementara aspek afektif dan psikomotorik kurang mendapat<br>porsi yang memadai. Akibatnya, proses belajar menjadi kaku,<br>seragam, dan kurang memberi ruang bagi eksplorasi diri anak.<br>Guru sering kali terjebak dalam rutinitas administratif,<br>sementara dimensi artistik dan kreatif dalam pembelajaran<br>belum sepenuhnya dioptimalkan. Kondisi ini diperparah oleh<br>terbatasnya pelatihan yang berfokus pada inovasi pedagogik,<br>terutama dalam konteks pendidikan seni anak usia dini<br>(Bredekamp, 2019).</p> Otin Martini Sheila Kurnia Putri Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 CATATAN KRITIS PADA KOMPOSISI TARI ENVIROMENTAL ART: KARYA TARI RIKSASATO SEBUAH MODEL EDUKASI MASYARAKAT BERBASIS LINGKUNGAN SEBAGAI INSPIRASI KEKARYAAN https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4672 <p>Alam beserta isinya merupakan anugerah Tuhan Yang Maha<br>Esa yang tidak ternilai harganya. Hutan, sebagai salah satu<br>bagian vital dari ekosistem bumi, sering disebut sebagai paruparu<br>dunia karena fungsinya dalam menyerap karbon dioksida,<br>menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan ekosistem,<br>sekaligus menjadi habitat jutaan spesies flora dan fauna.<br>Peranannya tidak hanya terbatas pada ranah ekologi, melainkan<br>juga menopang kehidupan sosial-ekonomi dan budaya<br>masyarakat di sekitarnya. Namun, dalam beberapa dekade<br>terakhir, kondisi hutan mengalami degradasi serius. Fenomena<br>deforestasi yang ditandai dengan penebangan liar, alih fungsi<br>lahan untuk perkebunan atau permukiman, serta eksploitasi<br>sumber daya alam yang berlebihan, telah mengakibatkan<br>hilangnya jutaan hektar hutan di berbagai wilayah dunia,<br>termasuk Indonesia.<br>Kerusakan hutan membawa dampak multidimensi. Dari sisi<br>ekologi, hutan yang dulunya lebat kini berubah menjadi lahan<br>gundul, sehingga memicu berkurangnya keanekaragaman<br>hayati, punahnya spesies, serta munculnya bencana ekologis<br>seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Dari sisi sosial,<br>deforestasi menimbulkan konflik antara manusia dan satwa liar<br>karena berkurangnya habitat serta sumber pangan alami.<br>Hewan-hewan yang kehilangan ruang hidup terpaksa mendekat<br>ke pemukiman penduduk untuk mencari makanan, sehingga<br>meningkatkan potensi interaksi negatif bahkan tragedi.<br>Sementara dari sisi budaya, hutan yang hilang berarti<br>terputusnya tradisi dan kearifan lokal yang selama ini berakar<br>kuat pada relasi harmonis antara manusia dan alam.</p> Subayono Tyoba Armey Astyandro Putra Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01 APLIKASI MODEL EMPOWER-ICE DALAM PEMBERDAYAAN IBU RUMAH TANGGA DI KOMUNITAS KREATIF LAKSMININGRAT KABUPATEN GARUT MELALUI PELATIHAN POLA DAN MENJAHIT https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4673 <p>Pemberdayaan perempuan kini dianggap sebagai aspek<br>krusial dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.<br>Menurut Kabeer (2021), hakikat pemberdayaan tidak cukup<br>hanya dengan meningkatkan partisipasi perempuan, melainkan<br>memerlukan rencana yang sistematis untuk mencapai<br>kesetaraan gender dalam ranah keluarga dan masyarakat.<br>Pemberdayaan memungkinkan perempuan untuk<br>mengoptimalkan potensi yang dimiliki, memperoleh otonomi,<br>serta meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan yang<br>berdampak pada kehidupan mereka (UN Women, 2020). Dalam<br>perspektif ekonomi, wanita yang memiliki akses kepada sumber<br>daya dan pelatihan yang sesuai tidak hanya dapat<br>meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga berperan<br>sebagai penggerak dalam upaya pengentasan kemiskinan dan<br>peningkatan kesejahteraan komunitas secara keseluruhan<br>(Mariyanti &amp; Fitranita, 2021).<br>Dalam konteks Indonesia, dimana partisipasi tenaga kerja<br>perempuan terus bertumbuh, tantangan utama adalah<br>menjembatani kesenjangan modal, keterampilan teknis, dan<br>akses pasar bagi perempuan di tingkat akar rumput. Khususnya<br>ibu rumah tangga, meskipun memiliki potensi besar dan waktu<br>luang, mereka sering terkendala oleh rendahnya akses terhadap<br>pelatihan menjahit dan pembuatan pola pakaian berkualitas<br>yang mampu bersaing di pasar.</p> Sukmawati Saleh Suharno Keiko Aviva Nurfasilah Copyright (c) 2025 2025-12-01 2025-12-01