MAKNA SIMBOLIK RITUAL PUPUT PUSEUR DAN NGAGEULANGAN DI DUSUN LEBAKJATI DESA CILELES KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG
DOI:
https://doi.org/10.26742/jbe.v8i2.1614Keywords:
Antropologi, Budaya, Humaniora, Seni BudayaAbstract
ABSTRAK
Penelitian ini membahas pemaknaan ritual puput puseur dan ngageulangan, serta struktur ritual puput puseur dan ngageulangan dalam ritual pasca kelahiran pada masyarakat Lebakjati. Pemaknaan yang dihasilkan didapat melalui analisa dari informan, dari tindakan ritual, dan relasi simbol satu dengan yang lainnya. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskripsi kualitatif, dengan pendekatan antropologi simbolik sebagai landasan teori. Hasil penelitian menemukan bahwa ritual puput puseur dan ngageulangan ini dilakukan sebagai: 1) simbol permohonan, simbol penolak bala, simbol syukur, dan simbol penghormatan, 2) Makna puput puseur dan ngageulangan dapat dilihat dari tindakan budaya yang tampak, 3) Ritual puput puseur dan ngageulangan memiliki relasi antara simbol satu dengan simbol lainnya, yang memiliki tujuan untuk dapat keseimbangan dalam hidup.
Kata Kunci: Ritual, puput puseur dan ngageulangan, antropologi simbolik.
ABSTRACT
This study discusses the meaning of the puput puseur and ngageulangan, the rituals structure of the puput puseur and ngageulangan rituals in post-birth rituals in the Lebakjati community. The meaning generated through the analysis of the informants, from ritual actions, and the relation of symbols to one another. This research i conducted using a qualitative description method. This study uses a symbolic anthropological approach as the theoretical framework. The results of the study found that the puput puseur and ngageulangan rituals were carried out as: 1) Symbol of request, symbol of petition, symbol of repelling reinforcements, symbols of gratitude, and symbols of respect, 2) The meaning of puput puseur and ngageulangan can be seen from cultural actions 3) Ritual Puput puseur and the ngageulangan has a relationship between one symbol and another, which is the aim is to balance in life.
Keywords: rituals, puput puseur and ngageulangan, symbolic anthropology
References
Amaro, Firli Silvia. (2020). Makna Simbolik Dalam Tradisi Pemindahan Lawang Kori Di Nampudadi Petanahan, Kabupaten Kebumen. Skripsi pada program studi Sejarah Peradaban Islam, IAIN Purwekerto, Purwekerto.
Billyardi, Ramdhan. (2012). Tumbak Sewu Dan Beberapa Adat Sunda Yang Hampir Punah. Artikel Ilmiah Fakultas Perguruan dan Pendidikan, Universitas Muhammadiyah, Sukabumi.
Busro, Husnul Qodim .(2018). Perubahan Budaya dalam Ritual Slametan Kelahiran di Cirebon, Indonesia. UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Studi Agama dan Masyarakat, 14, (02). Hal 46.
Djunatan, Stephanus. (2013). Kekosongan Yang Penuh Sebuah Tafsiran Atas Kosmologi Sunda. Fakultas Filsafat, Parahyangan Catholic University, Bandung. Melintas, 29, (3). Hal 307.
Endraswara, Suwardi. (2006). Metode, Teori, Teknik, Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Fachrurrofi, Fachmi. (2019). Tradisi Babanyo di Kabupaten Bandung Barat untuk Bahan Pembelajaran di SMA. Cimahi. Lokabasa. 10, (1). Hal 47.
Faizal, Akhmad. (2014). Makna Simbolik Dari Tradisi Sajen Among-Among Dalam Memperingati Kematian (Studi Pada Masyarakat Desa Lamongrejo Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan). Skripsi pada Program Studi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Ampel, Surabaya.
Fauza, Nanda. (2010). Istilah-Istilah Sesaji Upacara Tradisional Jamasan Pusaka Di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri (Suatu Kajian Etnolinguistik). Skripsi pada Program Studi Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Febrianti, Putri, Risma M. Sinaga, Muhammad Basri (2018) Makna Material Tradisi Puputan Pada Masyarakat Jawa Di Dusun Ix Kampung Rukti Harjo Kecamatan Seputih Raman. Universitas Lampung, Lampung. Pesagi. 7, (1). Hal 2 .
Ferudyn, Ade Yusuf. (2013). Fungsi dan Makna Simbolik “Ati Kebo Se’unduhan” di Dalam Slametan Pernikahan Keluarga Keturunan demang Aryareja, Desa Grantung, Kec. Karangmoncol, Kab Purbalingga. Skripsi pada Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, Universitas Semarang, Semarang.
Geertz, Cilfford (1989). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Hadiyati, Diah Nur. (2016). Bentuk, Makna dan Fungsi Upacara Ritual Daur Hidup Manusia Pada Masyarakat Sunda. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya.
Indriyani, Iin. (2018). Tradisi Ngahuripan Sebagai Warisan Budaya Suku Sunda. IPI, Garut. Caraka. 4, (1). Hal 26.
Indriyani, Irna. (2015). Tantu. Skripsi pada Program Studi Tari, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Yogyakarta.
Koentjaraningrat. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Klarissa F, Setyobudi I, Yuningsih Y. (2019). Analisis Liminalitas pada Upacara Nyawen dan Mahinum di Dusun Sindang Rancakalong Sumedang. Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung. Budaya Etnika. 3, (1). Hal 31 .
R. Satjadibrata. (2005). Kamus Basa Sunda. Bandung: PT Kiblat Buku Utama
Setiawan, Irvan. (2016). “Mengenang” Upacara Ngalokat Walungan Cimanuk di Wilayah Genangan Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang, BNPB Jawa Barat, Bandung. Patanjala, 8, (1).
Setyobudi, I., (2020). Metode Penelitian Budaya (Desain Penelitian dan Tiga Kualitatif: Groundeth Theory, Life History, Narrative Personal). Bandung: Sunan Ambu Press.
Setyobudi, I., (2013). Paradoks Struktural Jakob Sumardjo: Menggali kearifan lokal budaya Indonesia. Bandung: Kelir.
Setyobudi, I., (2001). Menari di antara Sawah dan Kota: Ambiguitas Diri Petani-petani Terakhir di Kota Yogyakarta. Magelang: Indonesia Tera.
Setyobudi, I., (1997). Dunia yang Paradoks: Ambiguitas Diri Petani-petani di Pilahan Lor RW 12 Kelurahan Rejowinangun Kecamatan Kota Gede Kotamadya Yogyakarta. Skripsi Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Sastra. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Setyowati Anita, Hanif Muhammad. (2014). Peran Perempuan Dalam Tradisi Upacara Bersih Desa (Studi Kasus Di Desa Kiringan Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan), IKIP PGRI Madiun, Madiun. Agastya, 4, (1). Hal 15.
Sumardjo, Jakob. (2010). Estetika Paradoks. Bandung: STSI.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2024 Jurnal Budaya Etnika

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
You are free to:
- Share — copy and redistribute the material in any medium or format for any purpose, even commercially.
- Adapt — remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially.
- The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.
Under the following terms:
- Attribution — You must give appropriate credit , provide a link to the license, and indicate if changes were made . You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
- No additional restrictions — You may not apply legal terms or technological measures that legally restrict others from doing anything the license permits.
Notices:
You do not have to comply with the license for elements of the material in the public domain or where your use is permitted by an applicable exception or limitation .
No warranties are given. The license may not give you all of the permissions necessary for your intended use. For example, other rights such as publicity, privacy, or moral rights may limit how you use the material.

2.png)
1.png)







