RELIGIOMAGIS TUJUH PUSAKA INTI KERAJAAN SUMEDANG LARANG

Authors

  • Anindyta Fitriyani Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia
  • Nadiva Putri Agustina Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.26742/jbe.v8i2.3228

Keywords:

Religiomagis, Kerajaan Sumedang Larang, Tujuh Pusaka Inti

Abstract

ABSTRAK

Kerajaan Sumedang Larang merupakan kerajaan bercorak Islam di Jawa Barat yang berdiri sekitar abad ke-8 masehi. Kerajaan ini meninggalkan benda-benda pusaka yang sampai saat ini masih dapat disaksikan masyarakat. Kerajaan Sumedang Larang memiliki 7 pusaka inti yang dijaga kelestariannya melalui upaya kolektif masyarakat melalui ritual Ngumbah Pusaka dan juga melalui edukasi historis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami unsur religiomagis yang terkandung dalam 7 pusaka inti Kerajaan Sumedang Larang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi literatur. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur religiomagis pada 7 pusaka inti terletak pada kepercayaan masyarakat Kerajaan Sumedang Larang dalam proses pembuatan benda-benda pusaka yang bercampur dengan unsur spiritualitas pembuatnya seperti pemberian ritus-ritus, doa-doa atau melakukan puasa, sehingga mengonstruksi persepsi kesakralan dan kekeramatan terhadap 7 pusaka inti Kerajaan Sumedang Larang.

Kata kunci: religiomagis, Kerajaan Sumedang Larang, tujuh pusaka inti

 

ABSTRACT

The Sumedang Larang Kingdom was a kingdom in West Java. The kingdom has bequeathed heirlooms that are still observable in the present time. The objective of this study is to comprehend the magical and religious aspects present in the 7 fundamental artifacts of the Sumedang Larang Kingdom. This study employs a descriptive and qualitative research approach, utilizing data collection methods such as interviews, observation, and literature review. The employed data analysis technique encompasses data reduction, data display, and conclusion formulation. The study's findings indicate that the magical and religious aspects of the 7 key heirlooms are rooted in the beliefs of the people of the Sumedang Larang Kingdom. These elements are intertwined with the spiritual aspects of the creators, which involve performing rituals, offering prayers, and observing fasting. This arrangement evokes a sense of the sacred and divine nature of the 7 fundamental relics of the Sumedang Larang Kingdom.

Key words: Religious-Magic, Seven Key Heirlooms, Sumedang Larang Kingdom

References

Afandi, A. (2018). Kepercayaan animisme-dinamisme serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli di Pulau Lombok-NTB. Jurnal Historis| FKIP UMM, 1(1). https://doi.org/10.31764/historis.v1i1.202

Bauto, L. M. (2016). Perspektif agama dan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia (Suatu tinjauan sosiologi agama). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 23(2). https://doi.org/10.17509/jpis.v23i2.1616

Buana, P. P., Rustiyanti, S., & Suryamah, D. (2023). Struktur dalam dan Tritangtu: Kawin Cai di Babakan Mulya, Kuningan, Jawa Barat. Jurnal Budaya Etnika, 7(2).

Fitra Andriana, Y. (2017). Kajian fetisisme pada keris Jawa. Jurnal Rupa, 1(1). https://doi.org/10.25124/rupa.v1i1.735

Geertz, C. (1973). The impact of the concept of culture on the concept of man. In The interpretation of cultures. Basic Books, Inc.

Harari, Y. N. (2015). Sapiens: A brief history of humankind. Vintage.

Hosagrahar, J., Soule, J., Girard, L. F., & Potts, A. (2016). International Council on Monuments and Sites (ICOMOS): Cultural heritage, the UN Sustainable Development Goals, and the New Urban Agenda. ICOMOS Concept Note for the United Nations Agenda 2030 and the Third United Nations Conference on Housing and Sustainable Urban Development (HABITAT III), 16(1).

Koentjaraningrat. (1985). Pengantar ilmu antropologi. Aksara Baru.

Lismawanty, A., Dwiatmini, S., & Yuningsih, Y. (2021). Makna simbolis upacara ritual Nadran Empang di Desa Karangsong Kabupaten Indramayu (Kajian simbol dan makna). Jurnal Budaya Etnika, 5(2).

Lubis, M. (2013). Manusia Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Malaka, T. (2010). Madilog: Materialisme, dialektika, dan logika. Narasi.

Moleong, J. L. (2007). Metode penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Mochamad, R., Tubagus, N., Yanti, K. L., Sarip, I., & Budaya, P. A. (2021). Fungsi tradisi Ngumbah Pusaka Prabu Geusan Ulun Sumedang Larang. Jurnal Budaya Etnika, 4(1).

Nugroho, S. S. (2016). Pengantar hukum adat Indonesia. Pustaka Iltizam.

Setyobudi, I. (2020). Metode penelitian budaya (Desain penelitian dan tiga kualitatif: Grounded theory, life history, narrative personal). Bandung: Sunan Ambu Press.

Setyobudi, I. (2019). Exoticization of local and global: Exploitation in West Java tourism practice. In 7th International Symposium of Jurnal Antropologi Indonesia. Yogyakarta-Jakarta: Universitas Indonesia & Universitas Gadjah Mada.

Setyobudi, I. (2013). Paradoks struktural Jakob Sumardjo: Menggali kearifan lokal budaya Indonesia. Bandung: Kelir.

Setyobudi, I. (2001). Menari di antara sawah dan kota: Ambiguitas diri petani-petani terakhir di Kota Yogyakarta. Magelang: Indonesia Tera.

Tjaya, T. H. (2019). Tan Malaka, logika mistika, dan upaya pendasaran rasionalitas Indonesia. In Filsafat di Indonesia: Manusia dan budaya Indonesia. PT Kompas Media Nusantara.

Wijayanto, W., & Sudrajat, U. (2011). Keris dalam perspektif keilmuan. Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Zheng, X., Wang, R., Hoekstra, A. Y., Krol, M. S., Zhang, Y., Guo, K., Sanwal, M., Sun, Z., Zhu, J., Zhang, J., Lounsbury, A., Pan, X., Guan, D., Hertwich, E. G., & Wang, C. (2021). Consideration of culture is vital if we are to achieve the Sustainable Development Goals. One Earth, 4(2). https://doi.org/10.1016/j.oneear.2021.01.012

Downloads

Published

2024-12-23

How to Cite

Fitriyani, A., & Agustina, N. P. (2024). RELIGIOMAGIS TUJUH PUSAKA INTI KERAJAAN SUMEDANG LARANG. Jurnal Budaya Etnika, 8(2), 185–194. https://doi.org/10.26742/jbe.v8i2.3228

Citation Check