REVITALISASI RITUAL MITEMBEYAN SEBAGAI PELESTARIAN LEWAT YOUTUBE PADA KELOMPOK TANI SINDANG HURIP DI DUSUN SINDANG, DESA/KEC. RANCAKALONG, SUMEDANG, JAWA BARAT
DOI:
https://doi.org/10.26742/jbe.v9i2.4644Keywords:
revitalisasi budaya, ritual mitembeyan, kearifan lokal, pertanian tradisional, media digitalAbstract
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep dan metode revitalisasi ritual mitembeyan meuseul sebagai upaya pelestarian nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat petani Sunda di tengah perubahan sosial budaya akibat modernisasi pertanian, serta mendiseminasikan hasil revitalisasi melalui media digital. Modernisasi pertanian melalui penggunaan mesin penggiling gabah (huller) telah menyebabkan memudarnya praktik ritual mitembeyan yang sebelumnya menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan, kosmologi, dan kehidupan komunal petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan di Dusun Sindang, Desa/Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi ritual dilakukan melalui rekonstruksi bentuk otentik berbasis memori kolektif, reaktualisasi tahapan ritual, serta penggalian kembali makna simbolik dan nilai kearifan lokal yang mencakup nilai spiritual-religius, keselarasan dengan alam, dan solidaritas sosial komunal. Dokumentasi ritual melalui platform YouTube berfungsi sebagai arsip visual sekaligus strategi adaptif pelestarian budaya di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi ritual mitembeyan meuseul merupakan bentuk modernisasi selektif yang memungkinkan masyarakat petani mempertahankan identitas budaya dan nilai-nilai fundamental tanpa menolak kemajuan teknologi.
Kata kunci: revitalisasi budaya, ritual mitembeyan, kearifan lokal, pertanian tradisional, media digital.
Abstract: This study aims to formulate concepts and methods for revitalizing the mitembeyan meuseul ritual as an effort to preserve local cultural wisdom among Sundanese farming communities amid socio-cultural changes caused by agricultural modernization, as well as to disseminate the revitalization outcomes through digital media. The introduction of rice milling machines (hullers) has gradually diminished the practice of mitembeyan, which was previously an integral part of farmers’ belief systems, cosmology, and communal life. This research employs a qualitative method with an ethnographic approach conducted in Sindang Hamlet, Rancakalong Village/Subdistrict, Sumedang Regency. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and literature review. The findings indicate that ritual revitalization was carried out through reconstructing its authentic form based on collective memory, reactualizing ritual stages, and reinterpreting symbolic meanings and local wisdom values, including spiritual-religious beliefs, harmony with nature, and communal social solidarity. Digital documentation via YouTube functions as a visual archive and an adaptive strategy for cultural preservation in the digital era. The study concludes that revitalizing the mitembeyan meuseul ritual represents a form of selective modernization that enables farming communities to maintain cultural identity and fundamental values without rejecting technological advancement.
Keywords: cultural revitalization, mitembeyan ritual, local wisdom, traditional agriculture, digital
media.
References
Ari, E. A., & Ngiso, W. T. F. (2023). Revitalisasi tradisi adat zono (upacara syukur panen) masyarakat adat Desa Uluwae Kecamatan Bajawa Utara Kabupaten Ngada. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 6(3), 5252–5268.
Bahagia, B., Hudayana, B., Wibowo, R., & Rangkuti, Z. (2021). Nyi Pohaci Sang Hyang Sri value in leader perspective of Cipatat Kolot customary societies. Harmoni Sosial Jurnal Pendidikan IPS, 8(1), 1–12.
Eastman, N. (2020). Revitalization as ritual: Sacrifice, cities, and schooling. Philosophy of Education, 76(1), 96–109.
Fachreza, M. G. A., & Kurniawan, A. (2025). Revitalisasi upacara adat seren taun sebagai media edukasi kultural masyarakat Cigugur Kuningan. AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisplin, 8(2), 101–110.
Fauziyah, E. F., & Kosasih, A. (2021). Tokoh Nyi Pohaci Sanghyang Sri dalam wawacan Sulanjana dan carita pantun Sri Sadana: Tinjauan intertekstualitas Julia Kristeva. Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan, 16(1), 64–75.
Handayani, S. (2018). Agriculture and ritual: Pola komunikasi ritual slametan musim tanam padi di Ngemplak, Sambikerep, Surabaya. Jurnal Ilmu Komunikasi (J-KAI), 5(1), 40–50.
Heryana, A. (2012). Mitologi perempuan Sunda. Patanjala, 4(1), 156–169.
Holil, M. (2020). Myths of Nyi Pohaci Sanghyang Sri on Sundanese ethnic: Efforts to reconstruct the values of environmental conversation. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1–6. Purpose Led Publishing.
Horstmann, A., & Reuter, T. (2013). Religious and cultural revitalization: A post-modern phenomena? In Social Sciences in Asia: Faith in the Future (Vol. 32).
Junianto, Lestari, R. N. S., & Subdyo, A. T. (2017). Revitalisasi situs patirtan Watugede Singosari sebagai objek wisata spiritual berkelanjutan. Prosiding Seminar Heritage IPLBI, 171–176. Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang.
Kameswari, D., & Yusup, M. (2020). Kearifan lokal bercocok tanam pada masyarakat pedalaman suku bangsa Baduy. SINASIS, 1(1), 145–151.
Lestari, I. A. (2023). Makna tradisi mipit pare pada suku Sunda di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Discourse Journal of Social Studies and Education, 1(1), 1–7.
Lyman, L. (2024). Cultural revitalization. Redwood Roots Magazine, 4(8). https://digitalcommons.humboldt.edu/rr/vol4/iss1/8
Meyanti, L., Adwina, R., Harriyadi, Nugroho, D., Wiryandara, H. A., & Sumiartini, K. S. (2024). Sakral dan profan: Pandangan masyarakat Jawa Kuno terhadap peran serta fungsi hutan berdasarkan prasasti dan relief. WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi, 22(2), 141–162.
Nastiti, T. S. (2020). Dewi Sri dalam kepercayaan masyarakat Indonesia. Tumotowa, 3(1), 1–12.
Pasek, I., & Yudarta, I. G. (2015). Revitalisasi musik tradisional prosesi adat Sasak sebagai identitas budaya Sasak. Jurnal SEGARA WIDYA, 3(1), 367–375.
Prabowo, Y. B., & Sudrajat. (2021). Kasepuhan Ciptagelar: Pertanian sebagai simbol budaya dan keselarasan alam. Jurnal Adat dan Budaya, 3(1).
Setyobudi, I. (2020). Metode penelitian budaya (Desain penelitian dan tiga model kualitatif: Grounded research, life history, narrative personal). Sunan Ambu Press.
Sukmayadi, Q. M., Octavianti, M., Mulyana, R., & Fadhila, S. A. (2025). Tradisi upacara nyalin dan upacara ngamandian munding masyarakat Sunda dalam panen padi sebagai pendorong keberlanjutan pertanian. UMBARA: Indonesian Journal of Anthropology, 10(1), 15–29.
Syarifuddin, D. (2020). Nilai budaya tanam padi sebagai daya tarik wisata. Media Wisata, 18(2).
Setyobudi, Imam. (2020). Metode Penelitian Budaya: Desain penelitian & tiga model kualitatif. Bandung: Sunan Ambu Press.
Wijana, I Dewa Putu. (2011). The Development of Bahasa Indonesia in mUlticultural Context: A Case Study of Adoloscent’s Slang. Jurnal Humaniora. 23 (1). Hal 71-78.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
You are free to:
- Share — copy and redistribute the material in any medium or format for any purpose, even commercially.
- Adapt — remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially.
- The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.
Under the following terms:
- Attribution — You must give appropriate credit , provide a link to the license, and indicate if changes were made . You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
- No additional restrictions — You may not apply legal terms or technological measures that legally restrict others from doing anything the license permits.
Notices:
You do not have to comply with the license for elements of the material in the public domain or where your use is permitted by an applicable exception or limitation .
No warranties are given. The license may not give you all of the permissions necessary for your intended use. For example, other rights such as publicity, privacy, or moral rights may limit how you use the material.

2.png)
1.png)







