https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/issue/feedJurnal Budaya Etnika2025-12-22T13:29:40+07:00Imam Setyobudisetyobudiimam@gmail.comOpen Journal Systems<div id="focusAndScope"> <p><strong>Jurnal Budaya Etnika</strong> has been registered with the number ISSN <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2798-1878">2798-1878(Online) </a>and <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2549-032X" target="_blank" rel="noopener">2549-032X(Print)</a>. Jurnal Budaya Etnika apply the peer-reviewed process in selecting high quality article based on scientific research and theoretical by the by <strong>Departement of Cultural Anthropology, Faculty of Culture and media, ISBI Bandung.</strong> This journal collaborated with <a href="https://drive.google.com/file/d/1TmXO_FV-6TTXSdSsf0P-aCABi8-bt0g3/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">ADJASI with Memorandum of Understanding (MoU)</a> and <a href="http://asosiasiantropologi.or.id/tentang-aai/" target="_blank" rel="noopener">Asosiasi Antropologi Indonesia Pengda Jabar</a>, with <a href="https://drive.google.com/file/d/13-CwplRiCZLD6eW4TnLyErEwrG-JEiTj/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">Memorandum of Understanding (MoU) no: B/701/IT8.6/HK.07.00/2019</a> </p> <p> </p> <p><strong>Focus Areas: </strong></p> <ul> <li>Cultural Anthropology</li> <li>Humanities</li> <li>Social Sciences</li> </ul> <p> </p> </div> <div id="publicationFrequency"> <p><strong>Jurnal Budaya Etnika</strong> has been accredited <em>Sinta 3</em> by Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen Dikti No. <a href="https://drive.google.com/file/d/1w3hAne7jUplW1_uxCp3Mje1I2A5RdbtO/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">10/C/C3/DT.05.00/2025</a>)</p> <p> </p> <p><strong>Jurnal budaya Etnika</strong> published by the Department of Cultural Anthropology ISBI Bandung twice a year in <strong>June</strong> and <strong>December</strong>.</p> <p> </p> </div> <div id="history"> <p>Thus, we invite Academics, Researchers, and Practitioners to participate in submitting their work to this journal.</p> </div>https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/4166SENI ADAT TUTUNGGULAN KAMPUNG ADAT CIKONDANG PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT2025-10-22T09:51:18+07:00Feby Mutia Maharanifeby24maharani@upi.eduDelina Davina Putridelinadavina8@upi.eduMarsha Najwa Aliamarshanajwa.1@upi.eduNaya Haniyyahnayaahnyyh@upi.eduGita Agisnigita.as@upi.eduMuhammad Zuhdan Izzatul Ulyazuhdann223@upi.eduMamat Supriatnama2t.supri@upi.edu<p><strong>Abstrak:</strong> Tutunggulan merupakan salah satu tradisi Kampung adat Cikondang yang sudah <br />dilaksanakan secara turun-temurun. Budaya tersebut merupakan aset penting dalam menjaga tradisi yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Kampung adat Cikondang. Budaya ini sering dikaitkan dengan simbol-simbol dan rasa syukur atas rezeki yang diturunkan oleh Allah SWT. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolik, mendeskripsikan dan mengamati budaya tutunggulan yang setiap tahun dilaksanakan tersebut. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang diperoleh dari data lapangan, wawancara mendalam bersama masyarakat dan studi literatur mengenai warisan budaya di Kampung adat Cikondang. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan, diantaranya (1) sejarah mengenai budaya tutunggulan, (2) arti dan makna simbolik dari budaya tutunggulan. <br /><br />Kata kunci: Tutungggulan, warisan, Leluhur <br /><br /><br /><strong>Abstract:</strong> Tutunggulan is one of the traditions of Cikondang traditional village that has been carried out for generations. The culture is an important asset in maintaining the traditions carried out every year by the Cikondang indigenous village community. This culture is often associated with symbols and gratitude for the sustenance sent down by Allah SWT. This research aims to explore the symbolic meaning, describe and observe the tutunggulan culture that has been carried out every year. This article uses a descriptive qualitative approach obtained from field data, in-depth interviews with the community and literature studies on cultural heritage in Cikondang traditional village. This research produces findings, including (1) the history of tutunggulan culture, (2) the meaning and symbolic significance of tutunggulan culture. <br /><br />Keywords: Tutunggulan, Heritage, Ancestor</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/4194INOVASI JURNALISME SENI BUDAYA PADA INSTAGRAM NABIL MUHDOR @BILLMOHDOR2025-06-17T20:24:24+07:00Firman Pribadifierpribadi77@gmail.comCatur Nugrohodenmasnuno@telkomuniversity.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini menjelaskan bagaimana media sosial menjadi ruang partisipatif yang <br />mendorong munculnya praktik jurnalisme warga yang kreatif dan edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis konten untuk mengkaji praktik jurnalisme seni budaya yang dilakukan oleh Nabil Muhdor melalui akun Instagram @billmohdor. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi digital, dan wawancara mendalam dengan kreator dan pengikut aktif. Konten visual, narasi, dan interaksi audiens dianalisis untuk memahami strategi komunikasi dan bentuk inovasi yang digunakan. Temuan menunjukkan bahwa Instagram tidak hanya menjadi sarana berbagi konten, tetapi juga ruang aktualisasi jurnalisme kreatif yang memadukan visual sederhana, narasi reflektif, dan nilai-nilai budaya lokal. Nabil berhasil menyajikan konten yang akurat, otentik, dan menyentuh, serta memanfaatkan fitur Instagram secara strategis untuk membangun komunikasi dua arah yang partisipatif. Inovasi ini berdampak pada pola konsumsi budaya audiens yang menjadi lebih aktif, reflektif, dan kolaboratif, serta memperkuat posisi media sosial sebagai ruang literasi dan pelestarian budaya di era digital.</p> <p style="font-weight: 400;"><br />Kata Kunci: Jurnalisme masyarakat, Difusi Inovasi, Jurnalisme Digital, Media Sosial Instagram, Seni Budaya. <br /><br /><strong>Abstract:</strong> This research explains how social media becomes a participatory space that encourages the emergence of creative and educative citizen journalism practices. This research uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method to examine the practice of cultural arts journalism carried out by Nabil Muhdor through the Instagram account @billmohdor. Data were collected through observation, digital documentation, and in-depth interviews with creators and active followers. Visual content, narratives, and audience interactions were analyzed to understand the communication strategies and forms of innovation used. The findings show that Instagram is not only a means of sharing content, but also a space for actualizing creative journalism that combines simple visuals, reflective narratives, and local cultural values. Nabil succeeded in presenting accurate, authentic and touching content, and strategically utilized Instagram features to build participatory two-way communication. This innovation has an impact on the audience's cultural consumption patterns which have become <br />more active, reflective and collaborative, and strengthens the position of social media as a space for literacy and cultural preservation in the digital era. <br /><br />Keywords: Citizen journalism, Diffusion of Innovation, Digital Journalism, Instagram Social Media, <br />Cultural Arts</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/4315PERSEPSI PENONTON TERHADAP COSPLAYER PADA EVENT COSPLAY DI KOTA KENDARI2025-08-01T11:47:12+07:00Rizky Nur AmaliaKikyantropologi@gmail.comNasruddin SuyutiKikyantropologi@gmail.comAbdul Jalilabduljalil.uho@gmail.com<p><strong>Abstrak:</strong> Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya populer Jepang seperti anime, manga, dan cosplay dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini memicu tumbuhnya komunitas penggemar di Kota Kendari yang aktif menggelar event cosplay sejak 2012. Cosplay menjadi media ekspresi diri, kreativitas, dan identitas sosial, namun memunculkan beragam persepsi di masyarakat, dari yang menganggapnya seni hingga yang melihatnya aneh. Setelah pandemi, aktivitas cosplay kembali marak dan menarik perhatian publik. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji persepsi penonton terhadap cosplayer serta faktor yang memengaruhinya, mengingat hal ini dapat memengaruhi penerimaan subkultur tersebut di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi penonton terhadap cosplayer pada event cosplay di Kota Kendari serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif etnografi dengan teknik <br />observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri dari anggota komunitas cosplay, penonton, dan panitia event. Data dianalisis dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead (1934) melalui tahap kategorisasi fenomena, pelabelan kategori, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran persepsi masyarakat dari yang awalnya menganggap cosplay aneh menjadi lebih positif seiring meningkatnya intensitas event cosplay dan interaksi langsung antara cosplayer dan penonton. Kini cosplay dipandang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai seni, kreativitas, dan ekspresi identitas yang diterima dalam masyarakat Kota Kendari. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa cosplay di Kota Kendari kini semakin diterima sebagai bagian dari seni, kreativitas, dan ekspresi identitas, seiring meningkatnya pemahaman dan interaksi masyarakat dengan para cosplayer. Oleh karena itu, disarankan agar event cosplay terus difasilitasi dan melibatkan berbagai elemen masyarakat guna memperkuat penerimaan sosial, sekaligus mengedukasi publik tentang nilai positif di balik budaya populer ini. <br /><br />Kata kunci: cosplay, persepsi penonton, budaya popular, anime, manga <br /><br /><strong>Abstract:</strong> In the era of globalization and technological advancement, Japanese popular culture such as anime, manga, and cosplay has quickly spread to various countries, including Indonesia. This has sparked the growth of a fan community in Kendari City, which has been actively holding cosplay events since 2012. Cosplay has become a medium for self-expression, creativity, and social identity, but it has also given rise to various perceptions in society, from those who consider it art to those who see it as strange. Following the pandemic, cosplay activities have resurfaced and gained public attention. Therefore, it is important to examine audience perceptions of cosplayers and the factors influencing them, as this can impact the acceptance of this subculture in society. This study aims to identify and describe audience perceptions of cosplayers at cosplay events in Kendari City, as well as the factors influencing these perceptions. This study employs a qualitative ethnographic method using participatory observation and in-depth interviews with eight informants consisting of cosplay community members, spectators, and event organizers. Data were analyzed using George Herbert Mead's (1934) Symbolic Interactionism theory through the stages of phenomenon categorization, category labeling, and conclusion drawing. The results of the study indicate a shift in public perception from initially viewing cosplay as strange to a more positive outlook as the intensity of cosplay events increases and direct interaction between cosplayers and spectators grows. Today, cosplay is not only seen as entertainment but also as art, creativity, and a form of identity expression accepted within the <br />community of Kendari City. Based on this, it can be concluded that cosplay in Kendari City is increasingly accepted as part of art, creativity, and identity expression, alongside growing public <br />understanding and interaction with cosplayers. Therefore, it is recommended that cosplay events <br />continue to be facilitated and involve various community elements to strengthen social acceptance while educating the public about the positive values behind this popular culture. <br /><br />Keywords: cosplay, audience perception, popular culture, anime, manga</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/4227RITUAL BALIMAU MINANGKABAU: TRADISI PENYUCIAN DIRI DAN TRANSFORMASI SOSIAL 2025-06-21T22:29:06+07:00Azizul Rahman Dimiazizulrahman1414@upi.eduHery Supiarzaherysupiarza@upi.eduMuhammad Arjun Pratama2310512062_muhammad@student.unand.ac.id<p><strong>Abstrak:</strong> Artikel ini membahas ritual Balimau sebagai tradisi penyucian diri masyarakat Minangkabau menjelang Ramadan. Permasalahan penelitian mencakup asal-usul, makna, dan transformasi sosial dalam pelaksanaannya. Kajian ini berlandaskan pada teori fungsionalisme budaya dan simbolisme Clifford Geertz, dengan metode studi dokumentasi terhadap literatur budaya dan jurnal ilmiah. Hasil analisis menunjukkan bahwa ritual Balimau memiliki dimensi religius dan sosial yang penting, namun mengalami pergeseran makna akibat modernisasi dan komersialisasi. Diskusi menyoroti perlunya pelestarian nilai-nilai adat dan keagamaan dalam praktik budaya lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian budaya dan menawarkan rekomendasi pelestarian tradisi Balimau yang sesuai konteks zaman. <br /><br />Kata kunci: Balimau, Minangkabau, Tradisi, Modernisasi, Simbolisme <br /><br /><strong>Abstract:</strong> This article explores the Balimau ritual, a Minangkabau tradition of physical and spiritual purification before Ramadan. The research addresses issues of origin, meaning, and socio-cultural transformation of the ritual. Grounded in cultural functionalism and Clifford Geertz’s symbolic theory, this study uses document-based research through literature and cultural archives. Findings reveal that Balimau holds strong religious and social values but has shifted in meaning due to modernization and commercialization. The discussion emphasizes the importance of preserving both traditional and spiritual values in the face of cultural change. This study contributes to cultural discourse and offers recommendations for sustaining the Balimau tradition in a contemporary context. <br /><br />Keywords: Balimau, Minangkabau, tradition, modernization, symbolism</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/4029 EKSISTENSI KEBAYA MODERN DALAM IDENTITAS BUDAYA PEREMPUAN JAWA GEN Z DI ERA KONTEMPORER 2025-05-30T12:29:19+07:00Annisa Laila Gustiavani nisaannisalaila2003@gmail.comSuwardi Endraswarasuwardi_endraswara@yahoo.comGhis Nggar Dwiadmojo ghisnggar@uny.ac.id<p><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa yang mengalami transformasi di era generasi Z dan era kontemporer saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei berupa kuisioner. Objek kajian dalam penelitian ini yaitu eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa. Subjek penelitiannya yaitu perempuan Jawa generasi Z. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pada era kontemporer saat ini, perkembangan budaya semakin pesat, sehingga melahirkan berbagai model kebaya baru yang lebih modern. Kebaya ini yang kemudian dijadikan sebagai inovasi yang sangat populer di kalangan generasi Z saat ini, khususnya pada perempuan Jawa. Mereka menjadikan kebaya modern sebagai alat untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas sebagai identitas perempuan di Jawa tanpa harus menghilangkan makna dan filosofi budaya yang sudah melekat di dalamnya. <br /><br />Kata kunci: Eksistensi, Kebaya, Gen Z, Kontemporer <br /><br /><br /><strong>Abstract:</strong> This research aims to the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women who have undergone transformation in the era of generation Z and the current contemporary era. The method is a qualitative descriptive method with data collection techniques through a survey in the form of a questionnaire. The object of this research is the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women, and the subjects are Javanese women of generation Z. The results show that in the current contemporary era, cultural development is increasingly rapid, thus giving birth to various new, more modern kebaya models. This kebaya then became a very popular innovation among Generation Z today, especially among Javanese women. They use modern kebaya as a tool to freely express themselves as a Javanese woman's identity without having to eliminate the meaning and cultural philosophy that is inherent in it. <br /><br />Keywords: Existence, Kebaya, Gen Z, Contemporary</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/169-178BIDAI TIKAR DAYAK DALAM MENUNJANG EKONOMI MASYARAKAT PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA 2024-12-17T09:11:31+07:00Nanang Nanangnanang23092@gmail.comZul Ariansyahe1012211054@student.untan.ac.idIra Patrianiira.patriani@fisip.untan.ac.idIving Arisdiyotoiving.arisdiyoto@fisip.untan.ac.id<p><strong>Abstrak:</strong> Anyaman bidai adalah sebuah hasil dari kreativitas berbasis kearifan lokal yang memiliki berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu produk andalan UMKM Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan UMKM yang ada di Jagoi Babang sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat yang merupakan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Pengumpulan data pada tulisan ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif studi literatur, data yang digunakan pada tulisan ini lebih berupa data sekunder yang dikumpulkan melalui proses studi literatur. Lokasi ini dipilih karena dari data yang ditemukan menunjukkan aspek sosial yang menjadi penyebab perdagangan kerajinan. Kurangnya pengetahuan manajemen dan kewirausahaan pada masyarakat perbatasan; serta tidak adanya strategi yang dimiliki dalam pemasaran bidai, menyebabkan perajin berada pada keadaan <br />yang lemah. Maka dari itu, diperlukan upaya yang harus dilakukan pemerintah dalam memperdayakan masyarakat melalui pengenalan manajemen strategis dalam hal pemasaran, pelatihan pemasaran, dan menjalin mitra agar dapat meningkatkan daya tawar dan mengembangkan jaringan pemasaran yang lebih luas lagi, selain pada wilayah Serikin, Malaysia. <br /><br />Kata kunci: bidai, perbatasan, kerajinan <br /><br /><br /><strong>Abstract:</strong> Bidai webbing is one of the results of creativity based on local wisdom that has the potential to be developed as one of the mainstay products of UMKM in Jagoi Babang District. The purpose of this study is to find out the role of the Regional Government in empowering UMKM as an effort to increase community income in Jagoi Babang District, which is an Indonesia-Malaysia border area. The data collection in this paper is carried out using a qualitative method, the data used in this paper is more in the form of secondary data collected through the literature study process. This location was chosen because the data found showed the social aspect that was the cause of the craft trade. Lack of management and entrepreneurship knowledge; As well as the absence of a proper and efficient strategy in marketing tea, causing artisans to be in a weak bargaining position. Therefore, community empowerment efforts are needed through the introduction of strategic marketing management, training of marketing personnel, and establishing partners in order to increase bargaining power and develop a wider marketing network, other than in the Serikin area, Malaysia. <br /><br />Keywords: bidai webbing, border, crafts</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/2308PENGARUH GLOBALISASI ATAS PEWARISAN BUDAYA SENI TERBANG BUHUN DI MAJALAYA KECAMATAN PASEH KABUPATEN BANDUNG2022-11-26T10:27:42+07:00Inaya Ainul Haqiinayaahaqi@gmail.comDede Suryamahinayaahaqi@gmail.comIip Sarip Hidayanainayaahaqi@gmail.com<p><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini memfokuskan pengaruh globalisasi terhadap pewarisan budaya di Majalaya Kecamatan Paseh. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pewarisan budaya dan pengaruh globalisasi apa saja yang terdapat pada Seni Terbang Buhun dengan analisis pengaruh globalisasi dan pewarisan budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan secara menyeluruh dengan teknik pengumpulan data yang berupa observasi, studi Pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perubahan sosial William F Ougburn dan Pewarisan budaya J Berry untuk menganalisis Seni Terbang Buhun. Hasil peneltian bahwa perubahan yang terjadi dalam Seni Terbang Buhun dalam kebudayaan material serta immaterial dan pewarisan budaya dilakukan melalui tiga pola yaitu, pewarisan tegak, pewarisan datar dan pewarisan miring. Namun dalam pewarisan budaya terdapat kendala dalam penerusan budaya ke genarasi selanjutnya.</p> <p><br />Kata kunci: pewarisan budaya, globalisasi, seni terbang buhun. <br /><br /><strong>Abstract:</strong> This study focuses on the influence of globalization on cultural inheritance in Majalaya, <br />Paseh District. The purpose of this study is to explain the cultural inheritance and the effects of <br />globalization on Seni Terbang Buhun by analyzing the effects of globalization and cultural inheritance. Using qualitative research methods to describe the problem thoroughly with data collection techniques in the form of observation, literature study, interviews, and documentation. The theory used in this research is William F Ougburn's social change and J Berry's cultural inheritance to analyze Seni Terbang Buhun. The results of the research show that the changes that occur in Seni Terbang Buhun in material and immaterial culture and cultural inheritance are carried out through three patterns, namely, upright inheritance, flat inheritance and oblique inheritance. However, in cultural inheritance there are obstacles in transmitting culture to the next generation.</p> <p><br />Keyword: heritage,globalitation, Seni Terbang Buhun.</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 inaya Ainul haqihttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/2273SIMBOL DAN MAKNA TRADISI RITUAL ZIARAH KE PETILASAN GEGER HANJUANG DI KAMPUNG CIHANJUANG DESA MANDALASARI KABUPATEN BANDUNG BARAT2022-11-09T11:28:55+07:00Dila Eka Putridilaekaput469@gmail.com<p><strong>Abstrak:</strong> Budaya spiritual yang masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Indonesia salah satunya adalah tradisi ziarah. Tradisi ziarah petilasan Geger Hanjuang, pada praktiknya memerlukan sesajian dalam prosesinya. Hal inilah yang membuat ritual ziarah petilasan geger Hanjuang sarat akan simbol dan makna. Sehingga dalam mengetahui simbol dan makna yang ada penulis menggunakan teori Interpretivisme simbolik Clifford Geertz unutuk mengkaji hasil data. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara dalam mengumpulkan data penelitian. Observasi dilakukan di wilayah petilasan Geger Hanjuang Kampung Cihanjuang Desa Mandalasari. Adapun proses pengumpulan data melalui wawancara ke beberapa informan penting seperti kuncen; sesepuh kampung; dan pelaku ziarah. hasil penelitian ini akan menjelasakan 1) Bentuk dan prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang; 2) Simbol dan makna yang terkandung dalam rangkaian prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang. <br /><br />Kata kunci: Ziarah, Petilasan, Sesajen. <br /><br /><strong>Abstract:</strong> One of the spiritual cultures that are still practiced by some Indonesians is the pilgrimage tradition. Geger Hanjuang's pilgrimage tradition, in practice, requires offerings in the procession. This is what makes the pilgrimage ritual of the ‘Petilasan Geger Hanjuang’ full of symbols and meanings. So that in knowing the symbols and meanings that exist, the author uses the theory of symbolic interpretation of Clifford Geertz to examine the results of the data. This study also uses participant observation and interviews in collecting research data. Observations were made in the Petilasan Geger Hanjuang, Kampung Cihanjuang, Desa Mandalasar. The process of collecting data through interviews with several important informants such as kuncen; village elders; and pilgrims. the results of this study will explain 1) the form and procession of the pilgrimage at the Geger Hanjuang shrine; 2) The symbols and meanings contained in the series of pilgrimage processions at the Geger Hanjuang shrine. <br /><br />Keywords: Pilgrimage, Petilasan, Offerings</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Dila Eka Putrihttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/2272TRADISI WIRID KARINDING DALAM PERSPEKTIF FUNGSI DAN MAKNA DI DAERAH CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG2022-11-08T12:53:49+07:00Renetha Renetharenethatata@gmail.comCahya Cahyarenethatata@gmail.comIip Sarip Hidayanarenethatata@gmail.com<p><strong>Abstrak:</strong> Penelitian ini membahas persoalan Tradisi Wirid Karinding sebagai bentuk seni pertunjukan yang dikaji dengan perspektif antropologi budaya berbasis seni. Adapun fokus pengkajiannya mengarah kepada aspek fungsi dan makna yang terkandung dalam bentuk penyajian Tradisi Wirid Karinding. Untuk mengungkap persoalan fungsi dan makna tersebut, penulis menggunakan teori Struktural Fungsional dari Radcliffe Brown sebagai pisau bedah penganalisisan substansi permasalahan pokok. Adapun metode penelitianya menggunakan metode deskriptif Analisis dalam bentuk model penelitian Kualitatif. Dalam upaya menjelaskan dan membahas isu-isu penting terkait dengan pokok permasalahan, maka penulis mendeskripsikan secara sistematis dimulai dari Bab I Pendahuluan hingga Bab V Kesimpulan. Dengan demikian laporan hasil penelitian dalam bentuk Skripsi ini dapat memberikan penjelasan dan penganalisisan secara terperinci sesuai dengan sistematika penulisan. <br /><br />Kata Kunci: Wirid Karinding, Fungsi, Makna dan Tradisi <br /><br /><strong>Abstract:</strong> This study discusses the issue of the Wirid Karinding Tradition as a form of performing arts that is studied from the perspective of art-based cultural anthropology. The focus of the study is on aspects of function and meaning contained in the form of presenting the Wirid Karinding Tradition. To reveal the problem of function and meaning, the author uses the Structural Functional theory from Radcliffe Brown as a scalpel to analyze the substance of the main problem. The research method uses descriptive analysis method in the form of a qualitative research model. In an effort to explain and discuss important issues related to the subject matter, the authors describe systematically starting from Chapter I Introduction to Chapter V Conclusion. Thus the research report in the form of this thesis can provide a detailed explanation and analysis in accordance with the systematics of writing. <br /><br />Keywords: Wirid Karinding, Function, Meaning and Tradition</p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Renetha Tatahttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/etnika/article/view/4644REVITALISASI RITUAL MITEMBEYAN SEBAGAI PELESTARIAN LEWAT YOUTUBE PADA KELOMPOK TANI SINDANG HURIP DI DUSUN SINDANG, DESA/KEC. RANCAKALONG, SUMEDANG, JAWA BARAT2025-12-22T13:29:40+07:00Imam Setyobudisetyobudiimam@gmail.comYuyun Yuningsihsetyobudiimam@gmail.comWahyu Hifajarsetyobudiimam@gmail.comRifka Rahma Dewisetyobudiimam@gmail.comNurgalih Hadad Jantikasetyobudiimam@gmail.comSilvia Dewisetyobudiimam@gmail.comFarhan Fadilahsetyobudiimam@gmail.com<p><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep dan metode revitalisasi ritual <em>mitembeyan</em> <em>meuseul</em> sebagai upaya pelestarian nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat petani Sunda di tengah perubahan sosial budaya akibat modernisasi pertanian, serta mendiseminasikan hasil revitalisasi melalui media digital. Modernisasi pertanian melalui penggunaan mesin penggiling gabah (huller) telah menyebabkan memudarnya praktik ritual <em>mitembeyan</em> yang sebelumnya menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan, kosmologi, dan kehidupan komunal petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan di Dusun Sindang, Desa/Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi ritual dilakukan melalui rekonstruksi bentuk otentik berbasis memori kolektif, reaktualisasi tahapan ritual, serta penggalian kembali makna simbolik dan nilai kearifan lokal yang mencakup nilai spiritual-religius, keselarasan dengan alam, dan solidaritas sosial komunal. Dokumentasi ritual melalui platform <em>YouTube</em> berfungsi sebagai arsip visual sekaligus strategi adaptif pelestarian budaya di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi ritual <em>mitembeyan</em> <em>meuseul</em> merupakan bentuk modernisasi selektif yang memungkinkan masyarakat petani mempertahankan identitas budaya dan nilai-nilai fundamental tanpa menolak kemajuan teknologi.</p> <p>Kata kunci: revitalisasi budaya, ritual mitembeyan, kearifan lokal, pertanian tradisional, media digital. <br /><br /><br /><strong>Abstract:</strong> This study aims to formulate concepts and methods for revitalizing the mitembeyan meuseul ritual as an effort to preserve local cultural wisdom among Sundanese farming communities amid socio-cultural changes caused by agricultural modernization, as well as to disseminate the revitalization outcomes through digital media. The introduction of rice milling machines (hullers) has gradually diminished the practice of mitembeyan, which was previously an integral part of farmers’ belief systems, cosmology, and communal life. This research employs a qualitative method with an ethnographic approach conducted in Sindang Hamlet, Rancakalong Village/Subdistrict, Sumedang Regency. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and literature review. The findings indicate that ritual revitalization was carried out through reconstructing its authentic form based on collective memory, reactualizing ritual stages, and reinterpreting symbolic meanings and local wisdom values, including spiritual-religious beliefs, harmony with nature, and communal social solidarity. Digital documentation via YouTube functions as a visual archive and an adaptive strategy for cultural preservation in the digital era. The study concludes that revitalizing the mitembeyan meuseul ritual represents a form of selective modernization that enables farming communities to maintain cultural identity and fundamental values without rejecting technological advancement.</p> <p>Keywords: cultural revitalization, mitembeyan ritual, local wisdom, traditional agriculture, digital <br />media. </p>2025-12-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/