https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/issue/feedPanggung2025-12-01T00:00:00+07:00Redaksi Jurnal Panggungredaksi.panggung@gmail.comOpen Journal Systems<div id="focusAndScope"> <p style="font-weight: 400;">Journal of Panggung is a peer-reviewed scholarly journal focusing on arts and culture studies, published quarterly by the Institute for Research and Community Service (LPPM), Indonesian Institute of the Arts and Culture (ISBI) Bandung. The journal publishes original research articles, theoretical and critical studies, and selected papers derived from theses, dissertations, and academic forums. All submissions undergo a rigorous editorial screening and double-blind peer review process to ensure academic quality, originality, and relevance.<br />ISSN: 0854-3429 | E-ISSN: 2502-3640</p> </div>https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3904Challenging the Truth of the Text: Examining the Intertwining of “Palagan di Kutamaya” in Dramatic Scripts and Sundanese Songs2025-05-06T10:02:31+07:00Lilis Sumiatililissumiati1411@gmail.comEti Mulyatieti.mulyati31@gmail.comPradasta Asyariprdstasyr@gmail.com<p><em>Every artwork is viewed as a network of interconnected meaning, forming a dynamic structure akin to a spider's web. This view is reflected in Dance Drama and Sundanese Kawih, both of which adapt the Jaya Perkosa episode from the Babad Sumedang script. To analyze this relationship, the intertextuality approach is employed to trace the interlocking texts and meanings. On the other hand, the critical discourse approach is used to dissect how both voice criticism and discourse are shaped by the historical relations. As a result, the two works reproduce the content of the Babad Sumedang to reflect current social, political, and cultural conditions. Intertextuality contributes to connecting old texts with contemporary contexts, thereby facilitating a meeting between tradition and modernity. This process demonstrates that cultural texts are continually in dynamic negotiation with an ever-evolving reality.</em></p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lilis Sumiati, Eti Mulyati, Pradasta Asyarihttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3819Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan2025-02-11T23:52:46+07:00Ilham Harunailhamharuna16@gmail.comRahma Mrahma.m@unm.ac.idNurwahidahidaelbahra17@gmail.comSyakrunisyakhruni@unm.ac.idSukmawati Salehsukmawatisaleh.isbi@gamil.com<p>Koreografi Tari <em>Toaleang Marusu</em> diciptakan berdasarkan penemuan arkeologis di <em>Leang-Leang</em>, Maros, yang menunjukkan adanya peradaban manusia prasejarah Toalean. Perekaciptaan koreografi tari ini bertujuan untuk memberikan pembacaan baru pada tinggalan-tinggalan artefak yang ditemukan. Hal ini untuk menghasilkan transformasi dan reinterpretasi gagasan visual serta artistika dalam wujud Tari <em>Toaleang Marusu</em>. Riset dilakukan dengan metode kualitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas <em>General model of the creative process</em> oleh Zeng yaitu analisis, penggagasan ide, evaluasi, dan implementasi. Pendekatan pengkomposisian tari dari Minton yang terdiri lima tahapan yaitu, inspirasi, responsif, inkubasi, evaluasi, dan visualisasi. Pengejawantahan praksis ini, dimulai dari pra-imajinasi, imajinasi abstrak, dan kemudian menghasilkan imajinasi konkret. Penjajakan budaya manusia prasejarah Toalean menjadi refleksi alih wahana yang tertuang pada sebuah repertoar Tari <em>Toaleang Marusu</em> sebagai imaji konkret. Hasil transformasi seni ini berdampak pula pada keberlanjutan proses kreatif, menghadirkan produk seni lainnya, dan yang utama adalah menjaga kelestarian dan eksistensi ekologi situs-situs prasejarah <em>leang-leang</em> Maros Sulawesi Selatan.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Ilham Haruna, Rahma M, Nurwahidah, Syakruni, Sukmawati Salehhttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/4282Dèwi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme2025-07-10T14:16:18+07:00Thomas Yudha Tri Prasetiyantoyudhatriprasetiyanto@gmail.comSugeng Nugrohosgngnugroho@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji <em>sanggit</em> lakon dan simbolisme lakon Dèwi Sri pada pertunjukan wayang kulit gaya Kedu Temanggungan yang disajikan oleh Legowo Cipto Karsono. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna yang terkandung dalam <em>pakeliran</em> tersebut dengan menganalisis <em>sanggit</em> lakon dan simbolisme Dèwi Sri. Analisis ini dilakukan dengan paradigma tekstual-kontekstual dengan payung metode <em>ethnoart</em>. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan observasi pertunjukan wayang kulit. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa <em>sanggit </em>lakon <em>Dèwi Sri</em> menunjukkan tingkat integritas artistik yang tinggi, mematuhi prinsip-prinsip dramatik Jawa yaitu <em>tutug</em> (tuntas), <em>kempel</em> (koherensi), dan <em>mulih</em> (penyelesaian konklusif). Simbolisme Dèwi Sri tidak hanya merepresentasikan kesuburan padi, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sosial. Lebih lanjut, figur Dèwi Sri memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan alam, yang terefleksi dalam ritual pertanian seperti <em>wiwitan</em> dan <em>mapag</em>.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto, Sugeng Nugrohohttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3908The Development of Soga Tingi (Ceriops tagal) Natural Dye Paste Material for Block Printing on Textiles 2025-05-07T14:54:52+07:00Hanifa Aisha Yasminhanifaaishayasmin@student.telkomuniversity.ac.idMochammad Sigit Ramadhansigitrmdhn@telkomuniversity.ac.idGina Shobiro Takaoginashobirotakao@telkomuniversity.ac.id<p>Block printing is a technique of carving motifs on a printing plate coated with dye and pressed repeatedly along the fabric to create patterns. One potential natural dye that can be applied is the Soga tingi <em>(Ceriops tagal)</em>. In today’s textiles and fashion industries, the use of natural materials is increasing in line with the growing awareness of a sustainability lifestyle. This study aims to develop Soga tingi dye into the optimal paste formula for block printing techniques with fixation, plate material, and suitable fabrics. This research employs a mixed-methods approach, combining qualitative and quantitative data from literature reviews, field observations, interviews, and laboratory experiments. The results reveal the successful formulation of a Soga tingi natural dye paste with an optimal composition. The most effective thickening agent was found to be sodium alginate, a food-grade thickener used in a ratio of 10 g to 100 ml of liquid natural dye, resulting in a viscosity of 21,135 mPas. Thus, the block-printed cotton fabric made with the Soga tingi natural dye paste can be used for fashion products.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hanifa Aisha Yasmin, Mochammad Sigit Ramadhan, Gina Shobiro Takaohttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/4285Dinamika Kehidupan Gong Kebyar Ditinjau dari Perspektif Paradigma Budaya2025-07-10T14:28:23+07:00Pande Made Sukertapandemadesukerta@gmail.comIndra Gunara Rochyatpandemadesukerta@gmail.comMuhammad Fauzipandemadesukerta@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa barungan gamelan gong kebyar hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Gong kebyar merupakan salah satu jenis barungan gamelan yang paling berkembang di Bali. Dari segi bentuk gamelan gong kebyar ada dua, yaitu bentuk gamelan gong kebyar Bali Utara dan gong kebyar Bali Selatan, sedangkan secara musikal terdapat empat gaya, yaitu gong kebyar gaya Buleleng, gong kebyar gaya Tabanan, gong kebyar gaya Badung, dan gong kebyar gaya Gianyar yang berkembang di wilayah budayanya masing-masing. Pertumbuhan dan perkembangan barungan gamelan gong kebyar, ditentukan oleh lingkungan dan dinamika masyarakatnya salah satu faktor menarik untuk dikaji dari perspektif paradigma budaya yang terkait dengan bentuk, fungsi, dan makna. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, studi pustaka, dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realitas kehidupan gong kebyar sekarang cendrung mengarah keseragaman yang merupakan proses untuk mewujudkan kehidupan dan perkembangan gong kebyar di Bali.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Pande Made Sukerta, Indra Gundara Rochyat, Muhammad Fauzihttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3638Pengelolaan Risiko di Balik Nyala Api: Pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka di Makassar2024-11-13T13:38:27+07:00Agim Gunawanagimgunawan@mail.ugm.ac.idAton Rustandi Mulyanaatonrustandi@isi-ska.ac.idGabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupangroosmargo@ugm.ac.id<p><em>Pepe-Pepeka ri Makka</em> merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam pertunjukannya, kesenian <em>Pepe-Pepeka ri Makka</em> menyajikan penari yang berinteraksi dengan api. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana risiko-risiko yang terlibat dalam pertunjukan <em>Pepe-Pepeka ri Makka</em>, dikelola oleh para penampil. Metode kualitatif dan pendekatan <em>performance studies</em> digunakan dalam penelitian ini, guna mengeksplorasi dua dimensi dalam pengelolaan risiko, yaitu dimensi teknis dan nonteknis. Dimensi teknis mencakup keterampilan dan kecakapan penari, sementara dimensi nonteknis melibatkan penggunaan doa, ritual, dan kepercayaan spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis penampil, namun juga dipengaruhi oleh keyakinan spiritual. Oleh karenanya, kombinasi antar kedua dimensi ini sangat berpengaruh terhadap keselamatan para penampil.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Agim Gunawan, Aton Rustandi Mulyana, Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupanghttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3633Gamelan as a Reflection of the Cultural Identity of the Javanese Community in South Lampung2024-11-09T17:42:18+07:00Septian Trijayantokarsiwan@metrouniv.ac.idKarsiwanseptiantrijayanto28@gmail.comLisa Retno Sarilisaretnosari@fkip.unila.ac.id<p><em>Gamelan has a strong social and spiritual function, strengthening solidarity and reflecting the traditional values of society. The purpose of this study is to determine the function of gamelan as a cultural identity of the Javanese community in Palas Subdistrict, South Lampung Regency. The type of research used is descriptive qualitative, with data collection using in-depth interviews, observation and documentation techniques. Data analysis utilised qualitative data analysis with stages of data collection, data reduction, and conclusion drawing. The results of the study illustrate that gamelan acts as a social medium that connects generations and strengthens community social bonds. Gamelan also functions as a spiritual symbol in various traditional ceremonies and religious rituals, creating harmony and balance in the cultural identity of its owners. The local community in the Palas area plays a role through art associations by continuing to strive to preserve the gamelan tradition in a sustainable manner. In addition, efforts to preserve and pass on traditional arts and culture can be carried out in various ways, such as integrating gamelan as part of performing arts into the education curriculum through cultural arts lessons and local content, as well as holding festivals or regional cultural events so that gamelan continues to have a stage in accompanying traditional music and other performances.</em></p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 septiantrijayanto, Karsiwan, Lisa Retno Sarihttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3826Educational Meaning in the Symbolic Visual Structure of Kayon Ganesha Created by Dalang Enthus Susmono2025-02-13T15:13:35+07:00Yasin Surya Wijayayasin.sw@isi.ac.id<p><em>This study aims to explore the educational values embodied in the visual symbolic structure of Kayon Ganesha, a creation by Enthus Susmono. The academic values represented in Kayon Ganesha are essential to be examined and utilized as a source of moral and character development for future generations. The research employs a descriptive, qualitative approach with a single-case study design. Data were collected from informants, settings, and documents through in-depth interviews, participatory observation, and content analysis. Data validity was tested using two techniques: data source triangulation and informant review. Data analysis followed a flow model consisting of data reduction, data display, and verification. The findings reveal that Kayon Ganesha consists of three structural parts, namely lower (palemahan), middle (lengkeh), and upper (pucuk), each containing symbols that represent the human journey toward ultimate truth through education. The figure of Lord Ganesha in Kayon Ganesha also comprises three parts, namely head, body, and feet, symbolizing the ideal qualities of a knowledgeable person. The implication of this study emphasizes that the educational values within Kayon Ganesha can serve as a source for character education based on local wisdom in the field of art and cultural creativity.</em></p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Yasin Surya Wijayahttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3657Empowering dan Calming Music sebagai Modal Instrumental pada Music Therapy2025-11-02T18:59:21+07:00Muhammad Arifin Ilham Ilhammuhammad.arifin.2102526@students.um.ac.idRully Aprilia Zandra Ilhamrullyzandra.fs@um.ac.id<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan musik terapi dan pentingnya kevalidan komposisi musik dalam mengatasi permasalahan stres serta merosotnya motivasi individu. Pengembangan dua produk instrumental bertujuan sebagai alat bantu akurat untuk intervensi peningkatan mood; lagu A untuk motivasi dan lagu B untuk relaksasi. Modifikasi R&D Borg and Gall meliputi studi pendahuluan hingga validasi ahli dan revisi menjadi metode penelitian dan pengembangan yang digunakan. Validasi dilakukan terhadap lima praktisi musik, sementara uji reliabilitas menggunakan Cohen Kappa’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk <em>empowering </em>memperoleh nilai total 93% (sangat valid) dan tingkat reliabilitas 0,783 (<em>excellent agreement</em>). Sementara, <em>calming </em>memperoleh nilai total 94%(sangat valid) dan tingkat reliabilitas 1,000 (<em>excellent agreement</em>). Kedua produk terbukti valid dan reliabel sesuai standar pengujian. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi praktisi musik dalam menciptakan musik yang dirancang untuk mendukung relaksasi atau motivasi individu. Penelitian ini memperkaya wawasan metodologis dengan memberikan alternatif langkah pengembangan Borg and Gall pada konteks seni musik.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Muhammad Arifin Ilham Ilham, Zandrahttps://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3624A Study of Aesthetic Experience in Music: A Shift in Consciousness from Empirical to Immanent2025-11-11T11:49:18+07:00Ovan Bagusovanjatmika@gmail.com<p>This study discusses the presence of immanent consciousness through music. The issue discussed is how this immanent reality is present in the practice of playing music. Thus, the locus of this research is a study of the aesthetic experience of musicians when playing music. This is because, so far, when informants talk about the topic of music performance, the object of study tends to focus on practical matters such as the effectiveness of playing techniques, repertoire selection strategies, music analysis, and performance management. In Indonesia, music studies that discuss immanent experiences tend to emphasize non-sensory experiences: immanence as a type of transcendent experience that is divine, cosmic, or metaphysical. Conversely, the role of music in relation to the emergence of immanent experiences has not been widely discussed. Using Deleuze's concept of the virtual, this study elaborates on various immanent experiences in the context of traditional musicians. Research data was collected through interviews with two traditional musicians: Iwan Gunawan (drummer) and Maspon (saluang player). The data was then categorized into three types of experiences: empirical experiences, threshold experiences, and various sensations felt. Findings indicate that musical practice facilitates a shift in consciousness, moving from empirical perception toward immanent awareness. This shift enables musicians to encounter new forms of reality beyond standardized performance norms—emerging as pre-predicative modes of understanding.</p>2025-12-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Ovan Bagus