Inovasi dalam Seni: Eksplorasi Alat Elektronik Non￾Konvensional di Karya 'Dipoyok Dilebok’

Authors

  • Harry Haryono Program Pendidikan Seni Pascasarjana ISBI Bandung, Indonesia
  • Otin Martini Program Pendidikan Seni Pascasarjana ISBI Bandung, Indonesia
  • Nurudin Program Pendidikan Seni Pascasarjana ISBI Bandung, Indonesia
  • Melsya Firtikasari PGSD Universitas Nusa Putra Sukabumi, Indonesia
  • Yudhistira Rejki Firdaus Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung , Indonesia

Abstract

Bunyi-bunyi alam sekitar, jika didengar dengan seksama, memiliki paduan yang sangat
musikal. Tidak mengherankan jika banyak komponis, baik secara sadar maupun tidak, terinspirasi oleh
alam dalam menciptakan karya musik. Setiap komponis tidak dapat mengabaikan pengaruh fenomena
bunyi yang terjadi di sekitarnya. Fenomena bunyi ini memiliki sudut pandang yang luas; tidak hanya
mencakup suara yang terdengar, tetapi juga yang “tidak berbunyi” yang dapat dirasakan dan ditafsirkan
sebagai fenomena musikal. Ferrucio Busoni mengemukakan bahwa semua karya seni, pada inti dan bentuk
pernyataan akhirnya, akan menuju satu tujuan: mencitrakan kembali alam dan menafsir ulang apa yang
dirasakan manusia (Suka Hardjana, 2003:50). Persoalan yang muncul adalah bagaimana fenomena bunyibunyi alam dapat direkayasa oleh komponis dan diterima oleh pendengar sebagai musik. Seperti yang
diungkapkan oleh Slamet Abdul Sjukur, “sesuatu yang terdengar dapat dianggap sebagai musik ketika
kita memperhatikan dan memperlakukannya sebagai musik.” Dengan demikian, betapa pun hebatnya
suatu karya musik, ia akan tetap menjadi fenomena bunyi belaka jika tidak diperhatikan atau diperlakukan
sebagai musik. Ungkapan ini dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap sikap masyarakat yang sering kali
pasif dalam memahami atau mengapresiasi karya musik. Cara pandang yang terbatas dalam mengenali
atau memahami karya musik sering menyebabkan kesalahpahaman, terutama dalam komunikasi antara
komponis, karya musik, dan penonton. Aspek-aspek di atas penting untuk dipertimbangkan dalam proses
penciptaan karya ini. Saya tidak bermaksud menciptakan karya musik yang disesuaikan dengan selera
masyarakat umum. Sebaliknya, gejala-gejala yang terjadi di masyarakat, yang membentuk selera umum,
menjadi inspirasi menarik dalam berkarya. Pemikiran dan gagasan saya akan dituangkan melalui karya
musik sebagai reaksi terhadap fenomena yang saya rasakan di lingkungan sekitar. Judul karya ini adalah
“Di Poyok Di Lebok” (dalam bahasa Indonesia, "Di Poyok Di Lebok" berarti Dipoyok = diolok-olok,
Dilebok = dimakan, dalam bahasa Sunda yang sangat kasar). Judul ini mencerminkan perasaan saya yang
akhir-akhir ini dikepung oleh arus informasi dari berbagai arah, serta kemunafikan orang-orang dalam
mengemukakan pemikiran dengan standar ganda, tanpa mengetahui sumber berita yang sebenarnya.
Penjelasan lebih lanjut mengenai karya ini akan diuraikan dalam pertunjukan karya saya yang sudah
dipublikasi dalam dokumentasi pertunjukan Pekan Komponis Indonesia dengan tema Eksperimentasi
Musik Elektronik Dewan Kesenian Jakarta yang diadakan pada tahun 2016 di kanal youtube
https://www.youtube.com/watch?v=RkMnYV3JK-A.

Kata Kunci : musik eksperimental, seni elektronik, instrumen non-konvensional, Wiimote, semiotika
musik.

Downloads

Published

2025-12-29

How to Cite

Harry Haryono, Otin Martini, Nurudin, Melsya Firtikasari, & Yudhistira Rejki Firdaus. (2025). Inovasi dalam Seni: Eksplorasi Alat Elektronik Non￾Konvensional di Karya ’Dipoyok Dilebok’. Pascasarjana ISBI Bandung Conference Series, 62–66. Retrieved from https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/prosidingpasca/article/view/4686

Citation Check