ESTETIKA IBING TAYUB BALANDONGAN SEBAGAI MEDIA SENI KALANGENAN DUA LAPISAN MASYARAKAT KAUM MENAK DAN SOMAH DI SITURAJA-SUMEDANG
Abstract
Ibing berasal dari kata Ngibing, mengandung pengertian tari atau menari, sedangkan kalangenan merupakan
kebiasaan (habit) yang dilakukan masyarakat sifatnya untuk kesenangan atau hiburan. Tayub
Balandongan sebagai ibing kalangenan merupakan kebiasaan ngibing dengan ronggeng yang dilakukan
dalam peristiwa Tayuban. Kata Balandongan merupakan arena pertunjukan Tayuban yang letaknya di
luar gedung (out door) atau dapat juga diartikan bahwa Balandongan ini merupakan sebuah panggung
yang terbuat dari bambu. Kaparigelan menari dalam Tayuban merupakan hal yang wajib dikuasai oleh
para penayub karena mempunyai prestise tersendiri, sebagai cerminan kewibawaan serta kharismatik
seorang pangibing. Untuk membedah permasalahan Tayub Balandongan di Situraja-Sumedang maka
penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori estetika instrumental.
Keberadaan Tayub Balandongan ini menjadi cerminan bahwa Ibing Tayub Balandongan merupakan
bentuk kesenian rakyat yang istimewa dikarenakan dari dua jenis tari kalangenan/pergaulan (rakyat dan
menak) dapat menyatu dalam satu sajian yaitu Tayub Balandongan.





