PENERAPAN KONSEP APROKSIMASI DAN POST-GAZE THEATER UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS SENI TEATER BERBASIS ESTETIKA URBAN

Authors

  • Benny Yohanes Timmerman

Abstract

Karya seni yang dibuat berjudul: “APROKSIMASI”, Post-Gaze Theatre. Karya ini berupa ‘associative
performance’ yang menerapkan konsep estetika urban. Konsep estetika urban yang diterapkan
menggunakan dua sifat fenomena kota, yaitu : Sprawl dan Linkage. Sedang pendekatan kreativitas yang
diacu adalah pendekatan diffusion. Tujuan khusus dari penciptaan karya ini adalah menampilkan bentuk
‘associative performance’ sebagai bentuk aproksimasi. Associative Performance adalah genre kontemporer
kreativitas pertunjukan, yang lebih mengutamakan presensi fisikal pelaku, dan tidak menjadi
karakter lain, selain dirinya. ‘Performer’ menunjukkan laku atas nama dirinya. Aproksimasi adalah
cara mendekatkan, menghubungkan, membuat tautan berbagai realitas epistemik dari jaringan co-performer.
Co-performer adalah sebutan untuk identitas sub-kultur dalam budaya urban. Indikator ciri
co-performer berbasis kelas sosial, komunitas dan atau kolektif profesi tertentu. Sub-kultur tersebut
disebut sebagai co-performer karena berorientasi pada ideal nilai tertentu, dan menjadikan world-view
mereka sebagi praktik budaya. Berdasarkan teori Kajian Budaya Perkotaan dari Frazier, diketahui bahwa
dalam praktik budaya perkotaan tercermin adanya habituasi dan inner-life setiap sub-kultur. Dalam
konteks ‘associative performance’, praktik habituasi dan elemen-elemen inner-life dari jaringan co-performer
yang dilibatkan inilah yang akan diartikulasikan sebagai peristiwa pertunjukan.
Konsep pertunjukan “Aproksimasi” mengajukan gagasan ‘post-gaze theater’ sebagai alternatif resepsi.
Post-Gaze Theatre adalah bentuk negasi terhadap mekanisme komunikasi seni, yang mengutamakan
kekuatan ‘tatapan’ (gaze) sebagai jalur persepsi yang utama dan paling absah. Post-Gaze Theatre memandang
peristiwa panggung bukan sebagai pusat makna. Penonton adalah bagian dari co-performer
pertunjukan. Tidak ada hirarki komunikasi antara panggung dan penonton. Sebagai co-performer,
penonton turut menciptakan atmosfir diffusion. Post-Gaze Theatre memperlihatkan progres peristiwa
dimana bagian ‘akting’ dan ‘non-akting’ saling bersambung atau disambungkan. Mengalami atmosfir
diffusion menjadi sebuah ‘kesempatan pengetahuan’ (chance of knowledge) yang dapat diinternalisasi,
atau diabaikan. Bermakna atau tuna-makna menjadi dualitas status yang setara dalam realitas persitiwa
post-gaze theatre.

Downloads

Published

2024-11-30