ARUS BALIK DARI SAKRAL, PROFAN KEMBALI KE SAKRAL: STUDI KASUS FUNGSI DAN PERKEMBANGAN MAMAOS, DI LOKUS CIANJUR DAN BANDUNG

Authors

  • Mohamad Yusuf Wiradiredja
  • Zaldi Yusuf Akbar
  • Aqila Safara

Abstract

Umumnya kesenian tradisi yang hidup hingga era mutakhir dapat mempertahankan diri dengan cara
mengubah fungsi atas eksistensinya dari fungsi sakral menjadi profan, atau dalam bahasa sederhana;
dari fungsi ritus yang basis utamanya dasar kepercayaan, menjadi hiburan dengan basis kepentingannya
pasar. Dalam konteks perubahan tersebut terjadi komodifikasi seni tradisi, dari dominasi nilai-nilai
moral menjadi nilai-nilai industri. Tentu saja keadaan tersebut tidak dilihat sebagai baik dan buruk,
atau benar dan salah, sebab baik dalam dimensi sakral maupun profan, keduanya secara subjektif dapat
dimaknai memiliki nilai-nilai yang bermuara pada kepercayaan dan moralitas. Terdapat fenomena yang
berbeda dari kebanyakan pola perubahan fungsi seni dalam mempertahankan hidup dalam perkembangan
Mamaos yang hidup di locus Cianjur, kemudian berubah dan berkembang menjadi tembang Sunda
cianjuran di luar locus Cianjur. Di mana perubahan tersebut memiliki pola arus balik, dari fungsi sakral
saat hidup di Cianjur sebagai Mamaos, kemudian seiring dengan perpindahan ibu kota Priangan menuju
Bandung sejalan dengan berubahnya Mamaos menjadi tembang Sunda cianjuran. Perubahan dan
perkembangan tersebut terjadi baik secara tekstual terhadap wujud objek musikal Mamaos itu sendiri,
maupun fungsi. Salah satu yang menandai perubahan tersebut adalah dominasi lagu panampih yang
sebelumnya di locus Cianjur, hanya bersifat selingan atau sisipan dalam repertoar pertunjukan utama,
kemudian menjadi dominan ketika berkembang di luar locus Cianjur. Perubahan teks musikal tersebut
ternyata diiringi dengan perubahan konteks fungsi pertunjukan, di mana sebelumnya memiliki banyak
aturan rigid sebagai pertunjukan khusus kalangan Pendopo, dengan fungsi-nya yang cenderung
sakral (dalam arti mengedepankan nilai-nilai moralitas sebagai media yang identik dengan religiusitas)
kemudian beruhan menjadi hiburan dengan mengedepankan nilai-nilai kebutuhan pasar yang identik
dengan kebutuhan industri. Uniknya, dalam konteks mutakhir, tembang Sunda cianjuran yang terus
hidup dan berkembang seiring dengan perubahan zaman justru “kembali” ke fungsi awal yang dalam
pementasannya identik dengan kebutuhan ritus, dengan basis kepercayaan. Belakangan tembang Sunda
cianjuran, baik di locus Cianjur, maupun di luar Cianjur, dominan digunakan sebagai bagian dari upacara-
upacara ritual, seperti; dalam adat pernikahan Sunda, syukuran, dan berbagai event yang memiliki
nilai-nilai kepercayaan. Sejalan dengan teori Arus Balik yang dikemukakan Bosch, peristiwa tembang
Sunda cianjuran memiliki pola yang analog dengan teori tersebut, di mana sumber fungsi awal mamaos
menginspirasi kembali fungsi sakral terhadap tembang Sunda cianjuran. Penelitian ini melakukan telaah
secara mendalam dengan pendekatan sinkroni dan diakroni terhadap perkembangan Mamaos, dalam
dua locus yang berbeda, untuk memetakan peristiwa arus balik fungsi dari dimensi Sakral, Profan,
kemudian kembali ke Sakral

Downloads

Published

2024-11-30