SULING MANDALUNG DALAM TEMBANG SUNDA CIANJURAN: ANALISIS KONSEP LARAS DAN TEKNIK PENJARIAN NADA
Abstract
Pada dekade 1980-an, seorang seniman Tembang Sunda Cianjuran bernama Bakang Abubakar
mempelopori penciptaan lagu-lagu Tembang Sunda Cianjuran dalam laras baru yang disebut laras
mandalung. Kehadiran laras mandalung memberikan dampak signifikan terhadap instrumen
pengiring, khususnya suling, yang kemudian melahirkan varian suling baru yang disebut suling
mandalung. Penelitian ini difokuskan pada analisis konsep laras serta teknik penjarian nada pada
suling mandalung. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, dengan pengumpulan data
melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dalam praktik Tembang Sunda Cianjuran, laras mandalung lahir dari laras sorog
(madenda), sehingga pitch dan mayoritas nada pada suling mandalung mengacu pada pitch dan
frekuensi laras sorog (madenda) dalam suling lubang enam. Dari perspektif organologi, suling
mandalung memiliki bentuk serupa dengan suling lubang enam, namun berukuran lebih pendek
dengan diameter lebih kecil. Selain itu, teknik penjarian nada pada laras mandalung menunjukkan
kesamaan dengan teknik penjarian laras pelog (degung) pada suling lubang enam.
Kata Kunci: suling; tembang Sunda cianjuran: laras mandalung





