MENGURAI PERAN MITOS DALAM FORMASI IDENTITAS METAL DI UJUNG BERUNG, BANDUNG, INDONESIA
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Pada perkembangannya, periode yang dikenal sebagai era Reformasi ini membuka kebebasan ekspresi dan kreativitas publik. Keterbukaan ini mendukung berkembangnya musik protes yang mengkritik kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan publik melalui karya-karyanya (Suryadi, 2015). Aktualisasi lainnya hadir dalam bentuk penerapan budaya kerja do it yourself dan menentang bantuan dari pemerintah (Sen & Hill, 2000). Di wilayah perkotaan, musik metal menjadi sarana negosiasi stratifikasi sosial, gender, dan identitas, sekaligus memunculkan solidaritas di kalangan musisi dan penggemarnya (Alkatiri et al., 2023)
Salah satu daerah di Bandung yang berkontribusi besar dalam membentuk dinamika perkembangan musik metal di Indonesia adalah Ujung Berung (Daryana et al., 2020). Daerah dataran tinggi yang terletak di Bandung Timur ini, secara ekonomi merupakan daerah transisi dari daerah pertanian menjadi pusat perkotaan yang yoda ekonominya bertumpu pada industri kreatif dan perdagangan. Secara sosial dan budaya, kawasan ini juga memiliki perhatian cukup tinggi terhadap perkembangan seni dan budaya tradisional maupun populer (Maulidiyah et al., 2024). Maka dari itu, tidak heran jika Ujung Berung ditetapkan sebagai lokasi pengembangan Agro Wisata Seni Budaya dengan beberapa potensi seni seperti Benjang, Reog, Kecapi Suling, pencak silat, dan kecapi pantun (Berung, 2022).