METODE DISALIENASI SEBAGAI PENDEKATAN PENCIPTAAN KARYA TEATER UNTUK PENGEMBANGAN KONSEP POST-GAZE THEATRE

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Benny Yohanes Timmerman

Abstract

Beberapa grup teater modern di Indonesia, seperti Teater Garasi (Yogyakarta), Teater Kala (Makassar), dan Teater Payung Hitam (Bandung), adalah contoh grup teater modern Indonesia yang secara lebih eksplisit menggali problem-problem eksesif urban. Dalam presentasi Teater Garasi, seperti pada pertunjukan ‘Waktu Batu: Rumah Yang Terbakar’, tema urban yang digarap berkaitan dengan ekses diskomunikasi dan segregasi manusia kota (https://youtu.be/Bgx ZBi_5uU0). Teater Kala, melihat persoalan manusia urban dari aspek kegoncangan skisoprenik dan disartikulasi individual, seperti yang ditampilkan dalam teater film ‘Waktu Tanpa Buku’ (https://youtu.be/Ezo9QLy0lnU). Sementara Teater Payung Hitam (Bandung) dalam pertunjukan ‘Post Haste’ menggambarkan teror kekuatan eksternal dan fragmen destruksi identitas, sebagai problem kekerasan laten manusia-manusia urban (https://youtu.be/yGxZ7dOGTzA).
Tema-tema eksesif urban yang digarap oleh Teater Garasi, Teater Kala dan Teater Payung Hitam, meski masing-masing grup tersebut menawarkan diferensiasi kerja estetika yang berbeda, namun masih ditempatkan dalam paradigma ‘Teater Tatapan’. Artinya, peristiwa yang direpresentasi secara performatif oleh para aktor, difungsikan sebagai pusat makna. Strategi penyusunan peristiwa ditampilkan untuk membetot arah persepsi penonton. Dan posisi penonton masih dilihat sebagai realitas sekunder pertunjukan. Pendekatan seperti ini belum mendukung praktik estetika urban yang bersifat disalienasi.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##