PENGEMBANGAN TABUHAN KACAPI INDUNG DALAM TEMBANG SUNDA CIANJURAN: PEMBENTUKAN GAYA INDIVIDU KE DALAM GAYA KELOMPOK

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Heri Herdini

Abstract

Penelitian tentang perkembangan tabuhan kacapi indung dalam Tembang Sunda Cianjuran memiliki daya tarik tersendiri karena dapat menghasilkan gaya individu yang kemudian setiap gaya tersebut akan diikuti oleh para pemain kacapi indung generasi berikutnya. Gaya individu merupakan kekhasan atau ciri mandiri yang dimiliki oleh seseorang yang kecenderungannya memiliki perbedaan dengan orang lain. Terkait dengan kekhasan atau ciri mandiri ini dapat dipahami sebagai identitas pribadi yang merupakan hasil akumulasi dari proses pengalaman empiris seseorang dalam menekuni kacapi indung, baik kaitannya dengan proses belajar, pertunjukan, melatih, maupun perenungannya terhadap tantangan yang dihadapi. Sejumlah pemain kacapi indung yang sudah diakui memiliki kekhasan atau ciri mandiri dalam memainkan kacapi indungnya di antaranya yaitu Rukruk Rukmana, Toto Sumadipradja, dan Gan Gan Garmana. Ketiga tokoh pemain kacapi indung ini (dilihat dari sisi kemunculan dan popularitasnya) lahir dalam waktu yang berbeda. Rukruk Rukmana dapat dikatakan lebih dulu kemunculannya dibandingkan dengan Toto Sumadipradaja, sedangkan Toto Sumadipradja lebih dulu kemunculannya daripada Gan Gan Garmana.
Perkembangan tabuhan kacapi indung salah satunya disebabkan oleh penguasaan “teknik rekayasa” yang dimiliki oleh para pemain kacapi indung. Munculnya “teknik rekayasa” pada seorang pemain kacapi indung salah satunya disebabkan oleh penguasaan “teknik garap” dan “teknik membunyikan” dawai kacapi indung. Dengan demikian, ketiga teknik ini, baik teknik membunyikan dawai kacapi, teknik garap, maupun teknik rekayasa, satu sama lain saling terkait. Sebelum munculnya gaya individu dari tabuhan kacapi indung sebagai hasil inovasi dari ketiga pemain kacapi indung senior ini, persoalan “teknik” hanya dipahami sebatas pada teknik cara membunyikan dawai kacapi saja seperti teknik disintreuk, ditoel, dikaut, ditengkep, dikeleter, dan diteken. Namun, setelah adanya kecenderung bahwa tabuhan kacapi indung terus berkembang, persoalan teknik dalam tabuhan kacapi indung ternyata tidak hanya terbatas pada teknik membunyikan dawainya saja, tetapi lebih dari itu, ada kecenderungan penggunaan teknik yang berkait dengan garap komposisi dan rekayasa.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##