KETAHANAN BUDAYA SUNDA DI DESA PANGADEGAN KABUPATEN SUMEDANG MELALUI KERAJINAN LISUNG DALAM PUSARAN MODERNITAS

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Taufik Setyadi Aras

Abstract

Di wilayah Kecamatan Rancakalong inilah Desa Pangadegan
berada. Desa Pangadegan menjadi kasus studi yang signifikan
karena tidak hanya mempertahankan tradisi tetapi juga telah
mengembangkannya menjadi tulang punggung ekonomi kreatif
yang berkelanjutan. Fenomena unik yang menjadi pembeda
Desa Pangadegan dengan desa lainnya adalah sinergi antara
dimensi spiritual-budaya dengan dimensi ekonomi-produktif
yang terwujud dalam kerajinan lisung (lesung) tradisional.
Lisung, dalam kosmologi Sunda, bukan sekadar alat
penumbuk padi. Ia adalah simbol kesuburan, kebersamaan
(gotong royong), dan penghubung antara dunia manusia
dengan Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Padi) (Wessing, 2018).
Nilai sakral ini menjadikan lisung sebagai objek ritual dalam
berbagai upacara adat yang berkaitan dengan siklus pertanian.
Produksi lisung di Pangadegan telah berlangsung secara turuntemurun,
menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra kerajinan
lisung.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##