MEMAHAMI PERAN MODAL SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MEMINIMALISIR TERJADINYA BENTUK KEKERASAN SIMBOLIK: SEBUAH STUDI KASUS DI SEKOLAH TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KABUPATEN BANDUNG

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Dadi Suhanda
Tukuh Takdir Sembada
Manda Firtza Rahman

Abstract

Pendidikan telah menjadi pilar fundamental yang tidak
hanya membentuk karakter, tetapi juga menjalankan ilmu
pengetahuan serta keterampilan. Melalui pendidikan, individu
memperoleh nilai-nilai yang dibutuhkan untuk kemajuan diri
dan kolektif hingga mampu meningkatkan kualitas hidup
masyarakat secara keseluruhan. Namun, lingkungan
pendidikan tidak selalu terbebas dari berbagai bentuk
kekerasan. Kekerasan dalam pendidikan dapat terjadi dalam
berbagai bentuk seperti perundungan, kekerasan fisik,
pelecehan seksual, bahkan simbolik (Wibowo & Chasif Ascha,
2023, hlm. 358). Dalam perspektif pendidikan, kekerasan
merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan karena esensi
dari proses pendidikan adalah upaya berkelanjutan untuk
memanusiakan manusia (Krisbiyantoro & Lestari, 2008, hlm. 10).
Meskipun pendidikan memiliki tujuan mulia untuk
memanusiakan manusia, realitas di lapangan sering kali
menunjukkan adanya kontradiksi. Ironisnya, lingkungan yang
seharusnya menjadi tempat penanaman nilai-nilai kemanusiaan
justru dapat menjadi ruang di mana nilai-nilai tersebut
terdistorsi oleh praktik-praktik terselubung. Distorsi inilah yang
kemudian memunculkan bentuk kekerasan yang lebih sulit
dideteksi, namun dampaknya tidak kalah merusak.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##