Cover Image

BEKAL MENJADI “KOREOGRAFER” Sebuah Tawaran

Subayono Subayono

Abstract


ABSTRAK

Ketika mendengar kata koreografer, yang terbersit di dalam benak kita adalah seseorang yang mempunyai daya khayal yang luar biasa, cerdas dan kreatif dalam menangkap fenomena di masyarakat, kemudian dieksplorasi menjadi karya tari yang unik dan menarik. Selain hal tersebut di atas yang tidak kalah pentingnya, seorang koreografer harus mempunyai motivasi yang tinggi tanpa kenal lelah dalam bereksplorasi, melakukan penjelajahan gerak untuk menemukan “sesuatu” sehingga menjadi sebuah karya tari yang bermakna.

Untuk menjadi seorang koreografer tidaklah mudah, selain harus cerdas tubuh, juga harus cerdas pikir. Untuk itu diperlukan ilmu-ilmu yang lainya, seperti anatomi, antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, agama, sehingga akan terasa lebih lengkap dan tajam. Seorang koreografer, harus cepat merespons berbagai isu-isu aktual, seperti keadilan, alam lingkungan, hak azasi manusia, feminisme, ekonomi, sosial politik, lintas budaya, dan melakukan kolaborasi. Semua itu adalah bentuk tantangan yang perlu dijawab, dikritisi, dan kemudian diimplementasikan dalam sebuah garapan tari. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah, sifat terbuka terhadap kritik, demi kemajuan karya. 

Kata Kunci:  Koreografer, Kreatif, Tubuh, Eksplorasi

 

 

ABSTRACT

When hearing the word Choreographer, something comes to our mind is someone who has extraordinary imagination, intelligent and creative in capturing phenomena in the society, then they are explored into unique and interesting dance works. In addition, a choreographer must have high motivation tirelessly in exploring motion to find "something" so that it becomes a meaningful dance work.

It is not easy to be a choreographer, besides having to be intelligent in body, he must also be smart to think. Thus, he requires other sciences, such as Anatomy, Anthropology, Sociology, Psychology, History, Religion, so that it will be more complete and sharp to produce a work. A choreographer must respond quickly to various actual issues such as justice, the environment, human rights, feminism, economics, social politics, cross-culture, then conduct collaboration, all of which respond to challenges that need to be answered, criticized, and then implemented in a dance work. Another thing that is not less important is being open to criticism for the sake of the progress of the work.

Keywords:  Choreographer, Creative, Body, Exploration.

 

 


Full Text:

PDF

References


Hawkins, Alma. 2003. Bergerak Menurut Kata Hati, terjemahan I. Wayan Dibya. Jakarta Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

I Wayan Dibia, F. x Widaryanto, Endo Suanda. 2006. Tari Komunal, Jakarta: Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.

Jacqueline Smith. 1985. Komposisi Tari,Sebuah Petunjuk BagiGuru. Edisi Perdana. Terjemahan Ben Suharto. Yogyakarta: Ikalasti Yogyakarta.

Jazuli M. 2001. Paradigma Seni Pertunjukan Sebuah Wacana Seni Tari.

Wayang Dan Seniman, Magelang. Yayasan Lentera Budaya.

Mugiyanto, Sal. 2004. Tradisi dan Inovasi. Jakarta: Wedatama Widyasastra.

Prabowo Santoso. 2006. “Permasalahan Penciptaan Karya Tari”, Surakarta. Seminar Jurusan Tari STSI Bandung.

Sorell Walter. 1951. Tari Dari Berbagai Pandangan Terjemahan. Agus Tasman, Basuwarno, tanpa tahun, Surakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


P-ISSN : 2355-5033 (media cetak) Lisensi Creative Commons

Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.