ANIMO TERHADAP SENI PERTUNJUKAN NUSANTARA DI BELANDA: STUDI KASUS PADA PENCAK SILAT

Authors

  • Riky Oktriyadi Program Studi Pascasarjana ISI Surakarta

Keywords:

Animo, Pencak Silat, NPSF, Kendang Penca, Ibing

Abstract

Penelitian berjudul Animo terhadap Seni Pertunjukan Nusantara di Belanda: Studi Kasus pada Pencak Silat merupakan penelitian yang mendeskripsikan bagaimana Pencak Silat dapat menjadi animo besar di Belanda. Kajian ini mendeskripsikan betapa besarnya kelompok-kelompok Pencak Silat di Belanda yang tergabung dalam satu federasi bernama Netherland Pencak Silat Federation (NPSF). Berdasarkan kacamata teoretis difusionisme, keberadaan Pencak Silat dan organisasi Pencak Silat di Belanda tidak hanya menunjukkan diplomasi budaya yang berkembang dengan baik dan berkelanjutan, melainkan juga menunjukan penyebarluasan seni dan nilai-nilai ketimuran yang menjadi daya tarik utama masyarakat Eropa, khususnya Belanda. Animo tersebut hidup dan terus berkembang lintas generasi, yang menandakan bahwa Pencak Silat sudah masuk pada ranah inkulturasi di Belanda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis melalui sudut-pandang teori difusionems, yang mana dengan pendekatan tersebut diharapkan tergambarkan kehidupan Pencak Silat di Belanda secara jelas yang hubungannya dengan sumber seni dari Indonesia.

References

Amanda. (2023). Diplomasi Kebudayaan Indonesia terhadap Prancis Melalui Europalia Arts Festival (EAF). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.

Federatie, N. P. (2024, Desember 1). npsf.nl. Retrieved from NPSF - Nederlanse Pencak Silat Federatie: https://npsf.nl/home/pencak-silat/.

Gail King, M. W. (2025, 1 8). Diffusionism and Acculturation. Retrieved from anthropology.ua.edu: https://anthropology.ua.edu/theory/diffusionism-and-acculturation/.

Gurwawan, A. (2024, Agustus 15). Sejarah Paguron Panglipur. (R. Oktriyadi, Interviewer).

Habibi, A. (2009). Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode tahun 1922-2000. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Kroeber, A. L. (1948). Antropology. New York: Harcourt. Retrieved from https://archive.org/details/anthropologyrace00kroe/page/n3/mode/2up?view=theater.

Muhammad Muhyi, P. (2024). Penguatan Olahraga Pencak SIlat sebagai Warisan Budaya Nusantara. Budaya Nusantara, 141-147.

Nugroho, A. (2009). Sejarah Pencak Silat Menuju ASEAN Beach Games. JORPRES, 178-295.

Nurullah, T. (2024, Agustus 1). Sejarah Paguron Budhi Kencana. (R. Oktriyadi, Interviewer).

Oktriyadi, R. (2023). Tepak Ciwaringinan pada Seni Pencak Silat di Kota Bandung. Paraguna, 96-105.

Oliver. (2024, November 10). Pencak Silat di Belanda. (R. Oktriyadi, Interviewer).

Rahardjo, M. (2018). Studi Fenomenologi itu Apa? In M. Rahardjo, Studi Fenomenologi itu Apa? (pp. 1-4). Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.

Sutantri, S. C. (2018). DIPLOMASI KEBUDAYAAN INDONESIA DALAM PROSES PENGUSULAN PENCAK SILAT SEBAGAI WARISAN BUDAYA TAKBENDA UNESCO. Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi, 28-47.

Tila, R. (2023). Pencak Silat Sebagai Media Bela Diri Bagi Pesindedn Era 70-an. Makalangan, 63-72.

UNESCO, K. (2020, Februari 21). UNESCO Permanent Delegation of The Republic of Indonesia. Retrieved from kwri.kemendikbud.go.id: https://kwriu.kemdikbud.go.id/berita/pencak-silat-ditetapkan-unesco-sebagai-warisan-budaya-tak-benda/#:~:text=Tradisi%20Pencak%20Silat%20mengandung%20nilai,di%20berbagai%20wilayah%20di%20Indonesia.

Winthrop, R. H. (1991). Dictionary of Concepts in Cultural Anthropology, Volume 11. New York: Bloomsbury Academic.

Downloads

Published

2025-06-30

How to Cite

Riky Oktriyadi. (2025). ANIMO TERHADAP SENI PERTUNJUKAN NUSANTARA DI BELANDA: STUDI KASUS PADA PENCAK SILAT. Jurnal Seni Makalangan, 12(1), 49–59. Retrieved from https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/makalangan/article/view/4264