Tayub Khas Kasumedangan Sebagai Ibing Kalangenan Kaum Menak dan Kaum Somah
Abstract
Tayub merupakan ibing kalangenan yang menjadi satu ikon kesenian daerah Sumedang pada tahun
1921 menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat, berubahnya pola kehidupan mempengaruhi juga selera
berkesenian sehingga keberadaan ibing tayub dalam kondisi saat ini boleh dikatakan hampir tidak kelihatan.
Ada dua jenis ibing tayub, diantaranya tayub menak dan tayub somah. Tayub menak penarinya merupakan
para bangsawan karena ada suatu keharusan salah satu syarat untuk menjadi seorang bangsawan yaitu terampil
ibing tayub, menari dalam peristiwa tayuban sebagai identitas sosial bagi menak. Sedangkan tayub balandongan
pelakunya merupakan masyarakat biasa yang meniru kebiasaan menak karena anggapannya bahwa bangsawan
atau menak merupakan panutan bagi masyarakat. Peran ronggeng dalam tayub sangat signifikan karena
merupakan roh dan magnet dalam pertunjukan ibing tayub. Metode kualitatif dengan studi dokumentasi salah
satu alternatif untuk menghasilkan data, bertujuan melestarikan kembali ibing tayub dalam penafsiran baru,
sehingga dapat hidup kembali di tengah masyarakat yang sedang mengalami proses transisi dengan masuknya
pengaruh modernisme.Target yang ingin dicapai menghadirkan kembali ibing tayub secara tekstual dan
kontekstual sehingga dapat hidup kembali di masyarakat.
Kata Kunci: Ibing kalangenan, Tayub Menak, Tayub Somah, Ronggeng.



