EKSISTENSI BAHASA SUNDA DALAM KULTUR MASYARAKAT MULTIBAHASA
Abstract
Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing terus berkembang seiring perkembangan zaman.
Perkembangan kedua bahasa ini berperangaruh terhadap eksistensi penggunaan bahasa daerah. Bahasa
Sunda sebagai salah satu bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia, tidak luput dari fenomena
ini. Eksistensi bahasa Sunda terus melambat dan mengalami pergeseran dari masa ke masa. Salah
satunya berakibat pada semakin berkurangnya kosakata bahasa Sunda yang digunakan. Fenomena ini
bisa diamati dari penggunaan bahasa Sunda oleh pemakai aktif dalam kegiatan berbahasa. Saat ini,
generasi yang aktif dalam perkembangan berbahasa adalah generasi milenial (1981–1996), generasi
Z (1997–2012), dan generasi alpha (generasi yang lahir setelah generasi Z). Penggunaan bahasa Sunda
oleh generasi mileal, dipengaruhi oleh perkembangan bahasa Indonesia yang jangkauannya sudah
sangat meluas. Pada masa ini penggunaan bahasa Indonesia sudah merambah pada berbagai aspek
kehidupan. Eksistensi bahasa Sunda semakin menyempit. Penggunaan bahasa daerah yang identik digunakan
di daerah pun sudah mulai tergantikan dengan bahasa Indonesia. Banyak anak di generasi ini
khususnya yang lahir di perkotaan, bahasa pertamanya (B-1) bukan lagi bahasa daerah, tetapi sudah
bahasa Indonesia. Untuk generasi Z dan alpha, kedua generasi ini memegang peranan sangat penting
dalam perkembangan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Pada masa ini, penggunaan bahasa daerah
sudah bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Fenomena berbahasa yang muncul di
generasi ini adalah terciptanya masyarakat yang multilingual.





