Konsep Estetika Sindhír dalam Tradisi Tayub Tuban
Abstract
Artikel ini membahas konsep estetika yang digali dari tradisi tayuban, sindhir memiliki peran
penting dalam setiap pergelaran. Kehadiran masyarakat dituntun oleh pandangan ideal tentang
sindhir, terpenuhinya hajat hidup melalui tradisi tayuban. Untuk itu penelitian difokuskan
pada penuturan emik yang memaparkan tentang konsep estetika sindhir. Pengamatan langsung
dilakukan terhadap peristiwa tradisi tayuban dimana sindhir memiliki peranan penting dalam
membangun estetika dan dinamika tayuban. Wawancara mendalam, metode mendengar
menjadi sarana utama dalam menggali konsep estetika sindhir dalam tradisi tayuban. Dari
penelitian yang dilakukan dapat dirumuskan bahwa dalam tradisi tayuban terdapat konsep
keindahan yang bersifat lahiriah, keindahan batiniah, dan keindahan illahiah. Konsep
keindahan lahiriah merupakan keindahan yang dibangun dalam tatanan indah inderawi.
Keindahan batiniah melalui kekuatan intensitas batin melalui puasa dan doa keindahan illahiah
merupakan keindahan karena karunia illahi, diberkati oleh Tuhan. Konsep wiraga, konsep ayu
kebatinan, dan konsep angsar harus dibangun oleh sindhir melalui laku.
Kata Kunci: Sindhir, Estetika, Tradisi Tayuban, Tayub Tuban
References
- Anik Juwariyah (2013) Perempuan Waranggana
- Langen Tayub Di Masyarakat
- Agraris. Lentera Jurnal Studi Perempuan Vol.
- No. 1, Juni 2013,1-16
- Armada Riyanto. (2013). menjadi Mencintai:
- berfilsafat teologis Sehari-hari.
- Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
- Ardhe Raditya, MA. (2014). Sosiologi Tubuh:
- membentang teori di ranah aplikasi.
- Kaukaba dipantara: Yogyakarta.
- Lalan Ramlan. (2002). Tayub di Keraton
- Kasepuhan Cirebon. Panggung jurnal
- seni STSI Bandung nomor XXV tahun
- 37-52
- Lalan Ramlan. (2005). Menimbang catatan
- medellkoop (1809) tentang reglement
- van de tandhak of ronggèng in holen te
- Cirebon (sekolah ronggèng di keraton
- Cirebon) Panggung jurnal seni STSI Bandung
- XXXVI tahun 2005, 40-53
- Mira Marlianti, Acep Iwan Saidi, Ahmad
- Dahlan Haldani. (2017). Pergeseran
- Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan.
- Panggung Volume 27 No 1. Maret 2017.
- -61
- Prasad Kafle, Narayan. (2011). Hermeneutic
- phenomenological research method
- Simplified. Bodhi: An Interdisciplinary
- Journal, 5, 2011, ISSN: 2091-0479, 181-
- Prawira Atmaja. (1987). Bau Sastra Jawa.
- Surabaya: Yayasan Djojo Bojo.
- Robby Hidajat. (2014). Popularity of
- Waranggana Tayub Malang Through
- Body Exploitation. Harmonia: Journal
- of Arts Research and Education, 14 (2)
- (2014), 72-77.
- Sakinah. (2018). Ini Bukan Lelucon: Body
- Shaming, Citra Tubuh, Dampak dan
- Cara Mengatasinya. Jurnal Emik,
- Volume 1 Nomor 1, Desember 2018,
- -67
- Sisca Dwi Suryani. (2014). Tayub As A Symbolic
- Interaction Medium in Sedekah Bumi
- Ritual in Pati Regensy. Harmonia:
- Journal of Arts Research and Education
- (2) (2014), 97-106
- Sunarto. (2017). Estetika dalam Konteks
- Pendidikan Seni Jurnal Seni Refleksi
- Edukatika 7 (2) (2017) p-ISSN: 2087-9385
- e-ISSN: 2528-696X, 102-110
- Suharto, Ben. (1996). Tayub pertunjukan
- dan Ritus Kesuburan. Yogyakarta:
- Masyarakat Seni Pertunjukan
- Indonesia.
- Treny Hera. (2017). Menjadi Seniman Jawa.
- Sitakara. Edisi Ketiga/2017 ISSN 2541-
- , 95-105Yogyataya. (1923). Sêrat
- Wedhataya. Surakarta: Konservatori
- Surakarta.
- Nara Sumber
- Wantika, 48 tahun sindhír Sumber Rejo Tuban;
- Rangga, 52 tahun seniman Tuban
- Kijan 54 tahun tani Perunggahan Kulon Tuban;
- Karmijan 45 tahun Karangsari Tuban;
- Purwono 58 tahun seniman. Jatiraga Tuban;
- Sumardi 55 tahun seniman Tuban;
- Sutiarsa. 53 tahun tani Bektiharjo Tuban;
- Rodo. 60 tahun tani, warung towak. Bektiharjo
- Tuban;
- Yahya. 32 tahun. sindhir, Jatiraga Tuban;
- Karpuk 60 tahun tani, Janten Ngino Tuban;
- Rondi 35 tahun guru seni budayaTuban: