Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Rekam Jejak Estetika Sufi Dalam Struktur Seni Pertunjukan Salawaik Dulang Di Minangkabau Indonesia

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mengungkap Rekam Jejak Estetika Sufi Dalam Konsep Seni Pertunjukan Salawaik Dulang Di Minangkabau. Rekam jejak (track record) adalah semua hal yang dilakukan seseorang pada di masa lalu dan dapat di jadikan teladan sampai sekarang. Semua hal dalam konteks ini bersentuhan dengan estetika sufi dan hubungannya dengan seni pertunjukan Salawaik Dulang. Dalam tradisi sufi, estetika lebih jauh dikaitkan dengan metafisika dan jalan kerohanian – spirutulitas – yang ditempuh melalui metode tasauf. Spiritualitas adalah hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan senantiasa di dekat kita. Kesadaran itu menumbuhkan dorongan bagi seluruh tindakan manusia; termasuk dalam dunia seni pertunjukan – salawaik dulang. Secara musikal, dulang sebagai media pengantur tempo, ritme dan sekaligus berfungsi sebagai musiknya. Pendendangan syair yang diiringi oleh tabuhan dulang tersebut dilakukan dua kelompok (grup) salawat dulang; keduanya bertarung secara estetik dalam pertunjukan salawaik dulang. Metode kualitatif yang didasari pengamatan terlibat digunakan dalam pengumpulan data penelitian melalui: penyelidikan (observasi), wawancara, dokumentasi, dan analisis data. Hasil; Rangkaian syair dinarasikan tukang salawaik dulang; mulai dari kotbah sampai lagu cancan merepresentasikan ajaran tarekat, karena bersifat filosofis; Pertunjukan salawat dulang telah menjadi salah satu bentuk ekspresi yang merepresentasikan ajaran tasauf bagi penganut ajaran tarekat Syatariyah di Minangkabau.

Kata Kunci: Kerajinan Eceng Gondok, Karakteristik, Konsep Pengembangan, Diversifikasi, Inovasi.

PDF DOWNLOAD (Bahasa Indonesia)

References

  1. al-Ghazali. (1993). Kimia Kebahagiaan.
  2. Terjemahan Tim Mizan. Bandung:
  3. Mizan.
  4. Blacking, Jhon, (1974). How Musical Is Man?
  5. Washinton Paperback: University of
  6. Washinton Press.
  7. Fathurahman, Oman, (2008). Tarekat Syattariyah
  8. di Minangkabau. Jakarta: Prenada Media
  9. Group.
  10. Hadi W.M., Abdul (2004). Hermeneutika,
  11. Estetika, dan Religiusitas. Yogyakarta:
  12. Penerbit Matahari.
  13. Husein, Nasr Seyyed. (1993). Spiritualitas dan
  14. Seni Islam. Bandung: Penerbit Mizan.
  15. Junaedi, Deni. (2017). Estetika: Jalinan Subjek,
  16. Objek, Dan Nilai. Yogyakarta: ArtCiv.
  17. Muhaya, Abdul. (2003). Bersufi Melalui Musik.
  18. Yogyakarta: Gama Media.
  19. Surya Jaya, Martin. (2017). Sejarah Estetika:
  20. Era Klasik Sampai Kontemporer. Jakarta:
  21. Gang Kabel.
  22. Wilma Sriwulan, Andar Indra Sastra, Firdaus,
  23. and Surherni. (2018). “The “Battle” Of
  24. Two Ideologies In The Performance Of
  25. Salawaik Dulang In Minangkabau”. Arts
  26. and Design Studies Journal No. Vol.67,
  27. – 45-55.
  28. Wilkinson, R.J. (1959). A Malay-English
  29. Dictionary (Romanise., London:
  30. Macmillan & Co., Ltd.; New York: St.
  31. Martins Perss.
  32. Asril dkk. (2019). “Performativity Of Gandang
  33. Tasa In The Mauluik Ritual In Sicincin,
  34. Pariaman, West Sumatra”. Arts and
  35. Design Studies Journal No. Vol.67,
  36. – 15-23.
  37. Heriyawati, Y., Herdiani, E., & Dimyati, I. S.
  38. (2020). Kearifan Lokal Hajat Laut Budaya
  39. Maritim Pangandaran. Panggung, 30
  40. (2), 277–288. https://doi.org/10.26742/
  41. panggung.v30i2.1169.
  42. Prakosa, R. D., & Siahaan, H. (2020). Konsep
  43. Estetika Sindhír dalam Tradisi Tayub
  44. Tuban. Panggung, 30(4), 571–587. https://
  45. doi.org/10.26742/panggung.v30i4.1372