Bondres Clekontong Mas sebagai Media Pendidikan Etis dan Estetis di Masyarakat
Abstract
Bondres digunakan sebagai sebutan tokoh-tokoh rakyat jelata, yang karakternya mempresentsikan masyarakat pada umumnya. Tokoh ini hadir sebagai simbol kehidupan masyarakat dalam pertunjukan dramatari topeng di Bali. Pemainnya dilalukan oleh pemeran yang mampu mengekspresikan berbagai karakter melalui ungkapan tata rias-busana, gerak, tembang, humor, vokal-dialog sesama Bondres maupun berkomunikasi langsung dengan penonton. Ungkapan para pemeran melalui tindakan kocak dan menghibur itu, mampu menjadi media pendidikan etis dan estetis bagi masyarakat pentontonnya. Pendidikan etis berhubungan dengan etika, diungkap melalui penilaian sifat kebenaran atau kebaikan dari tindakan sosial berdasarkan tradisi budaya yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Pendidikan estetis, mengenai penilaian terhadap keindahan, kenikmatan melalui ekspresi karya seni. Percakapan-percakapan etis dan estetis itu selalu digaungkan di setiap sajian Trio Bondres Clekontong Mas, sehingga masyarakat penonton mendapat tontonan segar yang menghibur dan mengedukasi. Dalam nilai hiburan itu dibingkai dan dibumbui lawakan yang memuat nilai-nilai moral sebagai tuntunan instrospektif dalam tatanan hidup, kehidupan dan berpenghidupan di masyarakat. Kata Kunci: Clekontong Mas, Pendidikan etis, Estetis, di masyarakatReferences
- Dibia, I Wayan. (2018). Kembara Seni I Wayan Dibia Sebuah Autobiografi, Yogyakarta: Lintang Pustaka Utama.
- Dibia, I Wayan. (2017). Arja Anyar Seni Tradisi yang Dibarukan, Bali: Cakra Press.
- Hadi, Sumandiyo. (2017). ”Keterlibatan dalam Seni Pertunjukan Sebagai Sebuah Metode Riset Penciptaan Seni, dalam Karya Cipta Seni Pertunjukan, Yogyakarta: JB Publisher.
- Haryono, Timbul. (2006). “Sejarah Seni Pertunjukan dalam Perspektif Arkeologi”, Dalam Diskusi Sejarah Seni Pertunjukan dan Pembangunan Bangsa. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
- Holt, Claire. (1967). Art in Indonesia: Continuities and Change, Alih Bahasa oleh R.M.Soedarsono, Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia. Bandung: arti.line MSPI (Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia).
- Hough, Brett. (2014). “Komunitas dan Kancah Budaya di Bali”, dalam Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
- Kompasiana, 10 Januari (2017). “Etik, Etika, Etiket Dan Etos: Pengembangan Diri”, Kompasina.com/jappy
- Liputan 6.com, Jakarta: 12/11/2021 “ulas tentang aesthetic adalah bahasa keindahan dan rasa lebih dalam”. Liputan 6.com
- Nurcahyono, Wahid. (2017). “ Transfrmasi Pertunjukan Wayang Beber Jaka Kembang Kuning Menjadi Pertunjukan Teater Panggung”, dalam Jurnal Tonil JurnalKajian Sastra, Teater Dan Sinema. Volume 14 No. 1, (83—101).
- Nurhayati, Diah Uswatun. (2011). “Gagasan-Gagasan Multikulturalisme Ki Hajar Dewantara Dalam Pendidikan Musik Tamansiswa Yogyakarta”, Yogyakarta, Disertasi Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni, Pascasarjana ISI Yogyakarta
- Putra, Fisabil Mahardika. (2018). “Sakralisasi Vs Desakralisasi, Takhayul Vs Rasionalisme Dalam Studi Sejarah Kesenian Berutuk dari Desa Trunyan Bali”, Selonding (13) , 1905-1912
- Piliang, Yasraf Amir. (2002). “Kebudayaan Indonesia Kontemporer dan Kaitannya Dengan Karya Cipta Seni”. Panggung (25), 1-13
- Putri, Kasiani. (2021). “Lebih Dekat dengan Clekontong Mas Balinese Art Production, Sebulan Bisa Pentas Hingga 40 Kali”, dalam Tribun-Bali.com
- Pramada, I Gede Yuda, I Nengah Mariasa, Trisakti (2022). “Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali”. Panggung (32), 182-188)
- Riyantika, Kirana. (2022). Cara Menyusun Naskah Lawakan Tunggal Untuk Kelas X Kurikulum Merdeka: Nakita.grid.id (download, 24 April 2023).
- Rohmadi, Muhammad. (2010), “Strategi Penciptaan Humor Dengan Pemanfaatan Aspek-Aspek Kebahasaan”, Humaniora (22), 1-14
- Sena, I Gusti Made Widya. (2022). “Tri Wisesa Yoga: Aspek Realisasi Holistik Menuju Kesadaran Sosio-Sp
- Sudewi, Ni Nyoman dan dkk. (2019). “Legong dan Kebyar Strategi Kreatif Penciptaan Tari”. Mudra (34), 285—290
- Sudarmo, Darminto M. (2015). HQ- Humor Quation Kecerdasan Homor, Jakarta: Kombat Publisher
- Tukiran, Anton. 2005. “Seni Pemuasan Atas Hasrat Jiwa:Nietzsche, Freud dan Christopher Caudwell” dalam Teks-Teks Kunci Estetika, Filsafat Seni. Yogyakarta: Galang Press