Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

The Legitimacy of Classical Dance Gagrag Ngayogyakarta

Abstract

ABSTRACT

This article of research findings is to reveal the existence of classical dance style of Yogyakarta, since the government of Sultan Hamengku Buwono I, which began in 1756 lasted up until now on era government of Sultan Hamengku Buwono X. The legitimation of classical dance is considered as "gagrag Ngayogyakarta", furthermore not only preserved in the palace, but living and growing, and may be examined by general public. The dance was first considered as a source of classical dance “gagrag Ngayogyakarta”, created by Sultan Hamengku Buwono I, ie Beksan Lawung Gagah, or Beksan Trunajaya, Wayang Wong or dance drama, and Bedaya dance. Three dances until now can be categorized as a sacred dance, to review performances that are related to traditional ceremonies, or rituals. Three types of dance later developed other types of classical dance “gagrag Ngayogyakarta”, which is categorized as a kind of secular dance for entertainment performance.

Keyword: Sultan Hamengku Buwono, classical dance “gagrag” or style of Yogyakarta, legitimacy, sacred or ritual dance, secular dance

PDF

References

  1. Dinusatomo, R.M, “Tari Golek Menak Di Daerah Yogyakarta”, dalam Makalah
  2. Sarasehan Beksan Menak, Jakarta, 18 Mei 1987.
  3. Hadi, Y. Sumandiyo, 2013, Tari Klasik Gaya Yogyakarta: Legitimasi Warisan
  4. Budaya,Yogyakarta: Lembah Manah.
  5. ___________________, 2013, “Kontinyuitas Dan Perkembangan Tari Klasik Gaya
  6. Yogyakarta Sebagai Warisan Budaya”, in Journal Mudra, Vol. 28, No. 1 Januari 2013, Denpasar: ISI Denpasar, UPT. Penerbitan
  7. Heine-Gelden, Robert von, 1982, Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja di
  8. Asia Tenggara, Translation. Deliar Noer. Jakarta: Rajawali.
  9. Kartodirdjo, Sartono, et al., 1975, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III, Jakarta: Dep. P
  10. dan K.
  11. Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja, 1952, Kepustakaan Djawa, Djakarta:
  12. Djambatan
  13. Serat Kandha and Serat Pocapan Beksan Menak, Keraton Yogyakarta:
  14. Kridhamardawa, MS. T. 56.
  15. Soedarsono, dkk, 1989, Sultan HamengkuBuwono IX Pengembang Dan Pembaharu
  16. Tari Jawa Gaya Yogyakarta, Yogyakarta: Prop. DIY.
  17. __________, 2000, Masa Gemilang dan Memudar Wayang Wong gaya
  18. Yogyakarta, Yogyakarta: TARAWANG.
  19. Soemardjan, Selo, 1986,PerubahanSosial Di Yogyakarta, Yogyakarta: GadjahMada
  20. University Press.
  21. Suryobrongto, GBPH, 1981, “Sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta”,
  22. dalam Fred Wibowo, (ed)., Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Dewan Kesenian Prop. DIY.
  23. _____________________, 1981, “Penjiwaan Dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta”
  24. dalam FredWibowo, (ed)., Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Dewan Kesenian Prop. DIY.