Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Model Pengembangan Iringan Tari Jaran Kepang

Abstract

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengkonseptualisasikan dan memformulasikan karakteristik bentuk pola ke dalam suatu model yang merepresentasikan mengenai bangunan sistem musikal gending jaranan, metode (tahapan dan strategi) pengembangannya, serta hasil karya dari pengembangan itu sendiri. Penelitian dilakukan melalui pendekatan etnografi yang berlatar kegiatan partisipatif dan kolaboratif dengan teknik pengumpulan data melalui aktivitas pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa model pengembangan sajian gending jaranan yang mengacu pada aspek penataan dan penggarapan sajian gending (musik). Model pengembangan sajian gending jaranan dapat diidentifikasi dan dijelaskan berdasarkan (1) pola dasar sajian gending jaranan, (2) metode pengembangannya, serta (3) bentuk dari hasil pengembangan tersebut. Tulisan ini didasarkan pada suatu argumen bahwa seni pertunjukan rakyat Jawa yang dahulu sering diremehkan dan dipandang sebelah mata, kini telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan budaya yang adaptif dan dinamis untuk menyesuaikan diri terhadap konteks kebutuhan serta perkembangan estetika dan selera masyarakat. Kata kunci: Jaran Kepang, Model Pengembangan Kesenian, Gending Jaranan, Seni Kerakyatan

Keywords

Gending Jaranan, Jaran Kepang, Model Pengembangan Kesenian, Seni Kerakyatan

PDF

Author Biography

Kiswanto Kiswanto

Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta

Wahyu Nugroho

Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta

Wahyu Prihatin

Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta


References

  1. Achmad, M. (2008). Tehnik Simulasi dan Permodelan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
  2. Afrianto, D. T., & Muhajir. (2020). Strategi Seni Pertunjukan dengan Segmentasi Pariwisata (Kajian Pertunjukan Tallu Cappa’ di Wisata Pulau Camba-Cambang Pangkep). Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Busines Event, 2(2), 119–126. doi: https://doi.org/10.33649/pusaka.v2i2.64
  3. Agusman, Azizurrohman, M., & Mashar. (2022). Rancang Bangun Naskah Lontar Sebagai Seni Pertunjukan Untuk Sastra Pariwisata. MABASAN, 16(1), 1–18. doi: 10.26499/mab.v16i1.476
  4. Andina, T., & Pratama, D. (2020). Saung Angklung Udjo Menduniakan Seni Pertunjukan Tradisi. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya, 2(01), 65–73. doi: 10.30998/vh.v2i01.112
  5. Anoegrajekti, N., Setyawan, I., Saputra, H. S. P., & Macaryus, S. (2015). Perempuan Seni Tradisi dan Pengembangan Model Industri Kreatif Berbasis Seni Pertunjukan. KARSA: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman, 23(1), 81–99. doi: 10.19105/karsa.v23i1.610
  6. Ardana, I. K. K., & Consentta, M. G. I. Della. (2022). Estetika Tri Mandala Dalam Komposisi Baru Pasupati: Strategi Pengembangan Wacana Keindahan dalam Karawitan. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 23(1), 15–27. doi: 10.24821/resital.v23i1.6892
  7. Dipoyono, A. (2018). Revitalisasi Seni Pertunjukan Tradisional Ketoprak di Surakarta. Lakon Jurnal Pengkajian & Penciptaan Wayang, 15(2), 107–116. doi: https://doi.org/10.33153/lakon.v15i2.3001
  8. Elina, M., Murniati, M., & Darmansyah, D. (2018). Pengemasan Seni Pertunjukan Tradisional Sebagai Daya Tarik Wisata di Istana Basa Pagaruyung. Panggung, 28(3), 304–316. doi: 10.26742/panggung.v28i3.475
  9. Emri. (2018). Penciptaan Tari Garak Nagari Perempuan Sebagai Contoh Strategi Pengembangan Seni Pertunjukan Untuk Industri Kreatif. Melayu Arts and Performance Journal, 1(2), 137–148. Retrieved from https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/MAPJ/article/view/637/pdf
  10. Fitriasari, R. P. D., Haryono, T., Simatupang, G. R. L. L., & Abdullah, I. (2012). Ritual Sebagai Media Transmisi Kreativitas Seni di Lereng Gunung Merbabu. Jurnal Kawistara, 2(1), 25–35. Retrieved from https://jurnal.ugm.ac.id/kawistara/article/view/3933/3214
  11. Gell, A. (1998). Art and Agency: An Anthropological Theory. Oxford: Clarendron Press.
  12. Habibie, & Aulia, D. N. (2020). Pengembangan Seni Pertunjukan Opera Batak Dalam Mendukung Daya Tarik Wisata Desa Sitamiang Kabupaten Samosir Syahidullah. Talenta Conference Series: Energy and Engineering (EE), 3(1), 154–161. doi: 10.32734/ee.v3i1.860
  13. Holt, C. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (Terj. RM Soedarsono) (Taufik Rahzen, Ed.). Bandung: arti.line untuk Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
  14. Hudayana, B. (2021). Pengembangan Seni-Budaya sebagai Penguatan Identitas Komunitas Kejawen dan Santri di Desa pada Era Reformasi. Satwika : Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial, 5(1), 1–17. doi: 10.22219/satwika.v5i1.15641
  15. Kiswanto, K., Fitriasari, R. P. D., & Haryono, T. (2019). Transformasi Multipel dalam Pengembangan Seni Kuda Kepang. Dance and Theatre Review, 2(1), 1–16. doi: 10.24821/dtr.v2i1.3295
  16. Kiswanto, K., Joko, T., & Dwiyanto, A. (2021). Gebrakan dan Penganekaragaman: Budaya Persaingan dalam Pertumbuhan Seni Pertunjukan Rakyat di Boyolali Jawa Tengah. Jurnal Kawistara, 11(2), 198–215. doi: 10.22146/kawistara.v11i2.65772
  17. Kühne, T. (2005). What is a Model? In J. Bezivin & R. Heckel (Eds.), Language Engineering for Model-Driven Software Development. Dagstuhl Seminar Proceedings, Volume 4101 (pp. 1–10). Schloss Dagstuhl - Leibniz-Zentrum für Informatik. doi: https://doi.org/10.4230/DagSemProc.04101.15
  18. Kuswarsantyo, K. (2014). Seni Jathilan dalam Dimensi Ruang dan Waktu. Jurnal Kajian Seni, 1(1), 48–59. doi: 10.22146/art.5875
  19. Loshchinskaya, N. V. (2022). “Artistic transformations as a creative process.” Philological Sciences. Scientific Essays of Higher Education. doi: 10.20339/phs.1-22.115
  20. Martion, M., Suzanti, P., Murni, N., & Nasution, H. (2017). Pengembangan Spirit Lokal “Bakureh” ke dalam Seni Pertunjukan. Puitika, 13(2), 151–161. doi: 10.25077/puitika.13.2.150--161.2017
  21. Muslikhah, H., & Pamungkas, J. (2022). Penggunaan Ruang Media Audio Visual pada Kegiatan Pengembangan Seni sebagai Ajang Kreatifitas Anak. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(6), 6079–6089. doi: 10.31004/obsesi.v6i6.2853
  22. Naiborhu, T., & Karina, N. (2018). Ketoprak, Seni Pertunjukan Tradisional Jawa di Sumatera Utara: Pengembangan dan Keberlanjutannya. Panggung, 28(4), 482–497. doi: 10.26742/panggung.v28i4.714
  23. Nego, F. A., & Setiaji, D. (2023). Gameland: Desain Pengembangan Pertunjukan Karawitan Berbasis Virtual Digital Online Metaverse Sebagai Upaya Pemajuan Kebudayaan. Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran Dan Kajian Tentang Bunyi, 22(2), 180–192. doi: 10.33153/keteg.v22i2.4706
  24. Nugrahaningsih, R. (2007). Transformasi Kenian Tradisional Jathilan pada Masyarakat Jawa Deli: Analisis Perubahan dalam Situasi Sosial Masyarakat Majemuk (Universitas Negeri Medan). Universitas Negeri Medan. Retrieved from http://digilib.unimed.ac.id/2550/
  25. Nurnani, D. (2020). Inovasi Kuda Lumping di Desa Tegalrejo Kabupaten Temanggung. Abdi Seni, 10(2), 65–73. doi: 10.33153/abdiseni.v10i2.3037
  26. Nurwani, N., Amal, B. K., Adisaputera, A., & Ridwan, M. (2020). The creativity of society making ritual becomes show art: Transformation of ratok bawak meaning on minangkabau society, indonesia. Creativity Studies. doi: 10.3846/cs.2020.10326
  27. Pigeaud, T. (1991). Pertunjukan Rakyat Jawa: Sumbangan bagi Ilmu Antropologi (Terjemahan; M. H. Pringgokusumo, Ed.). Surakarta: Dinas Urusan Istana Mangkunegaran Rekso Pustoko.
  28. Pradana, K. A. W., & Garwa, I. K. (2021). SAMIRATA a Musical Art Composition Creative Percusion| SAMIRATA Sebuah Karya Komposisi Seni Karawitan Tabuh Kreasi. GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan, 1(3), 145–151. doi: 10.25124/ghurnita.v1i1.355
  29. Putra, B. H. (2012). Pengembangan Model Konservasi Kesenian Lokal Sebagai Kemasan Seni Wisata Di Kabupaten Semarang. Harmonia Journal of Arts Research and Education, 12(2), 167–172. doi: https://doi.org/10.15294/harmonia.v12i2.2525
  30. Radhia, H. A. (2016). Dinamika Seni Pertunjukan Jaran Kepang di Kota Malang. Jurnal Kajian Seni, 2(2), 164–177. doi: 10.22146/jksks.12140
  31. Rantiksa, B. (2017). Upaya Masyarakat Dalam Melestarikan Kesenian Kuda Lumping Di Dusun Tegaltemu, Kelurahan Manding, Kabupaten Temanggung. E-Societas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 6(3), 1–17. Retrieved from https://journal.student.uny.ac.id/index.php/societas/article/view/9095/0
  32. Rochayanti, C., Wiendijarti, I., & Saptatiningsih, R. I. (2020). Penguatan Seni Pertunjukan Jathilan Anak di Kampung Wisata Kadipaten Kecamatan Kraton DIY. SHARE: “SHaring - Action - REflection,” 5(2), 57–62. doi: 10.9744/share.5.2.57-62
  33. Rokhim, N. (2018). Inovasi Kesenian Rakyat Kuda Lumping di Desa Gandu, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Greget, 17(1), 83–90. doi: 10.33153/grt.v17i1.2299
  34. Rustiyanti, S., Listiani, W., Sari, F. D., & Surya Peradantha, I. (2021). Ekranisasi AR PASUA PA: dari Seni Pertunjukan ke Seni Digital sebagai Upaya Pemajuan Kebudayaan. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(2), 186–196. doi: 10.31091/mudra.v36i2.1064
  35. Simatupang, L. (2013). Pagelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya (D. Pramayoza, Ed.). Yogyakarta: Jalasutra.
  36. Skorokhod, A. O., & Vorozheikin, Y. P. (2023). Transformation of Classical Art Forms in the Era of Modern Technologies. In CULTURAL AND ARTISTIC PRACTICES: WORLD AND UKRAINIAN CONTEXT (pp. 485–503). Riga, Latvia: Baltija Publishing. doi: 10.30525/978-9934-26-322-4-22
  37. Soedarsono, R. M. (2010). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  38. Soemaryatmi, & Suharji. (2015). Sosiologi Seni Pertunjukan Pedesaan (A. Rosmiati, Ed.). Surakarta: ISI Press.
  39. Subuh, & Prasetyo, Y. (2009). Iringan Kuda Lumping Ngesti Budaya. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 10(1), 10–21. doi: 10.24821/resital.v10i1.467
  40. Sugita, I. W., & Tilem Pastika, I. G. (2021). Inovasi Seni Pertunjukan Drama Gong Pada Era Digital. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(3), 342–349. doi: 10.31091/mudra.v36i3.1492
  41. Sukistono, D. (2017). Revitalisasi Wayang Golek Menak Yogyakarta dalam Dimensi Seni Pertunjukan dan Pariwisata. Panggung, 27(2), 130–143. doi: 10.26742/panggung.v27i2.255
  42. Sumarno, R. (2021). Gojeg Lesung: Pengembangan Seni Gejog Lesung Hasil Penyuluhan Seni Teater di Desa Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta. Jurnal Pengabdian Seni, 2(1), 67–76. doi: 10.24821/jps.v2i1.5738
  43. Sunarto, B. (2020). Model and Concept in the Music Paradigm of Creativity. Music Scholarship / Problemy Muzykal’noj Nauki, (3), 103–113. doi: 10.33779/2587-6341.2020.3.103-113
  44. Suneko, A. (2016). Pyang Pyung: Sebuah Komposisi Karawitan. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 17(1), 60–66. doi: https://doi.org/10.24821/resital.v17i1.1690
  45. Supanggah, R. (2007). Bothekan Karawitan II. Surakarta: ISI Press.
  46. Wikandia, R. (2016). Pelestarian dan Pengembangan Seni Ajeng Sinar Pusaka pada Penyambutan Pengantin Khas Karawang. Panggung, 26(1), 58–69. doi: 10.26742/panggung.v26i1.162
  47. Ziman FRS, J. (1995). An introduction to science studies: the philosophical and social aspects of science and technology. New York: Cambridge University Press.