Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Tokoh Bisma dalam Dramatari Amba Bisma

Abstract

ABSTRACT
Dramatari Amba Bisma is one of the works of Iyus Ruslianan and Eti Mulyati from the results of research
on the art that was performed at the Sunan Ambu Building, on October 28, 2019. The Dramatari was
sourced from the Mahabharata and Bharatayuda plays, from the Mahabharata play that sparked the meeting
of Amba and Bisma while still on October 28, 2019. girls and young men who differed in their desires
and purpose in life, while from Bharatayuda’s story told about the death of Bhishma in the Bharatayuda
war. This article aims to reveal the figure of Bhishma in Amba Bhishma’s drama, Bhishma is one of the
characters in puppets who are magic and do not want to be crowned as kings for the Hastinapur family,
he chose the way of life as a receipt rather than as a king. Because of his life choices, he was determined not
to get married. Not only does Bhishma have a very problematic way of life, but many positive qualities
deserve to be emulated. The method used is qualitative with a descriptive analysis approach, namely
through literature study, interviews, and participatory observation. The results obtained from the analysis
of Amba Bisma’s dramatari work can be seen by two positive characters in Bisma, namely; 1) sacrifices.
2) More loyal to the knight’s oath than to the family that is most dear. During the Baratayuda Bisma war
as warlord on the Kurawa side, he was killed by Srikandi’s arrow.
Keywords: Bhishma, Dramatari,Mahabharata,Bharatayuda
ABSTRAK
Dramatari Amba Bisma merupakan salah satu karya Iyus Ruslianan dan Eti Mulyati dari hasil
penelitian karya seni yang di pertunjukan di Gedung Sunan Ambu, pada tanggal 28 Oktober
2019. Dramatari tersebut bersumber dari lakon Mahabharata dan Bharatayuda, dari lakon
Mahabharata menceritkan pertemuan Amba dan Bisma saat masih gadis dan jejaka yang
berbeda keingin dan tujuan hidupnya, sedangkan dari lakon Bharatayuda menceritakan tetang
gugurnya Bisma dalam perang Bharatayuda. Artikel ini bertujuan ingin mengungkapkan
tokoh Bisma dalam dramatari Amba Bisma, yakni Bisma merupakan salah satu tokoh dalam
pewayangan yang merupakan tokoh sakti dan tidak bersedia dinobatkan sebagai raja demi
kesatuan keluarga Hastinapura, Bisma memilih jalan hidup sebagai resi ketimbang sebagai raja.
Hal ini diperkuat dengan keyakinannya, untuk tidak menikah. Bisma tidak hanya memiliki jalan
hidup yang sangat problematik, akan tetapi banyak sifat positif yang pantas untuk diteladani.
Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, yaitu melalui
studi pustaka, wawancara, dan observasi partisipasi. Hasil yang diperoleh dari analisis garapan
dramatari Amba Bisma dapat diketahui dua karakter positif yang ada pada diri Bisma yaitu; 1)
suka berkorban. 2) Lebih setia pada sumpah kesatria ketimbang dengan keluarga yang paling
disayangi. Pada perang Baratayuda Bisma sebagai panglima perang di pihak Kurawa menemui
ajalnya tertusuk panahnya Srikandi.
Kata Kunci: Tokoh Bisma, dramatari, Mahabharata, Bharatayuda

PDF DOWNLOAD

References

  1. Daftar Pustaka
  2. Alwasilah, A. Chaedar. 2003. Pokoknya
  3. Kualitatif : Dasar-dasar melakukan
  4. penelitia kualitatif. Jakarta: Pustaka
  5. Jaya.
  6. Acmad, Sriwintala. 2014. Ensi klopedia :
  7. Karakter tokoh-tokoh wayang.
  8. Menyikapi nilai-nilai adiluhung di
  9. balik karakter wayang. Yogyakarta:
  10. Araska.
  11. Dibia, I Wayan. Et.al. 2006. Tari Komunal.
  12. Buku Pelajaran Kesenian Nusantara.
  13. Jakarta: Lembaga Pendidikan Seni
  14. Nusantara.
  15. Jaeni, 2015. Metode Penelitian Seni Subjektif-
  16. Interpritif Pengkajian dan Kekaryaan
  17. Seni. Bandung : Sunan Ambu Press.
  18. Mulyon, Sri. 1989. Simbolisme dan Mistikisme,
  19. dalam wayang. Jakarta: Haji
  20. Masagung.
  21. Moelyono, M. Anton. 1991. Ed. Kamus Besar
  22. Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
  23. Pustaka.
  24. Nalan. S. Arthur. 2012. “Komunikasi Dalang
  25. dalam Konsep Mandala Wiwaha
  26. Asep Sunandar Sunarya”. Jurnal
  27. Panggung 22 (3), 293-305.
  28. Rusliana. Iyus. 2002. Wayang Wong Priangan.
  29. Kajian Mengenai Pertunjukn
  30. Dramatari Tradisional di Jawa Barat.
  31. Bandung: PT Kiblat Buku
  32. Utama.
  33. __________. 2010.”Jaya Perbangsa Lakon
  34. Ritual Ruat Sunatan Dalam
  35. Pertunjukan Wayang Wong di
  36. Kabupaten Garut”. Jurnal Panggung 20
  37. (1),
  38. -92.
  39. Sena Wangi. 2008. Ensiklopedi Wayang
  40. Indonesia. Jakarta: Sena Wangi.
  41. Sukatno, 2003. Tokoh Tokoh Ambigous Dalam
  42. Pertunjukan Wayang kulit purwa gaya
  43. Ki Nartasabda. Surakarta+: STSI Laporan
  44. Penelitian.
  45. Soedarsono. 1999. Metodologi Penelitian Seni
  46. Pertunjukan dan Seni Rupa, Bandung:
  47. Masyarakat Seni pertunjukan
  48. Indonesia.
  49. ___________ 1997. Wayang Wong Dramatari
  50. Ritual Kenegaraan di Keraton
  51. Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada
  52. Uniersity Press.
  53. Soepandi. Atik. 1988. Tetekon Padalangan
  54. Sunda. Jakarta: Balai Pustaka.
  55. Sutopo, Heribertus B. 1996. Metode Penelitian
  56. Kualitatif: Metode Penelitian untuk
  57. ilmu- ilmu Sosial dan Budaya.
  58. Surakarta;