Transformation of Function and Meaning in Lukah Gilo Dance as a Response to Social Change
Abstract
Lukah Gilo dance from Tebo Regency, Jambi, originated as a ritual to honour ancestral spirits before planting and harvest seasons. Over time, as socio-cultural dynamics shifted, the dance transformed from a sacred ritual into a secular form of artistic expression performed at public and communal events. This study describes the transformation of Lukah Gilo’s function and meaning in response to social change. The research adopts a qualitative approach using contemporary ethnography by Hammersley & Atkinson, combined with historical methods through the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography. The findings reveal three developmental phases: a ritual-based pre-independence era, an innovation phase in the early 2000s with two stylistic variations (Semabu Village and the Tebo Regency arts team), and an ongoing preservation phase. These changes are shaped by government support, artistic reinterpretation, community participation, and environmental factors. The study underscores how traditional performances can adapt to modern contexts while maintaining cultural identity.
Keywords
Lukah Gilo Dance, Cultural Transformation, Social Dynamics
References
- Daliman, A. (2012). Islamisasi dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Ombak.
- Dana, I. M., Putra, I. N. A. J., & Yudarta, I. N. (2021). Eksistensi Tari Tradisional dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Bali. Denpasar: Universitas Udayana Press.
- Dana, I. W., Surojo, Y., & Manganti, G. S. (2021). Perjalanan Tari di Indonesia Dari Masa ke Masa. Badan Penerbit ISI Yogyakarta.
- Desfiarni. (2004). Tari Lukah Gilo sebagai rekaman budaya Minangkabau pra Islam: dari magis ke seni pertunjukan sekuler. Yogyakarta: Kalika.
- Eliade, M. (1957). The sacred and the profane: The nature of religion (W. R. Trask, Trans.). Harcourt, Brace & World. (Original work published in 1956).
- Fitriana, D., Wibowo, A., & Surya, A. (2023). Peran masyarakat dalam pelestarian budaya lokal di era modern. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 12(2), 175–185.
- Gunawan, R. (2019). Revitalisasi Seni Tradisional dalam Konteks Kekinian. Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Hanafi, H. (2016). Tradisi dan Kearifan Lokal dalam Masyarakat Agraris. Jakarta: Pustaka Nusantara.
- Hanifah, L. (2021). Pengaruh Agama Buddha dalam Struktur Sosial Kerajaan Kuno di Sumatera. Jurnal Sejarah dan Peradaban Nusantara, 7(1), 22–35.
- Hammersley, M., & Atkinson, P. (2007). Ethnography: Principles in practice (3rd ed.). London: Routledge.
- Herdiani, E. (2016). Metode Sejarah Dalam Penelitian Seni Tari. Jurnal Ilmiah Seni Makalangan, 3(2), 33-45. http://dx.doi.org/10.26742/mklng.v3i2.889
- Hidayatullah, R. (2024). Seni Tradisi Indonesia dan Tantangan Masyarakat Global. Grenek: Jurnal Seni Musik, 13(1).
- Holt, C. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (R. M. Soedarsono, Trans.; 1st ed.). Bandung: Arti Line - Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
- Kayam, U., Putra, H. S. A., Poedjosoedarmo, S., Santoso, S. B., Usman, S., Suharyono, & Soetaryo. (2000). Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahan, Ketika Orang Jawa Nyeni (1st ed.). Yogyakarta: Yayasan Galang.
- Murgiyanto, S. (2004). Tradisi dan inovasi: beberapa masalah tari di Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
- Rahim, A. (2022). Kerajaan Melayu Kuno: Tinjauan Sejarah Jambi hingga Abad 13. Dikdaya: Jurnal Ilmiah, 12(1), 172–183.
- Rahmawati, L., & Rahima, N. (2019). Eksistensi tari Lukah Gilo dalam masyarakat Melayu Jambi. Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, 11(2), 245–256.
- Romadon, M. (2024). Sungai Batanghari dalam peradaban masyarakat Melayu Jambi pada masa keresidenan 1906–1942. Nazharat: Jurnal Kebudayaan, 30(1), 36–54.
- Schechner, R. (2021). Performance studies: An introduction (4th ed.). Routledge.
- Spradley, J. P. (2006). Metode etnografi (2nd ed.). Yogyakarta: Tiara Wacana.
- Stutterheim, W. F. (1935). Indian Influence in Old-Balinese Art. London: India Society.
- Sulistiawati, N. L., Cerita, I. N., & Suryatini, N. K. (2021). Eksistensi Tari Tradisional Megoak-Goakan sebagai Etnisitas Budaya di Kabupaten Buleleng. Panggung: Jurnal Seni Budaya, 31(4), 491-506. http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v31i4.1854
- Sulaeman, A., Hidayat, H. I. S., Kurnia, G., & Caturwati, E. (2014). Dinamika Pertunjukan Topeng pada Budaya Ngarot di Lelea Indramayu. Panggung, Jurnal Seni Budaya, 24(4), 388-398. http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v24i4.134
- Sumardjo, J. (2001). Seni Pertunjukan Indonesia. Jawa Barat: STSI PRESS Bandung.
- Suaida, Novalinda, S., & Erman, S. (2018). Konsep Ritual Dalam Penciptaan Karya Tari Gilo Lukah. Jurnal Laga-laga, 4(2), 129-139. http://dx.doi.org/10.26887/lg.v4i2.429
- Widianarko, B. (2022). Jejak Agama di Nusantara: Kajian Arkeologi dan Historis. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
- ZE, D. S. (2020). Sultan dan Islam: Peran Kesultanan Jambi dalam Islamisasi di Kerinci. Hadharah, 14(1).
- Primary Sources:
- 1. Wak Rifa’i, Pawang/dukun Pertunjukan Lukah Gilo Dusun Semabu dan Tim Kesenian Kabupaten Tebo.
- 2. Datuk Ba’i, Tetua Dusun Semabu.
- 3. Tim Kesenian Kabupaten Tebo.
- 4. Pemain Pertunjukan Lukah Gilo Dusun Semabu (Wak Dolah, Abang Aan, Abang Sardeni, Abang Surya dan Aan).