Makna “Eusi Kosong” dalam Usik Penca: Refleksi Moral dan Spiritualitas Melalui Reka Cipta Tari
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan makna eusi kosong dalam usik penca melalui pendekatan eksplorasi artistik. Secara filosofis, eusi kosong melambangkan keseimbangan antara kekosongan dan isi serta mengandung nilai spiritual yang mengajarkan pengendalian diri dan introspeksi. Usik Penca tidak hanya melatih bela diri, tetapi juga menjadi sarana refleksi dalam mengendalikan hawa nafsu. Melalui metode etnografi dan practice-based research, penelitian ini mengintegrasikan eksplorasi gerakan dan pengalaman kreatif dalam proses reka cipta tari. Proses kreatif ini melibatkan reinterpretasi usik penca menjadi karya tari yang menyampaikan nilai-nilai filosofis dan spiritual. Keseimbangan tradisi dan inovasi menjadi inti dalam karya ini. Tari bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi moral. Hasil akhirnya adalah sebuah karya tari yang memvisualisasikan nilai-nilai spiritual dari usik Penca, yang dirancang untuk memperkuat apresiasi terhadap penca sebagai warisan budaya tak benda serta sarana untuk memperdalam pemahaman akan pengendalian diri di tengah tantangan era globalisasi. Sekaligus menegaskan relevansi seni tradisional melalui pendekatan artistik inovatif dalam seni kontemporer.
Keywords
Euis Kosong, Makna Simbolik, Reka Cipta Tari, Usik Pencak
References
- Alfiyanto. (2024). Proses Kreatif Tari Kontemporer sebagai Media Edukasi Anak di Luar Pendidikan Formal. Jurnal Makalangan, 11(1), 28–40. https://doi.org/https://doi.org/10.26742/mklng.v11i1.3404
- Alfiyanto, Widiastutieningrum, S. R., Sarwanto, & Supriyanto, E. (2022). “Kampung Yang Hilang”: Cara Mencari Daya dan Daya Mencari Cara. Jurnal Panggung, 3(1), 213–233.
- Bogdan, R. C., & Biklen, S. K. (2007). Research for education: An introduction to theories and methods.
- Borgdoff, H. (2011). The Production of Knowledge in Artistic Research. In M. Biggs & H. Karlsson (Eds.), The Routledge Companion to Research in the Arts (pp. 44–63). Routledge.
- Candy, L. (2006). Practice-Based Research: A Guide. Creativity & Cognition Studios, University of Technology Sydney.
- Creswell, J. W. (2014). Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (2nd ed.). SAGE Publications Ltd.
- Darmawan, A. D., Adelliana, A., Cahyani, E. D., & Triana, A. N. (2023). Pencak Silat dan Nilai Sosial Dalam Masyarakat: Literature Review. PENJAGA: Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 4(1), 28–35.
- Ediyono, S., & Widodo, S. T. (2019). Memahami Makna Seni dalam Pencak Silat. Panggung, 29(3). https://doi.org/10.26742/panggung.v29i3.1014
- Guntur, G. (2016). Penelitian Artistik: Sebuah Paradigma Alternatif.
- Husen, J., & Rahmat, Z. (2022). Hubungan Kekuatan Otot Tungkai Dengan Kemampuan Tendangan Lurus Pada Atlet Silat Binaan Koni Aceh Tahun 2021. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan, 3(2).
- Irawan Irawan, S. (2020). Profil tingkat kecemasan atlet pencak silat. Satya Widya, 36(1), 1–8.
- Jannah, R. J., & Khikmah, A. N. (2018). Implementasi nilai-nilai luhur budaya pencak silat sebagai pendidikan karakter siswa di sekolah. KoPeN: Konferensi Pendidikan Nasional, 1(1), 141–146.
- Kholis, M. N. (2016). Aplikasi nilai-nilai luhur pencak silat sarana membentuk moralitas bangsa. Jurnal Sportif, 2(2).
- Kumaidah, E. (2012). Penguatan eksistensi bangsa melalui seni bela diri tradisional pencak silat. Humanika, 16(9).
- Nimkulrat, N. (2011). Problems of Practice-based Doctorates in Art and Design: a Viewpoint from Finland. In C. Costley & T. Fell (Eds.), 2nd International Conference on Professional Doctorates (pp. 58–61). Middlesex University, London and UK Council for Graduate Education, Lichfield, Staffordshire.
- Rachmadiyanti, F. (2020). Komunikasi Instruksional Guru Kepada Anak Berkebutuhan Khusus Di SLB BC-YPLAB Wartawan Bandung. Universitas Komputer Indonesia.
- Ruswinarsih, S., Apriati, Y., & Malihah, E. (2023). Penguatan Karakter Melalui Seni Bela Diri Pencak Silat Kuntau Pada Masyarakat Kalimantan Selatan, Indonesia. PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi), 5(01), 50. https://doi.org/10.20527/pn.v5i01.7571
- Santika, I. M. P., Astra, I. K. B., & Suwiwa, I. G. (2022). Studi Etnografi Serta Nilai-Nilai Pendidikan Karakter pada Perguruan Pencak Silat Putra Garuda di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Indonesian Journal of Sport & Tourism, 4(2), 51–65. https://doi.org/10.23887/ijst.v4i2.49050
- Saryanto, M. M. A. S. (2018). Pencak silat sebagai hasil budaya indonesia yang mendunia. Prosiding Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra Indonesia (SENASBASA), 2(2).
- Setiawan, I. (2011). Eksistensi Seni Pencak Silat di Kabupaten Purwakarta (kajian tentang strategi adaptasi). Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research, 3(3), 424–441.
- Sufianto, A., Lim, S., & Khosasih, A. (2015). Akulturasi Unsur Kungfu Tiongkok dalam Pencak Silat Betawi. Lingua Cultura, 9(1), 1–6.
- Sugiarta, N., & Lestari, A. (2023). Interaksi Simbolik Estetika Bentuk Kesundaan Melalui Usik Sanyiru Padanan Sebagai Bentuk Revitalisasi Tradisi Pencak Silat. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan), 7(1), 341–357.
- Sumardjo, J. (2014). Estetika Paradoks. Kelir.
- Usarov, J. E., & Eshnaev, N. J. (2020). Defects in Scientific Research of the Problems of Spiritual and Moral Crisis and Its Solution. JournalNX, 883–886.
- Wardani, L. K. (2010). Fungsi, makna dan simbol (sebuah kajian teoritik).